Bicara Batak #2 : "Kadar Kecocokan Pasangan hidup di Mata Orang Batak"



Sebelum kalian mulai membaca isi tulisan ini, izin kan saya terlebih dahulu memnita maaf jika sekiranya nanti isi dari tulisan ini akan memberikan makna yang berbeda beda disetiap bahasanya, tulisan ini hanyalah bentuk isi curahan hati yang ingin saya sampaikan.
Bukan bermaksud mendukung atau menyudutkan pihak manapun. isinya pun murni pendapat saya pribadi jika mungkin kalian sependapat saya ucapkan terimakasih dan jikapun kalian tidak setuju dengan pendapat saya tetap saya ucapkan terimakasih. Sebenarnya unek-unek ini sudah sejak dua minggu lalu ingin saya tuliskan, namun jadwal kuliah dan kerja yang lumayan padat di dua minggu terakhir ini membuat saya belum bisa merampungkan tulisan ini dengan cepat. 

Lahir dan besar di keluarga batak adalah kebanggan tersendiri dalam hidup saya meski kadang ada hal-hal yang saya tidak suka dari batak, tapi selalu ditutup oleh beribu alasan baik yang saya dapat menjadi orang batak. apakah kalian faham dengan maksud kalimat saya barusan ? kalau tidak ya sama saya juga tidak faham sebenarnya wkwkw. Kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa pandangan-pandangan orang batak tentang pasangan hidup yang baik,cocok,sesuai,pas dan sepadan ((ahelahribetamatyakk)). 
Awal bulan kemarin saya pulang kerumah setelah setahun penuh tidak pulang, dan kalian tau apa alasan paling kuat untuk [ulang kerumah ? Jika kita mendengar kabar jika orangtua kita sedang sakit, Ya bulan lalu mama saya memang jatuh sakit lagi, setelah 2 tahun lalu dia terkena stroke ringan beliau memang jadi semakin sering jatuh sakit yang jelas berita itu akan membuat semua anak-anaknya tidak bisa tenang, termaksud saya, ya iyalah saya kan anaknya juga :D HA-HA-HA. Nah selama berada dikampung ada beberapa hal yang sekarang saya tidak setuju dengan beberapa pandangan-pandangan orang batak untuk masalah Pacar atau pasangan hidup untuk anak-anaknya, hal yang sudah sejak lama saya perhatikan dan untuk ini saya tidak sependapat dengan beberapa orang yang coba memberikan pendapat tiap kali saya diajak bercerita atau sekedar ngalur-ngidul biasa masalah pacar dan teman hidup (baca = jodoh) yang COCOK dan pantas ?????


 Hal Paling utama yang mesti diperhatikan adalah dia yang akan jadi Teman hidupmu harus berasal dari suku yang sama ? 
Saya tak begitu setuju dengan kalimat yang sering jadi faktor utama yang menjadi syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin mencari pasangan hidup hahaha. Lalu bagaimana dengan saya yang sedari dulu bercita-cita ingin menjadi menantu orang jawa Hehe, lalu apakah lelaki atau wanita diluar batak langsung bisa dicap bukan jodoh yang baik ? ya tentu tidak seperti itu. Asal usul suku tidaklah menentukan baik-buruknya seseorang, karena sesungguhnya tingkat baik buruknya seseorang bisa kita liat dari pola pikir dan sikapnya bertindak bukan dari suku apa ia berasal. 

Bukan begitu pemirsah ? Ha-Ha-Ha dan bersamaan dengan kalimat yang saya tuliskan barusan kemarin Namboru (bibi) saya yang mendengarnya pun langsung Merepet (Ngomel) panjang lebar. Dia beranggapan jika orang diluar batak akan membawa mu pergi ke budayanya apalagi jika yang batak itu adalah wanita, kamu tidak akan dituntun kedalam peraturan adat dan tata cara adat lainya, dengan cepat saya menjawab "Lah dari kecil bapak kan udah ngajarin kita tentang adat istiadat, bahkan silsilah dari 7 garis keturuan paling atas ya kalaupun nanti ada sesuatu yang saya tidak faham kan tinggal tanya bapak" dijawab dengan tapi biar bagaimana pun Lelaki batak sudah jelas lebih baik dari yang lain. Okee saya menyerah untuk menentangnya lagi (takut dosa uey hehe)

Mungkin pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa jodoh yang terbaik untuk orang batak ya juga orang batak adalah benar dan saya tidak menyalahkan pandangan ini, karena nilai positifnya jika kamu menikah dengan orang se-suku mungkin akan memudahkan untuk menyatukan dua keluarganya, memudahkan mu untuk mengurus ini-itu dalam pernikahan kelak, dan pastinya memudahkanmu juga untuk belajar memahami lebih banyak lagi tata cara serta adat-adat lainnya tapi ini berlaku jika dia yang kelak jadi pasanganmu juga sudah faham adat, lalu bagaimana jika ternyata dia juga tidak terlalu faham adat atau bahkan tidak tahu sama sekali ? yaudah less private aja sama Namboru :v ini adalah pembahasan saya dengan namboru dirumah saat saya tengah pulang kampung 2 minggu lalu, mungkin hanyalah obrolan biasa, bukan bermaksud apa-apa meski diakhir obrolan dia bilang usia saya sekarang sudah bisa untuk menikah, kemudian bertanya jadi kapan kau nikah ? lalu saya jawab dengan senyum sembari berkata "Kalau ga sabtu ya minggu biar banyak diskon" Nikah woi bukan belanja wkwkwk. 

Obrolan ini sekaligus mewakili pandangan-pandangan umum orang batak masalah jodoh yang selama ini saya dengar, bahwa jodoh terbaik ya Orang batak juga. 


Lalu dijalan menuju bandara saat tengah ingin pulang kejakarta, kebetulan sekali saya menaiki travel yang supirnya juga orang batak (inisih bukan kebetulan ya, namanya dimedan ya nemu supir orang batak itu wajar hehe) Saya gambarkan sedikit supir travel ini masih muda, umurnya sekitar 27 tahunan untuk itu saya memanggilnya bang selama kali ngobrol disepanjang jalan menuju airport, dan kebetulan penumpangnya hanya saya sendiri Haha.
Kami bercerita banyak mulai dari isu-isu Sara yang sedang panas-panasnya, kemajuan-kemajuan teknologi, sampai dengan masalah jodoh haha, Menariknya lagi-lagi saya menemukan hal-hal yang tak sependapat dengan saya, abang yang sekarang jadi supir travel dan grab ini ternyata tahun lalu seharusnya sudah menikah dengan wanita yang telah dipacarinya 3 tahun terakhir, pacarnya itu lulusan sarjana pendidikan yang sudah lulus 1 tahun dan sekarang sudah menjadi guru honoer disalah satu sekolah swasta dimedan, begitu terangnya. mendengar kata seharusnya yang dia ucapkan barusan kemudian saya bertanya 
"Lah kok seharusnya bang ? ga jadi gitu ?" 
dia tertawa dan bilang "Iyaa dek ga jadi HA-HA-HA" dia menjawab dengan tertawa tapi saya bisa melihat raut mata yang sedang dia tunjukkan, 

Ah apasih alsanya kenapa mereka ga jadi nikah ? kan udah padahal sampai 3 tahunan, lagipula katanya pacarnya juga baik dan sayang padanya ? saya yang putus setelah pacaran 1,5 tahun aja galau-galaunya bertahun-tahun *eh kok malah curhat sih? 


Beberapa saat kita sama-sama diam, lalu dia memulai percakapan lagi dengan kalimat "Kau ga mau tau dek alasannya kami batal nikah?" tadinya saya memang ingin bertanya demikian tapi saya faham itu adalah masalah personal yang sifatnya sangat sensitif dan akan sangat tidak sopan jika saya menanyakan itu kepadanya, tapi anehnya dia malah membuka pembicaraan lagi dengan kalimat itu. Saya tersenyum lalu bilang 

"Engga sopanlah bang aku nanya kek gitu, kan itu masalah pribadi abang" dijawab dengan senyum, 

"abang percaya kau itu teman curhat yang baik dek terbukti dari gaya bahasamu dan pengetahuanmu akan banyak hal. baru kali ini aku jumpa cewek yang faham banyak hal sampe kisruh pejabat aja kau ikuti perkembangannya, kabel digorong-gorong depan istana sampe bingo live aja kau tau, tapi lucunya kau lebih hafal banyak ayat alkitab daripada aku haha " 

sumpah itu pengakuan paling frontal yang pernah saya dengar, klarifikasi sedikit kalau masalah bingo live sebenarnya saya cuma tau doang tapi ga pernah pakai, seriusan -_-. 

Setelah tertawa bersama, dia mulai bercerita tenyata alasan mereka batal menikaha adalah karena Sinamot (Mahar) dan status pendidikan :( WTF. 

Setika telinga saya panas mendengar jawabnya, dia menerangkan bahwa awal nya orangtua pacarnya meminta sinamot yang katanya terlalu besar yang dia sendiri tidak bisa menggenapinya karena ternyata abang itu sudah tak punya bapak lagi, dan sejak dari SMA kelas satu dia sudah jadi tulang punggung keluarganya. 

Lalu ia coba meminta keringanan kepada orangtua pacarnya untuk berunding masalah nilai sinamot akan tetapi orangtua pacarnya tetap bersikukuh tidak akan menurunkan nilai sinamot yang dimintakan. lalu saya mendadak ingat cerita mantan datang ke pesta pernikahan mantan pacarnya didaerah sulawesi dan menangis yang kemarin sempat viral di sosial media. dan ternyata ceritanya hampir sama, 
Yang lebih menyedihkan lagi orangtua pacarnya malah bilang kalau dia tidak bisa menenuhi sinamot itu pacarnya akan dinikahkan dengan orang lain yang statusnya juga sarjana, karena si abang hanya lulusan SMA. 

Awalnya saya tidak pernah berpikir bahwa ada orang batak yang benar-benar seperti ini dan saya rasa cerita yang sedang dijelaskannya kepada saya saat itu adalah cerita benar bukanlah ilusi yang sedang mendramatisir suasana obrolan. 

 "Itu sedihnya jadi orang ga punya dek, apalagi kalau kita cuma lulusan SMA", 

 "Abang tulus ga sama pacar abang ?" 

 "Ya Tulus lah dek. Tapi sakit hati kali aku dipandang kekgitu dek. kek gada kali harga diri awak dimata orangtua dan kalaupun kami tetap jadi nikah aku jamin seumur hidup pasti orangtuanya tetap kek gitu samaku. lagipula aku kasihan sama cewekku itu dek dia ditekan sama orangtuanya karena masih tetap berhubungan samaku. Aku sayang sama dia, makanya aku putuskan untuk mundur dek. sekarang dia udah jadi nikah barupun bulan lalu"

 "kok abang mundur? katanya abang sayang sama dia? terus abang diundang ga ?" 

"Satu-satu dulu tanya antongan hehe, kadang ada titik dimana sayangmu harus kau ikhlaskan dek demi dia yang kau sayang, dan abang percaya setiap hal yang terjadi dan setiap keputusan yang abang ambil itu emang udah digariskan Tuhan untuk terjadi, masalah diundang atau tidak abang diundang dan tadinya mau pergi tapi dilarang sama mamak abang, katanya takutnya tar malah dipikir mengacaukan acara pernikahannya padahal abang udadh ikhlas ngelepas dia, tapi abang nurut ajalah kata mamak daripada ntar mamak abang juga kepikiran" 

 "menurut abang pacar abang itu tadinya yang terbaik ga buat abang ?"

 "bukan pacar dek, dia udah jadi istri orang sekarang hehe, tadinya gitu dek tapi abang percaya kalau yang terbaik pergi pasti tar diganti dengan yang jauh lebih baik lagi, sekarang aku lagi menekuni usahaku dek. Puji Tuhan aku udah mulai punya penghasilan yang lumayan buat menghidupi mamak sama dua adekku" 

"Iyah yah bang,keren;ah abang udh punya mobil sekarang udh mantap itu. Sekalian nabung lagi untuk sinamot untuk calon abang nanti" 

"Ah ini mobil masih punya dealer dek karena masih nyicil, haha kalau sinamot udah gausha ditabung lagi keknya. Marboru jawa ajalah abang kayanya dek " 

Lalu kami tertawa bersama - 


 Saya kagum dengan sikap yang dia tunjukan, bisa tegar meski saya tahu hatinya sedang porak poranda. Mendadak saya malu dengan diri sendiri karena pernah galau berkepanjangan saat pacar saya ketauan selingkuh padahal jelas-jelas itu sudah menjelaskan bahwa lelaki yang bersama saya kemarin tidak baik tapi masih saja ditangisi, bersyukur nya saya sudah melewati masa-masa itu (KOK CURHAT MULU NOY??)

 Disatu sisi saya bangga dan kagum sama abang satu ini, bisa kuat dan tegar bahkan masih bisa tertawa saat menceritakan itu semua padahal mata saya sudah berkaca-kaca walau hanya mendengar cerita saja, Sisi lain yang membuat saya kesal adalah pandangan-pandangan orangtua yang masih terlihat kolot dan tidak adil. memandangan calon suami anaknya hanya dari status pendidikan dan sosial, orang-orang seperti ini seakan akan bisa memastikan jika kelak yang jadi suami anaknya itu orang berada dan sarjana maka anaknya akan bahagia titik. memangnya status pendidikan dan sosial bisa menjamin kita akan bahagia? Tentu saja tidak !!!! 

Tanggung jawab dan ketulusanlah yang bisa membuat anak perumpuan anda akan merasa bahagia dan nyaman dengan dia yang akan jadi suaminya kelak meski hidup sederhana sekalipun. ini hanya satu dari kasus-kasus sama yang terjadi dari beratus-ratus kejadian yang diakibatkan stigma yang salah, 

ah jadi ingat ucapan seseorang yang dulu saya putusin karena ketauan selingkuh, alih-alih tidak mau dianggap rendah doi malah membalas keputusan saya untuk putus dengan "Yaudah kita putus, masih banyak BIDAN yang mau antri dengan saya" Whoaoa maklum soalnya doi angkatan cuy *Ehh 

Dan ucapan si mantan pacar saya itu sekaligus jadi penambah semangat saya untuk bisa lulus kuliah dengan uang hasil jerih payah sendiri, meskipun sedari dulu saya juga suadh merencanakan itu semua. 

 Anayway terimakasih untuk kalian yang telah rela buang-buang waktu untuk baca tulisan remeh rempenyek yang terkesan curhat habisa-habisan ini, semoga ada satu atau dua nilai positif yang kita ambil dari tulisan ini. saya tidak bermaksud menggurui ataupun menyudutkan pihak manamun, untuk masalah cerita abang supir travel yang tadi sebelumnya saya sudah izin untuk dimasukan dalam cerita di blog pribadi saya ini. saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya sendiri, karena saya juga sering dipandang sebelah mata oleh orang orang sesuku hanya karena orangtua saya bukanlah orang berada. 



  With Love 
          

Komentar

Postingan Populer