Untuk Anak #1 : "Ditulis Untuk Dia Yang Kelak Menjadi Anakku Di Masa Depan"



Kepada Ananda Tersayang di masa depan....
Kemarin adalah hari terakhir ibu mengikuti UAS untuk jenjang kuliah di semester V. Banyak kejadian menarik yang berhasil membuat jantung terasa berdetak lebih kencang. Meski nyatanya ibu tidak sedang jatuh cinta, tapi rasanya hampir sama. Hingga ujian tersebut selesai dan ditutup dengan makan malam yang masih ditempat yang sama. Restoran fastfood dengan lelaki tua sebagai lambangnya bersama dengan mereka tiga orang perempuan yang gilanya hampir sama. Di surat berikutnya ibu akan ceritakan tentang mereka, itu juga kalau tidak lupa. Tapi meski semuanya telah usai, ada sesuatu yang rasanya ingin sekali ibu sampaikan. Meski nyatanya kamu belum bisa membacanya namun suatu saat ini akan menjadi hadiah yang berharga. Sekaligus jadi bukti meski tidak pintar-pintar amat tapi ibu mu adalah orang yang peduli. Termaksud memberi tahumu banyak hal, meski kamu masih dalam khayalan. 


Kepada Ananda Tersayang di masa depan.... 
Ini adalah satu hal penting yang akan selalu ibu tanamkan, dalam hal melakoni tugasmu sebagai seorang pelajar. Ibu tidak akan memintamu untuk jadi seorang Polisi atau polwan meski sedari dulu ibu selalu membayangkannya. Ibu tidak akan memaksamu jadi seorang Designer meski saat SMK ibu ingin sekali meraihnya. Ibu tidak akan mendorongmu sebagai seorang yang mengais rejeki dari hasil ketikan tangan diatas keybord laptop miliknya meski saat ini itulah harapannya. Kau bebas menjadi apapun yang kau mau, tanpa harus berpikir bahwa apa yang kau mau belum tentu jadi sesuatu yang ibu mau juga. Sungguh tidak akan! 
Dirimu bisa melakukan apapun yang kau inginkan, selama itu baik dan tidak melanggar aturan. Walau kenyataannya ibu ini juga adalah orang yang demikian.


Kepada Ananda Tersayang di masa depan.... 
Kelak saat masa sekolah kan tiba, kau lebih bisa memahami semua ucapan yang ibu telah sampaikan di bagian atas surat ini. Kau akan menemukan bermacam-macam pribadi dengan pembawaannya masing-masing. Dia yang selalu terlihat pintar dan menakjubkan, Dia yang terlihat santai namun nyatanya adalah orang yang pintar, atau dia yang suka jail, malas belajar tapi selalu lulus dengan nilai diatas rata-rata Hingga dia yang nyatanya santai disegala hal meski nilainya juga pas-pasan. Ibu mungkin belum bisa menggambarkan bagaimana dirimu akan dijadikan budak oleh pengetahuan. Yang ibu ingin sampaikan bagaimana cerita di hari sekarang. ada banyak hal selalu jadi penghalang untuk seseorang bisa berekspresi untuk segala hal yang dikeluh kesahkan. Termaksud dia yang kelak akan kau panggil dengan sebutan ibu atau bunda. 


Kepada Ananda Tersayang di masa depan.... 
Kau tahu tidak bagaimana ibu melawan semua pilihan, melawan kenyataan yang memang tak pantas untuk disesalkan. Meski suatu saat kau mungkin merasa jatuh pada hal yang bukan pilihan,tapi itu akan tetap jadi pilihan. Yang apapun resikonya tetap kan dihadang. Terutama dalam hal untuk belajar, kau tak perlu risaukan dimana tempat mu akan menimba ilmu atau dengan siapa kau kan berada. Karena yang paling berhak atas segala hal hanyalah diri kita sendiri. Bagaimana kau bisa bersikap baik dan menunjukkan akhlak yang mulia demi sesuatu yang baik tentunya. 


Kepada Ananda Tersayang di masa depan.... 
Pesan lain yang tak kalah pentingnya, kau harus ingat bahwa dirimu adalah subjek untuk semua pilihan. Bukan objek yang menjadi sasaran. Di surat lain yang mungkin jika sempat ibu tuliskan, kelak ibu akan ceritakan bagaimana beberapa yang orang yang menjadi teman. Mendadak hilang arah karena merelakan pilihan, berlindung dibawah sesuatu yang katanya Nyaman untuk selanjutnya jadi objek yang selalu di manfaatkan. Mereka bukanlah orang bodoh yang mungkin kau pikirkan, karena biar bagaimanapun "Semua anak itu istimewa" Seperti kata Amir Khan pada Filmnya "Taare Zaamen Par". Mereka tidak melihat keistimewaan atasnya, bisa jadi karena pemahaman yang salah atas diri sendiri. Atau dikarenakan tekanan dari luar diri yang dijadikan alasan untuk bergerak meski tidak sesuai hati. 


Kepada Ananda Tersayang di masa depan.... 
Kelak ibu akan ceritakan bagaimana ibu bertahan dengan uang 100 ribu dalam seminggu untuk keperluan ongkos kekantor dan membeli makan nasi dengan tempe yang masih bisa digantikan dengan uang 8 ribu rupiah. Meski kelak bagimu itu akan setara dengan uang saku anak SD di zamanmu. Tapi bagi ibu sekarang itu jadi sesuatu yang mahal. Bersamaan dengan hujan yang tidak tahu sudah turun sejak kapan, ibu ingin sampaikan semoga kelak kau kan tumbuh jadi anak cerdas yang berusaha untuk memahami segala hal. Bukan dia yang Ingin pintar dalam segala hal. Karena biar bagaimanapun dirimu adalah manusia yang dengan akal budi diatas apapun, bukan Robot yang semua kemampuannya diatur dengan sistem dan rumus yang sudah terorganisir sesuai aturan. 


Kepada Ananda Tersayang di masa depan... 
Kau harus tetap jadi Subjek untuk Hidup, Bukan jadi Objek yang hidup. 


Teriring Doa dan Cinta dari perempuan yang kelak kan kau panggil ibu ❤
 Jakarta, 17 Juni 2017.

Komentar

Postingan Populer