Memangnya Tuhan Hanya Ada Di Dalam Gereja Saja ?
Jangan fokus pada judul yang barusan kamu baca di atas. Karena nyatanya itu hanyalah sebuah pertanyaan pada diri sendiri, bukan pernyataan yang harus kamu percayai. Dan saya rasa kita ini sudah cukup pintar untuk bisa membedakan arti dari perbedaan kata tersebut.
Baiklah, mungkin siapapun yang kamu yang sedang membaca tulisan remah rempenyek ini. Sebagai awalan saya ingin meminta maaf, jika sekiranya nanti akan ada beberapa kalimat yang menyinggung perasaan seseorang. Sungguh saya tak bermaksud demikian! Semua hal-hal yang saya tulisankan hanyalah sebuah keresahan. Dan karena memang sangat sulit untuk bisa menjelaskan lewat tutur kata. Akhirnya semua kegundahan yang saya punya hanya bisa di bungkus dalam bentuk tulisan. Oke mari kita mulai bercerita.
Seminggu yang lalu, ada sesuatu yang sempat menarik perhatian saya. Kolom komentar instagram milik bapaknya Sky dan Snow. Yaap, dia yang saya maksud adalah Ernest Prakasa. Seorang Stand-up comedy.an yang juga jadi punggawa dibalik suksesnya tawa meledak kita kala menonton filmnya. Sebagai salah seorang yang memang menganggumi karya-karyanya, rasanya Ernest bisa jadi role mode cowok-cowok yang mungkin saat ini sedang berniat untuk PDKT dengan seorang perempuan. Ini saya lihat dari caranya kala mendekatai Meira sang istri yang kini lebih dikenal Mamak. Kalau kalian nonton filmnya pertamanya yakni “Ngenest” kalian tentu tahu apa yang sedang saya bicarakan. Demi menghilangkan streotip “Dasar cina” atau “coba itu matanya dibuka”. Ia kemudian kekeh untuk mencari pasangan yang keturunan pribumi asli. Kemudian lahirlah Sky dan Snow yang nyatanya memang raut wajah dan muka mereka ya masih cina sih Hehe, but I like them. Apalagi si Snow.
Duh kok tulisan ini rasanya bertele-tele sekali sih ?
Tenang kali ini saya akan langsung ke topik pembahasan yang memang ingin saya ceritakan. Kalau kamu adalah salah satu orang yang jadi followers Ernerst di laman instagram. Kamu tentu tahu apa yang saat ini sedang ia siapkan. Yaap, doi lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan film ketiganya, #SusahSinyal Movie. Alhasil untuk ngebut waktu penayangan yang direncakana akan tayang akhir tahun ini. Koh Ernest dan seluruh tim, bergerak cepat dan sampai-sampai hari minggu pun syuting. Astagah kaya nggak ada hari lain aja ko ? Begitu kata netizen. Bukan kata saya loh ya!
Melihat postingan instastory yang berisi penampakan syuting di hari minggu.
Sontak para netizen yang budiman dan beriman tebal, berbondong-bondong mengirimnya pesan.
“Hari minggu kok syuting?”
“Lah Terus nggak gereja dong ?”
Tak berhenti disitu saja, kolom komentar itu pun mendadak dipenuhi para penatua yang alkitabiah. Berbagai macam ayat alkitab-pun mereka kirimkan demi menyadarkan Ernest yang sedang gila bekerja itu. Mungkin begitu kata mereka. Lalu saat sedang asyik, membaca satu-persatu komentar dari para netizen yang alkitabiah tersebut.
Untuk beberapa waktu saya berhenti dan merenung seraya bertanya pada siri sendiri. Yang kebetulan hari itu saya sedang ada di gunung pancar untuk ngecamp bersama dua orang sahabat laki-laki saya.
Jika kalian adalah salah seorang yang sudah pernah melihat beberapa postingan saya mungkin akan tahu, jika selama ini saya memang sering melabeli diri dengan sebutan “Hamba yang tak tahu diri”. Yaap saya memang lebih suka disebut demikian, daripada harus ngaku beriman tapi setiap di gereja selalu posting tempat “Happy sunday guys, semoga Tuhan memberkati, semoga, semoga dan bla bla bla laiinya” Lalu ngetag “at gereja…”
Jika boleh jujur, saya memang bukanlah orang yang rajin beribadah.
Bahkan selama 5 tahun selepas SMK, jumlah kehadiran saya di tempat yang katanya rumah Tuhan itu. Rasanya bisa di hitung tanpa menggunakan sepuluh pasang jari tangan manusia. Bukan tak mau beribah, bukan pula tak mengakui bahwa Tuhan ada. Tapi ada sesuatu yang hingga saat ini masih susah saya jelaskan, dan biarlah itu menjadi urusan saya dengan Tuhan saja. Netizen tidak perlu turut serta, karena saya bukanlah Ernest atau Agnes Monica eh Agnez Mo deng namanya sekarang.
Tapi percaya atau tidak, tak hanya orang-orang yang katanya baik beribadah saja yang selalu dapat ujian. Nyatanya saya yang malas ke gereja ini pun sering mendapat ujian yang sama beratnya. Ha-Ha-Ha, “Ujian opo ndoq lah wong kamu ae nggak pernah ke gereja” Jika mereka yang rajin kegerja mungkin akan dipikir “sok-sok.an karena selalu ke gereja”, atau “dikiran mau numpang adem doang karena ada acnya” setidaknya begitu kata teman saya yang kebetulan sangat rajin kegereja.
Ini mungkin akan terlihat seperti pernyataan pembelaan saat Hotmaein Paries (ini bukan typo kok, beneran ini) kekeh membela Koleganya saat debat dengan Bang Bir di ILC kemarin. Tapi kawan, satu hal yang ingin saya tanyakan, “Apakah jika saya tak pernah terlihat ke beribadah dan kegereja lantas kalian berhak untuk memvonis saya kelak tak punya tempat di surga?” sungguh itu semua masih menjadi rahasia bagian administrasi disana, kalau kamu sudah punya DP kemungkinan akan diberi akses masuk lebih dulu kesana.
Sebagai gambaran saya jadi salah satunya anak dari kedua bapak dan mamak di rumah, yang nampaknya terlalu banyak menjajaki gereja. Saya pernah mengikuti ibadah di GBI, perjamuan kudus di Mawar Sharon, Ibadah Natalan di Khatolik, dan Natalan di GMIST, Ikutan jadi anak Choir di GPIB, ibadah minggu biasa di HKBP, memberi persembahan beberapa kali di GKPI bahkan pernah di baptis di GMAHK. Tiba-tiba kalian mungkin akan berpikir, “lah pantes di tinggalin sama mantan Lah sama gereja aja nggak setia.
Sungguh saya tak akan marah, silahkan kalau itu akan membuat paduka senang, hamba ikhlas”. Satu hal yang hingga saat ini saya percaya adalah Tuhan yang saya punya tahu segala hal. Termaksud hal-hal yang sedang ada dikepala milik saya.
Dan seakan tak pernah mengerti isi hati saya, mereka yang sering menemukan saya tak berada di gereja pada hari minggu masih kerap bertanya
“Weh, ito lu nggak gereja?”
atau tetuah menggelitik yang menjadikan Gereja sebagai ajang pencarian jodoh bagi saya dengan saran
“Makanya ke gereja biar nemu pacar”
Dengan santai saya akan selalu menjawab “Tuhan Yesus selalu ada dalam diri saya, jadi jika hanya sekedar beribadah saja tak perlu harus repot-repot ke gereja” lalu disambut gelak tanya yang nampaknya masih tak percaya atau ungkapan bibir yang lebih persis ingin berkata sepertinya “saya ini telah gila”.
Hal lain yang kalah lucunya, suatu waktu saya pernah sedang berada di gereja. Dan kebetulan handphone milik saya memang dimatikan, sepulang gereja ketika handphone menyala kembali ada chat yang masuk dari salah seorang teman berisi ajakan menonton sebuah mini konser band indie yang juga saya suka.
Dengan cepat saya balas untuk mengucapkan maaf karena Chat darinya baru saja saya buka, tadi sedang di gereja. Begitu kata saya. Kalian tahu apa yang ia balas kepada saya ?
“Yang bener lu ? Udah tobat emang ? tumben bener gereja ?”
Saya hanya balas dengan “Wkwkwkwk” kalimat khas tertawa dari negara kita. tapi tak berhenti disitu saja, orang di seberang sana nampaknya masih belum percaya.
Dan mengirimi chat, yang tak kalah menyebalkannya
“Mana buktinya ? Foto mungkin ? Kok nggak Check in di Path ?”
Benar saja, saya tak punya bukti apa-apa dari ibadah yang baru saja lakukan. Tak ada foto, Tak ada postingan status Kecuali ibu penerima tamu di pintu Gereja yang barang kali masih ingat muka saja, itu juga kalau ingat sih. Untuk beberapa waktu saya baca, pertanyaan itu berulang-ulang. mamahami kata-per-kata yang ia kirimkan, dan nampaknya ini jauh lebih menyedihkan daripada di putusin pacar lewat chat di whatsap.
Saya tak habis pikir mengapa ada orang yang berpikir bahwa gereja adalah arena Foto untuk menghiasi sosial media. bahkan perlahan mirip Coffe Shop kece yang jadi tongkorongan anak muda, setiap kesana berarti wajib check in place di semua sosmed yang kita punya.
Masih dengan perasaan yang tak karuan, saya coba balas pertanyaan terakhir yang ia lemparkan.
“Lah gue kan ke gereja niatnya ibadah, bukan pamer sampai-sampai check in segala”
Dan jika kalian tahu, apa yang ia balas kemudian kepada saya
“Taeee lu Noy, Taeee”
Dan jika boleh saya menerka kalian mungkin sedang membayangkan hal yang sama. Ha-Ha-Ha, iya saya emang tae, tapi lebih baik menjadi tae tak perlu sibuk berkoar-koar untuk menyatakan diri benar daripada dia yang katanya beriman tebal tapi amplop perpuluhan saja di posting di media sosial.
Benar memang, saya memang jadi salah satu manusia yang jarang sekali posting
“Happy Sunday”
“Sedang di Gereja….”
Atau kalimat-kalimat alkitabiah yang lainnya.
Jika memang ada mungkin itu hanyalah beberapa kali yang mungkin di karenakan beberapa hal yang bersifat terpaksa. Namun mereka yang mengaku benar, masih terus menghujani saya dengan peryataan “Alah bisa aja ngelesnya” atau “pembelaan diri yang cukup apik ya” hingga “bilang aja malas, nggak usah menyudutkan orang” Lah padahal saya tak pernah berniat untuk menyudutkan orang lain.
Saya hanya tak sepaham dengan pandangan yang berpikir bahwa “Dia yang rajin kegereja adalah pewaris surga” dan “Yang malas ke gereja adalah penghuni nereka” uhuy nikmat sekali bukan.
Seseorang bisa menvonis kita akan masuk surga dan neraka hanya karena, jumlah daftar hadir di gereja saja. Dimata saya Tuhan selalu berada dekat dengan saya, berada di hati dan sanubari saya. Lalu kenapa harus ada aturan jika saya beribadah mesti ke gereja ? Emangnya Tuhan hanya ada dalam gereja saja ? jika katanya dia sang Empunya kuasa memang hanya berada di gereja saja. Minggu depan dan seterusnya saya berjanji setiap minggu akan gereja.
Ehh kok tiba-tiba ingat, ingat yang kemarin menyuap Patrialis Akbar ya.
Hoho,nggak tahu ya itu kasus apa ? silahkan googling dulu.
Atau mantan pacar yang setiap hari posting status ayat alkitab, eh tiba-tiba mint putus karena ketauan selingkuh, dan kemarin tiba-tiba kabarnya telah menghamili anak orang *Ehh
Lagipula dia yang sering posting sana sini tentang ibadah, harusnya jadi makhluk yang perlu di pertanyakan keimanannya. Dan sebagai orang yang mungkin bernasip sama dengan Ernest.
Saya tahu betul bagaimana rasanya di sudutkan hanya karena tak gereja di hari minggu. Padahal Bagi saya, Ernest adalah salah satu orang yang berhasil membuat saya menangis terenguh saat lihat bagaimana perjuangannya dia untuk lepas dari Bully di Film Ngenest. Hingga kisah sedih ayah dan toko mereka di Film Cek Toko Sebelah. Dan beberapa postingan lain di Instagram yang kadang membuat saya akhirnya bertanya pada diri sendiri. Belum lagi Energiknya Sky anak perempuan yang juga mirip saya waktu kecil. Split dan bergelantungan dimana-mana. Hingga lucunya snow yang tak pernah suka difoto dan betapa inspirednya Tutorial Work-out dari mamak Meira.
Namun lagi-lagi, keluarga prakasa ini hanyalah manusia biasa. Mereka tetap punya titik lemah. Tapi saya pikir masalah iman, bukanlah urusan kita.
Berhenti untuk berpikir bahwa dia yang tak kelihatan di gereja adalah orang berdosa. Alangkah baiknya kita muali bertanya “Apakah tujuan kita untuk pergi ke gereja?” Apakah benar berniat untuk ibadah atau hanya jadi topeng belaka.
Salam hangat dari Hamba yang Tak Tahu Diri
Noni Noviya Sitinjak
Nb : Semoga Tuhan Memberkati Saya, Agar rajin kegereja seperti kalian yang sudah punya list nama di surga sedang saya masih mau nyari orang dalamnya.
*Tulisan ini pernah di posting di akun Tumbrl saya



Komentar
Posting Komentar