Memilah-milah Keinginan


Ibu saya sedang ada di Jakarta, sudah hampir sebulan ia jadi sosok yang akan saya temui di rumah tiga petak yang saya tinggali di sini. Saya sering membayangkan, bahwa akan sampai di rumah dengan keadaan yang lelah. Beringsuk masuk ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka atau mandi jika suhu udara tak terlalu menusuk tulang. Tapi, kali ini beda. Sebab masih berdiri di pintu saja, ia sudah siap dengan pertanyaan yang selalu jadi pelepas penat sehabis bertarung di jalanan macet dari Kemang menuju Cengkareng.

"Sudah pulang, capek ya?" tanyanya dengan suara yang justru jadi penghilang capek yang sedari tadi mendera.

Seperti biasa, di akhir pekan saya sering mendapat kegiatan diluar jadwal. Pergi bekerja untuk hal-hal yang tak bisa dielakkan, atau bertemu teman untuk kepentingan yang memang harus diselesaikan.

"Pergi terus kalau sabtu" Katanya membalas kalimat pamit yang saya sampaikan, ketika hendak menghadiri pernikahan seorang teman.

"Iya, kawanku nikah" Saya menjawab dengan singkat, karena sejujurnya saya tak pintar untuk membuka obrolan dengan beliau. Hehe

Pada malam-malam lain, ketika saya sudah merebahkan badan di kasur tidur yang kami tempati bertiga dengan adik saya. Beliau bilang, jika perempuan baiknya menikah pada usia sebelum 25 Tahun saja.

Tanpa harus saya jelaskan, kalian pastilah paham jika tujuan dari ucapan beliau adalah permintaan. Tapi lagi-lagi saya hanya bisa menjawab dengan pelan.

"Setiap orang punya pilihan"

Jujur saya bukanlah perempuan yang anti pernikahan, bukan pula tak suka pada laki-laki lagi, tapi bayang-bayang pernikahan masih jadi sesuatu yang tak terpikirkan. Saya senang, melihat kawan yang sudah berfoto dan bersanding dengan laki-laki yang menjadi suaminya. Pun berita bahagia dari pertunangan seorang teman yang baru-baru ini membuat saya merasa haru dan meneteskan air mata.

Tapi, buru-buru melakoni hal serupa, bukanlah sesuatu yang saya butuhkan sekarang. Kecuali, jika Tuhan memang sudah menakdirkan. Sebab biar bagaimanapun saya ini hanyalah manusia yang biisa berencana. Semua keputusan tetap ada di tangan-Nya.

Lebih dari itu, tahun ini memang jadi babak yang cukup "mengaduk-aduk" perasaan. Saya senang atas apa yang saja kerjakan sekarang, tapi juga kewalahan untuk mengatur waktu untuk study yang tadinya saja jalankan. Lebih berat lagi, semester lalu saya mengambil cuti dan akan terancam masih akan cuti di semester ini.

Tak tahu kenapa, ada banyak keresahan yang sedang memenuhi kepala. Tapi selalu sulit untuk menguraikannya. Sebab saya adalah sosok yang sulit terbuka perihal masalah, biarlah saya sendiri yang akan mencari cara untuk menyelesaikannya.

Perkara, mencari pacar atau teman yang mau sama-sama berjuang yang ibu saya sarankan. Sebenarnya, saya hanya belum pernah bercerita saja. Ya, saya bukan sosok yang terbuka perihal pasangan. Bahkan setelah puturs dari mantan pacar 3 tahun lalu, beberapa kali saya sudah pernah mengikat diri dengan 3 atau 4 lelaki. Tapi ya begitu, ibu saya tak pernah tahu. Karena saya memang tak pernah membagikan kisah cinta itu pada dirinya.

Bukan apa-apa, seiring dengan bertambahnya usia, saya pikir ada beberapa hal yang memang tak perlu selalu digembor-gemborkan. Barangkali saya memang sudah tahu, jika hubungan-hubungan itu tak akan berlangsung lama. Haha, jadi untuk apa cerita?

"Tetap saja perlu, kalau lu kenapa-napa kan keluarga bisa tahu" kata seorang teman, ketika saya bilang bahwa saya berpacaran dengan seorang lelaki yang berseberangan keyakinan diawal tahun lalu. Tenang, meski jelek-jelek begini saya cukup selektif untuk memilih teman kencan.

Bukan berarti ingin menaruh standart terlalu tinggi, tapi semua teman lelaki yang dekat dengan saya selalu saya pastikan bahwa mereka adalah orang baik-baik. Ya, setidaknya tak akan berbuat macam-macam pada saya.

Keputusan untuk mengkonsumsi semua cerita hubungan dengan diri sendiri dan pasangan, jadi sesuatu yang 2 tahun belakangan memang saya jalankan. Bukan sedang ingin sok misterius, tapi saya pikir ini memberi efek yang cukup baik. Saya tak terdiktraksi oleh kalimat-kalimat yang katanya hanya sebuah saran, padahal imbasnya kadang jadi beban.

Misalnya, saya akan posting foto seorang lelaki. Beberapa kawan yang tahu selama ini saya sendiri, pastilah akan bereaksi. Ya, setidaknya ikut nimbrung di kolom komentar atau terang-terangan mengirimi saya pesan.

"Itu cowok baru lu noy? kok gini sih, kok gitu sih, dan bla-bla-bla lainnya

Bukan, bukan sedang ingin berprasangka buruk pada kawan sendiri, tapi situasi ini memang pernah saya alami. Haha, sebenarnya saya tak peduli jika teman atau siapa saya akan berkata tak setuju dengan pilihan atau apapun yang saya lakukan. Hanya saja, saya tak mau melukai hati seseorang. Tak enak kan, kalau misalnya si dia tiba-tiba lihat ada komentar yang tak baik tentang dirinya di akun sosial media milik saya.

Tak merasa perlu buru-buru, tidak pula merasa akan ketinggalan. Saya pikir semua orang berhak menentukan tentang kapan ia akan menentukan pilhan. Sejalan dengan itu, saya mungkin masih ingin fokus pada diri sendiri. Membenahi kelakukan-kelakuan buruk yang masih ada dalam diri, hingga menjalani hal lain yang lebih berarti.

Meski kata ibu saya, saya tak akan lagi berminat untuk pacaran di usia lebih dari 25 tahun. Saya tahu, beliau memang ibu saya. Maka demi menghormatinya, saya memang tak menjawab apa-apa. Tapi, bukan berarti pula semua pandangannya harus saya setujui kan?

Setiap orang, khususnya perempuan baiknya punya pendirian. Melakukan sesuatu atas dasar keinginan dan harapan. Bukan karena kata orangtua atau dorongan teman, bukan pula karena paksaan atau tekanan. Daripada membebani diri dengan stigma yang berlaku pada paham yang dipercayai oleh orang lain, lebih baik memilih-milah apa yang akan kau percayai dan ingini.

Believe me, you can get more girls!



Komentar

Postingan Populer