Dari Dilan dan Milea Aku Belajar Melepaskan Dan Memaafkan Diri Sendiri


Sebagai bagian awal pembuka postingan berisi curhat remeh rempenyek ini kata "Saya" yang biasanya dipakai untuk menggambarkan diri sendiri dalam semua tulisan dalam blog ini. Akan diganti dengan kata "Aku", bukan karena apa-apa.
Hanya saja kata aku sedikit lebih bersahabat untuk hal yang ingin dibicarakan. Apalagi kalau bukan masalah hati ? He-He-He-He

Setelah membaca 3 Seri buku Dilan dan Milea milik Pidi Baiq, ada sesuatu yang tiba-tiba aku sadari. Jika hubungan yang pernah jadi Relationship goals itu tidak selalu berujung dengan panggung pelaminan. Ini mungkin terdengar sedikit menggelikan bagaimana mungkin wanita berusia 22 tahun sepertiku sedang membicarakan panggung pelaminan [AH..ngaco kamu]

Tapi lagi-lagi logikaku berbisik kecil "Bukannya semua orang yang menjalin hubungan pacaran atau lebih dari sekedar teman juga membayangkan tujuan yang sama?"
Yaa mungkin ini benar tapi sesuatu yang ingin aku bicarakan disini bukanlah hal itu, bukan tentang menikah dan segala tetek bengeknya. Bukan tentang Happy Ending bak cerita-cerita putri dongeng kesukaan yang sampai sekarang masih meninggalkan tanya.

Ini adalah tentang hal yang diajarkan oleh Dilan dan Milea. Dua tokoh dalam ketiga buku ini kemarin membuat saya hanyut, lalu merasa melambung tinggi tiap kali membayangkan betapa bahagianya jadi Milea yang dicintai oleh dilan. Hingga akhirnya mendadak sedih dan merasa kecewa kenapa ending yang disajikan oleh buku tersebut malah membuat saya uring-uringannya.

Kemudian membuat beberapa pertanyaan, Kenapa Milea egois buru-buru mengucap putus hanya karna Piyan bilang Dilan mau balas dendam atas kematian temannya? Kenapa tidak tanya dilan dulu bagaimana kejelasannya ? kenapa malah membuat keputusan saat hatinya sedang tidak stabil ? padahal itu situasi yang tidak tepat tentunya.

Hingga berkali-kali aku juga menyalahkan Dilan, kenapa ia buru-buru menghindar dari Milea pake bilang sudah punya pacar baru lagi. Ahh Pidi Baiq sepertinya memang sengaja, membuat alur cerita yang sungguh berhasil memporak-porandakan hatiku. Hingga akhirnya aku ingat akan sesuatu, hubungan di masa lalu yang belum bisa dikatakan lampau karena masih 2 tahun lalu.

Kenyataan pahit akan sesuatu yang sering kita bayangkan dengan terlalu berlebihan memang akan menyisakan luka yang juga terasa lebih sakit tentunya. Siapapun kamu yang kini sedang membaca postingan ini, aku ingin minta maaf jika sekiranya apa yang sedang aku ceritakan sungguh tidak kau pahami. Karena hal itu juga yang pernah menjadi alasan mengapa aku pernah merasa sakit lalu kemudian tersadar sepertinya memang benar.

Diriku sangat sulit untuk dipahami, bahkan oleh diri sendiri. Cerita lampau bersama dengan seorang lelaki yang namanya pernah kusebut dalam tiap doa. Ternyata bukanlah doa yang baik, buktinya dia pergi He-He-He.

Dan sebagai pengingat sejati aku masih bisa mengingat semua detail kejadian tersebut. Bagaimana Ia mendadak berubah, kemudian menghindar dan benar-benar hilang ! Meski tidak se-Manis Dilan dengan puisi-puisi ajaibnya, Tapi lelaki yang belum ingin kusebut namnaya itu selalu berhasil membuatku tersenyum tipis seperti Milea. Setiap kali selesai menerima puisi dari Dilan. Jika Dilan Bisa leluasa menyambung obralan dengan segala hal menarik yang bisa dia Ciptakan. 

Lelaki ini hanya akan memilih diam kemudian menatapku dengan mata sayu miliknya, yang hingga kini masih sering aku bayangkan. Ya aku tahu ini sebuah kesalahan, tapi setidaknya ini adalah manusiawi bahwa tak semuanya memang harus dilupakan. Menemani seseorang dari titik terendah dalam hidup hingga sukses, selalu digadang-gadang jadi sesuatu yang mulia. Dan untuk siapapun yang bertahan saya ucapkan selamat, Kalian adalah orang-orang pilihan.

Berbeda dengan aku, yang kemarin hanya dijadikan batu loncatan. Mungkin terdengar sedikit menyedihkan, tapi percayalah aku tak pernah berharap belas kasihan. Meski nyatanya semua kejadian itu pernah berhasil membuat hatiku hancuk, sama seperti situasi ketika aku menyelesaikan bacaan ketiga dari buku Suara dari Dilan untuk milea.

Aku memang menjadi seseorang yang ditinggalkan, jadi bohong jika kubilang tak Sakit. Semua kebohongan dan luka yang pernah digoreskan olehnya masih bisa aku ingat untuk sepersekian incinya. Meski kemarin kedatanganku ke pulau tempat dia bertugas kini seakan mendapat sambutan baik. Dan ada rasa yang memang mendorongku untuk menggelar temu, namun lagi-lagi bayang-bayang akan sebuah pengkhianatan membuatku buru-buru mengurungkan niat untuk itu.

Cerita cinta yang aku alami memang sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh Dilan dan Milea. Namun kini aku merasa ada sesuatu yang sama yang ingin aku bagikan, sesuatu yang mungkin juga kau, dia, atau kalian rasakan. Tentang bagaimana sebuah hubungan yang pernah kita pupuk dengan semua hal indah. Tentang bagaimana sebuah hubungan yang sudah kita isi dengan beberapa perjuangan nyata. Tentang gambaran kebahagian yang akan jelas lebih terasa namun akhirnya kita memilih untuk saling melepaskan.

Memilih untuk menyudahi dengan alasan yang mungkin masih dirahasiakan, Kita sudah tidak sevisi atau kamu terlalu baik untuk aku. Dua kalimat yang jika mereka hidup pasti akan protes karena selalu dipakai untuk jadi topeng akan sesuatu yang di rahasiakan. Tapi biar bagaimanapun inilah hidup dengan segala kejutannya, akan ada beberapa orang yang hadir.

Lalu berperan penting namun akhirnya memilih untuk saling melepaskan. Akan banyak orang yang sudah saling memberi namun bukan untuk bersama, Mereka hadir hanya untuk melukis cerita. Memberi warna yang lain untuk cerita kita. Menjadi bagian dari beberapa susun kisah cerita, yang jika dipikir-pikir tidaklah salah. Dan untuk beberapa pertanyaan yang kutujukan pada Dilan dan Milea, terjawab dengan hanya memaafkan diriku sendiri.

Memaafkan semua hal yang terjadi, serta mulai percaya pada kekuataan semesta. Milea menemukan lelaki yang kini diakhir cerita telah menikahinya, sedang Dilan masih berjibaku untuk kuliah yang belum diselesaikannya. Meski dalam urusan cinta dia juga sudah punya pacar tapi tak secantik Milea. Karena semua hal yang bisa terjadi adalah rencana dari sang pemilik semesta,kita hanya ditempatkan sebagai subjek yang akan menjalankan semuanya.

Menerima dengan lapang dada untuk rasa yang lebih menyenangkan atau terus menerus menyalahkan situasi untuk kemudian merasa terkekang dan tak bahagia. Aku tak bisa membayangkan bagaiman Milea harus meninggalkan Bandung dengan berjuta kenangan manis dengan Dilan diatas motor. Setiap kali menyulusuri jalanan setiap kali pulang sekolah, mampir di warung kopi kang Ewok dan mendengar Dilan Bercerita. Dan berbagai hal manis lain yang kurasa melupakannya adalah sesuatu yang sungguh amatlah payah.

Jika Milea meninggalkan Bandung dan melanjutkan hidupnya tanpa Dilan, Kini hal yang sama juga tengah aku lakukan. Meninggalkan semua kebiasaan-kebiasaan lama yang dulu sering aku lakukan, sebisa mungkin aku mulai mengurangi aktivitas yang mungkin memaksaku ke stasiun kereta, Terminal bus hingga toko buku langgananku dulu.

Ceritaku mungkin tidak sama dengan cerita mereka, dengan ceritamu atau ceritanya namun satu hal yang harus kita jadikan keoutusan akhir adalah, belajar memafkan. Jika mungkin memaafkannya masih sulit, setidaknya memaafkan diri sendiri jauh lebih baik. Dan Hingga kini aku masih hanya bisa memaafkan diri sendiri, untuk memaafkannya sedang ku[usahakan] secepat mungkin akan menyusul.

Tapi tak dapat kujanjikan, karena aku belum tahu bisa atau tidak, dan seperti yang sudah-sudah. Aku hanya akan berjanji untuk sesuatu yang memang bisa aku tepati. Bukan disemua hal, karena hingga kini aku memang masih sulit untuk dipercaya termaksud olehku sendiri.

Dan Teruntuk kamu yang pernah bersepakat, ternya kita tidaklah sepaket.

Komentar

Postingan Populer