Titik Temu dan Maknanya ~
Hay, setelah sekian lama tak menulis disini. Akhirnya hari ini saya menyisihkan waktu yang tadinya ingin dipakai untuk pulang lebih awal diganti dengan bercerita disini. Ya, ketika saya menuliskan ini. Saya masih berada di tempat kerja. Di sisi kanan saya, masih ada dua orang kawan yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Dan di depan saya, juga masih ada dua orang kawan penulis lain yang sedang hanyut dalam pencarian ide untuk tulisan seminggu ke depan.
Sebenarnya banyak hal yang ingin kembali saya ceritakan, bahkan kemarin sudah ada beberapa poin yang sudah saya tulis di note ponsel. Tapi, tadi sewaktu saya mengklik new tab untuk halaman ini. Agaknya ada beberapa yang poin yang saya pikir tak baik untuk diceritakan, meski sebenarnya itu adalah berita kesukaan. Hihi, hidup dan tulisan seringkali memang digambarkan seperti serupa. Padahal kenyataannya, apa yang tertulis tak selalu yang terjadi dalam hidup kita. Begitupun sebaliknya, kadang-kadang yang apa yang disembunyikan justru jadi sesuatu yang paling membahagiakan kita. Eh, saya harap kamu paham ya. Hehe, meski saya sendiri tidak mengerti makna dari kalimat yang barusan saya tuliskan.
Beberapa waktu belakang, saya banyak bertemu dengan orang-orang baru. Mulai dari kawan-kawan jurnalis di beberapa acara liputan, beberapa lelaki yang tadinya doyan nge-DM di Instagram, hingga 2 orang perempuan lain yang saya kenal tanpa unsur kesengajaan. Untuk kesekian kalinya, saya kembali percaya bahwa, setiap pertemuan selalu datang dengan makna dibelakangnya.
Saya banyak belajar dari orang-orang baru di acara liputan yang kini sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Mulai belajar bahwa tak semua lelaki yang doyan nge-DM itu mata keranjang, sampai orang-orang lain yang juga hadir untuk memberi pelajaran. Sebagai sosok Introvert yang kadang-kadang Ekstrovert, saya susah sekali membuka obrolan dengan orang baru. Tapi jika sudah saling tahu, berlama-lama mendengar cerita bisa saya lakoni dengan seseorang yang memang punya taste serupa.
Dulu sewaktu saya masih SMK, saya kerap bingung tentang cerita beberapa teman yang katanya berkenalan dengan seseorang melalui media sosial. Melakukan pendekatan, untuk kemudian mendeklarasikan hubungan, lalu update status rindu-rindu padahal belum saling kenal. Seolah sedang terkena KARMA BURUK bak acara yang dibawakan Roy Kiyosi. Saat ini saya justru merasakan itu semua.
Bedanya, ia bukanlah lelaki yang bilang cinta pada saya lewat sosial media. Bukan pula sosok lelaki yang memang terlihat sedang ingin mencari pacar dengan berbagai macam rayuan gombal. Saya pikir, seseorang ini datang dengan magnet yang berbeda. Membuat saya merasa penasaran dan selalu ingin tahu tentang apa saja yang ingin ia bagikan dengan saya.
Selasa kemarin, di momen meeting content mingguan yang rutin kami adakan di kantor. Saya bercerita pada teman-teman dan Bos saya. Tentang seseorang lelaki yang pernah mendekati dan mengirimi saya Puisi dari Opa Sapardi yang kemudian dilabeli karyanya sendiri. Padahal saya sudah lebih dulu membaca puisi tersebut sebelum berkenalan dengan dia. Ini lucu memang, kadang kala kita merasa butuh menjadi orang lain yang disukai sosok yang mungkin kita taksir. Berharap, si dia yang kita suka akan membuka hatinya. Padahal, ini sama saja memperlihatkan kekalahan diri sendiri.
Saya pikir, untuk menyentuh ulu hati seseorang. Kita tak perlu berubah haluan dari apa yang selama ini kita jalani dan percayai. Berusaha menjadi orang yang dia sukai, justru akan menunjukkan bahwa kita tak bisa apa-apa. Bisanya cuma meniru saja. Jauh lebih baik, jika kita selalu bersikap untuk terus menjadi diri sendiri. Sembari memperkenalkan ia apa yang sesungguhnya kita kuasai. Jika memang sedang beruntung, bisa jadi ia juga akan melakukan hal serupa. Mengajak kita masuk ke dalam dunianya. Bukankah ini jauh lebih baik? sebab secara tidak langsung ia telah menambah pengetahuan pada diri kita. Pun begitu sebaliknya, kita juga telah menyuntikkan beberapa ilmu pada dirinya.
Bicara soal ketertarikan dan ilmu baru yang masih asing itu, hal serupa juga sedang saya rasakan sekarang. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat saya untuk terus belajar dari orang lain yang tadi saya bicarakan diatas. Padahal, obrolan yang selalu ia cerita sangat jauh dari circle kemampuan yang saya miliki sekarang.
Barangkali benar, tampang dan penampilan tak selalu jadi pemicu ketertarikan. Tapi wawasan dan pengetahuan selalu membuat penasaran.
Ditulis dengan Kebingunan yang
tak jelas arahnya ~
Jakarta, 03 Agustus 2018


Komentar
Posting Komentar