Bicara Batak #1 : "Ke BATAK-an Yang Perlu Dipertanyakan?"
Mungkin hampir semua orang yang mendengar kata BATAK akan tersenyum nyengir lalu berkata “Horas Bah” Meski mereka juga belum tentu tau apa arti dari kata Horas dan Bah itu. Tapi setidaknya aku akan tersenyum manis dan menjawab Horas untuk atau kepada siapa saja yang pernah berkata seperti itu tiap kali aku berkata jika aku adalah orang batak. Tinggal diibukota untuk 3 tahun terahir memberiku banyak gambaran tentang berbagai pandangan-pandangan baru serta jenis jenis manusia berdasarkan kepeduliannya tentang suku dan budaya asalnya.
Aku menemukan banyak sikap dan perilaku dari mereka yang hadir dan ada disekitarku Teman Kampus, teman kantor, teman komunitas atau bahkan mas-mas yang kebetulan ketemu di Busway dan mba-mba yang tiba-tiba ngajak bisnis pas kenalan di stasiun kereta eh ternyata MLM
balik ke topik, karena aku memang berasal dari suku batak dengan sedikit campuran Sunda aku selalu focus memerhatikan mereka yang memang berasal dari suku ku sendiri.
Mulai dari keramah tamahan mereka ketika tau ada orang yang bersuku sama dengannya lalu kemudian bersalaman, atau bahkan berpelukan bertukar info marga dan nomor urut marga wah ternyata runtun marganya masih terikat dan lagi-lagi mereka berpelukan (Ah Indahnya kataku dalam hati) atau kebaikan seorang supir Kopaja yang terkenal ugal-ugalan dan sering kali membuat kita lebih dekat dengan Tuhan tiap kali menaiki kopaja (Berdoa semoga selamat sampai Tujuan) beliau mendengarkan aku yang sedang bercerita dengan mamak dikampung dari telpon kebetulan aku memang duduk didepan samping supir lalu dengan cepat dia tanya “ai boru aha do ho ?” (Baca : boru apa kau ?) kujawab dengan menjelaskan marga eh ternyata beliau juga bermarga dengan Runtun yang sama denganku (aku : Sitinjak, beliau = Gultom, yang berarti masih sama-sama anak dari raja sonang dalam marga batak : Pandiangan,Samosir,Pakpahan,Gultom,Harianja,Sitinjak). Lalu dengan cepat dia berteriak kebelakang kearah kondekturnya “Wehh paulak ongkosni boru kon nakkin” (baca : Weh kembalikan ongkos dari putriku ini tadi) dan hari itu ongkos pun gratis HA-HA-HA.
Hal ini hanyalah dua contoh baik dari Batak yang selalu aku temukan disini, ditempat yang mungkin setiap sudutnya ada orang batak, hal lain yang menjadi perhatianku adalah orang-orang atau anak muda yang harusnya menunjukkan jati diri sebagai orang batak tapi malah berdalih meninggalkan budaya dengan alasan tak ingin terlihat kampungan dengan berbicara menggunakan Bahasa batak,
Cerita sabtu sore dikantin kampus, aku sudah lama memerhatikan anak ini, orang batak yang memang sudah lahir dan besar di ibukota tapi mustahil jika orang tuanya juga tak bisa Bahasa batak karena katanya orangtuanya masih lahir dan besar di Ronggur ni huta (Salah satu nama Desa didaerah samosir) sebenarnya aku sudah tau jika dia memang orang batak, tapi entah kenapa kemarin sore secara tidak sengaja aku duduk semeja dengan dia dan 2 orang teman lelakinya (anak yang kumaksud juga lelaki) tidak lama berselang dan aku masih berusaha menghabiska makanan yang ada dihadapanku, anak itu pamit untuk pulang lebih dulu kepada Temannya itu dengan alasan masih Ingin ke Gereja nanti malam dalam hati wah rajin juga nih anak kataku.
Dengan cepat lelaki yang duduk disampinganya nyeletuk “Noh noni lu ajakin sekalian ke gereja” hhmm yah aku emang jarang kegereja, untuk memperpanjang obrolan aku coba bertanya kepadanya “Emang kau gereja dimana ?’’ “Di GPDI” – “Oh “
Lelaki yang satu yang juga cukup dekat denganku menimpali obrolan kami “Emang lu gereja apa noy? HKBP Yee?” dengan cepat anak batak tadi ikut nyamber “HKBP Mah gaenak, ibadahnya pake Bahasa batak kaga ngarti gue” aku masih diem meneruskan makan lalu meletakkan sendok dan menenguk teh manis hangat dihadapanku “Ibadah pake Bahasa apapun sama aja, kalau niatnya emang mau ibadah tapi kalau emang niat lu beda yang mungkin lain cerita kataku” lalu meneruskan makan lagi. Mungkin dia tersinggung dengan ucapanku, mendadak diam karena teman lelakinya yang tadi bertanya aku gereja diamana tertawa dan menimpalinya “Noh dengerin meski jarang gereja otak nih anak masih ada benernya, haha” aku hanya menyunggingkan senyum dan menatap lelaki yang barusan ngomong dan geleng-geleng kepala. Merasa dipojokkan Lelaki batak itu kembali berujar “Omongan tanpa tindakan sama aja nol” *Byaarrr mendadak hatiku panas, entah kenapa aku ingin sekali menjawabi dengan kata-kata yang mungkin lebih menyinggung dari yang barusan dia ucapkan. Aku memang tidak terlalu rajin ke gereja bahkan dalam sebulan mungkin hanya 1 atau 2 kali, karena bagiku pribadi untuk taat dan patuh terhadap perintah Tuhanmu tak selalu ditunjukkan dengan pergi ke gereja. Karena aku selalu percaya kelak yang akan menyelamatkanmu Di masa penghakiman saat Tuhan akan datang untuk kedua kalinya ke dunia hanyalah Imanmu bukan Jumlah Absen mu digereja. Kenapa ? Kurang sefaham denganku ? silahkan beri komentar sesukamu kawan.
Toh tiap manusia punya pandangan hidup yang berbeda-beda bukan ? Tapi percayalah aku tak menjelaskan ini semua kepada lelaki batak tadi, Aku hanya kemabali bertanya “Terus kenapa alasan lu bilang ibadah pake Bahasa Batak itu gaenak apa dong? Kan elu batak ? bukannya wajar kalau lu ibadah pake Bahasa elu sendiri ? Doi aja (sambil nunjuk teman yang disampingnya) orang Betawi tapi ibadah dan berdoa pake Bahasa Arab, yang penting niat”
Dia masih terlihat cengegesan, sambiul tiba-tiba membuka telpon genggam ditanagnnya lalu kembali berujar “Ya wajarlah gue ga suka, gimana sih rasanya ibadah tapi kita ga ngerti sama sekali yang dimongin sama pengkhotbahnya.
Lagian ini kan Jakarta bukan dimedan atau disamosir ya harusnya ya pake Bahasa Indonesia aja lah biar ga ribet ” Lah tiba-tiba aku masih bingung tak kirain nih orang tadi megangin hp udah mau pergi aja, kan katanya mau kegereja ? tapi kok masih ngeyahutin pembahasan sih ?
“ Wey bro, Hanya karena lu ga ngerti bahasa batak, terus lu ngeluarin statement sampai segitunya ? haha Bener sih katalu Ini Jakarta, tapi bukan berate tinggal di ibukota kita harus lupain budaya kan ? ini sih kata gue ya gatau deh kata lu gimana ? lagian yang gue tau ga setiap minggu kok di HKBP mereka ibadah dan pakai Bahasa batak, dan kalaupun bertepatan minggu itu ibadahnya bahasa batak pasti pengkhotbahnya pun selipin bahasa Indonesia disetiap pembahasan Ayat yang dia ucapkan.
Doi juga faham kali ga semua orang batak yang tinggal dikota fasih berbahasa batak. Eh satu lagi kata lu ini bukan Medan atau samosir jadi harusnya pake Bahasa Indonesia aja, kalau begitu yang bener ya harus Pake Bahasa Betawi dong yee Kan ini Jakarte” Kataku sambil tertawa, diikuti dua orang lelaki yang sedari tadi mengikuti dan memerhatikan obrolan kami. Lalu dengan muka masam dia berdiri mengambil tasnya dan pergi sambil berkata “Ribet amat lu jadi Cewek, Sok pinter !” aku hanya diam melanjutkan makan nasi goreng yang tadi sempat aku diamkan.
Aku tak ingin mendadak menjadi guru baginya, untuk menyalahkan pemahamannya tapi hanya aku ingin meluruskan pemahamannya, tapi sepertinya lelaki ini tipikal orang yang cepat emosi sama sepertiku, buktinya dia malah [ergi melongos tanpa membuat bantahan yang akan membenarkan dia lagi (Eh gadeng kan dia mau kegereja Ya positif thinking aja yeekan ).
Sebenernya tidak ada yang salah jika ada orang yang tiba-tiba bilang tak suka masuk ke gereja yang tata ibadahnya menggunakan Bahasa batak, ya itu hak mereka. Yang aku sangat sayangkan adalah alasan yang dia pakai untuk tidak suka ibadah di (Ex:HKBP) karena tidak tau Bahasa batak nah sedangkan dia adalah orang batak dengan bapak dan ibu yang juga batak ? Lah koe Ono op otoh Le? (Eh salah maksdunya Kekmananya kau ini cok?)
Aku hanya sedikit prihatin melihat tingkat kepedulian anak-anak muda batak dizaman ini yang seakan hampir hilang, moso Bahasa suku sendiri ga bisa? Tapi ngomong pake Bahasanya Justin Biebeer lancar tenan -____-
Ini masih salah satu contoh sederhana yang menunjukkan bahwa sama budaya sendiri ga suka, ga peduli atau bahkan gamau ngakau kalau doi batak ? yawes orapopo kok cok, Ha-Ha-Ha
Contoh lain yang sering aku temui adalah Rasa malu berlebihan jika dia menggunakan Bahasa Batak di tempat Umum. Aku punya teman Lama semasa SMP yang ternyata juga kebetulan sudah bekerja di Jakarta dalam 2 tahun terkahir,bedanya denganku hanya aku lebih lama 1 tahun darinya.
Suatu saat kami membuat janji untuk menggelar temu disalah satu Halte busway saja biar tak susah menemukannya kataku sesuai perjanjian. Salah satu hal yang mungkin jadi kelebihanku adalah bisa menempatkan diri dalam situasi apapun, dan kekurangannku adalah sulit untuk beradaptasi dengan orang baru. (Jadi kalian bisa bedakan ya orang dengan sistuasi) aku bisa menghilangkan sebentar logat batakku jika berbicara dengan teman-teman yang memang bukan batak dan asli orang Jakarta meski sesekali masih suka kelepasan dibeberapa kata yang bisa terlontarkan “kekmana, iyakan wee, apapulak, dan semua kata yang mneggunakan kata “E” aku sungguh sangat sulit mengucapkannya dengan intonasi sesuai EYD haha, karena memang orang batak terkenal dengan Konotasi untuk penekanan Kata “E” yang lebih keras dari suku-suku lainnya.
Singkat cerita kami sudah bertemu dan seperti bias ajika sedang bepergian dan ketemu dengan orang atau teman yang sama-sama dari kampong aku akan menggunakan cara bicara selanyaknya dikampung haha, sejak awal aku selalu menggunakan Bahasa batak, dan sesekali berbahasa Indonesia tapi masih dengan Logat batak yang kental, lalu tersadar ternyata ini cewek datu dari tadi menjawab dan berbicara denganku masih dengan Bahasa gaul Jakarta dengan logat yang terkesan dibuat-buat,
Mungkin sebagian dari orang yang jika dalam posisi ku sekarang akan diam tak mempermasalahkannya tapi beda denganku aku sungguuh tak bisa menahan rasa tak peduliku, apapun yang sekiranya aku tak suka dengan cepat pasti langsung aku utarakan (tapi tetap dalam konteks yang menurutku memang perlu aku utarakan). Dengan cepat aku coba bertanya “Asing ho, nga marbahasa batak iba ho lalap marbahasa Indonesia? Hahaha “ ( Kamu ini aneh, sedari tadi aku sudah pakai Bahasa batak kenapa kamu pakai Bahasa Indonesia terus?) Lalu dengan cepat dia menjawab “Maila iba aha,(Aku malu) diliatin orang kita, lagian Gue udah 2 tahun terakhir dijakarta jadi kalau mau bicara pake Bahasa batak rada gimana gitu, kayanya udah janggal”
Aku Cuma tersenyum sembari menaikkan alis dan dalam hati berkata “Taii sapiii” itu adalah kebohongan terbodoh yang kudengar sepanjang sejarah, lahir dan besar di kampung batak membuat kita paham dan fasih menggunakan Bahasa daerah meski tak pernah ikut kelas bimbingan. Itu sudah mendarah daging, logatnya sudah tertanam dalam setiap inci lidah kita, Jangan melucu kawan!
Kau tau janggal kan ? Janggal itu Bahasa batak Woy !!!!
Ah tahapapa kau nih edak



udah janggal kali aku bahasa batak xD *Bunuhh aja kakk* :3
BalasHapuspengennya dek, sayangnya ngebunuh itu dosa haha
Hapusjanggal kurasa kak.. jadi kau pake bahasa indonesia lah. 😜😜
BalasHapus