Ulang Tahun dan Tetek Bengeknya
Menikmati subuh di Jakarta yang akhir-akhir ini sedang giat-giatnya dilanda hujan. Hariku masih sama seperti biasa, susah tidur di tengah malam hingga membaca buku berulang-ulang. Padahal saya sendiri sudah tahu jelas, bagaimana akhir ceritanya. Ya itu karena bulan ini saya belum jajan buku terbaru, karena ada beberapa yang nampaknya harus jadi prioritas utama. Apalagi kalau bukan tiket pulang ke kampung halaman akhir tahun nanti.
Hari ini adalah penambahan satu angka dalam usia saya, tak terasa ternyata perempuan ini sudah 23 tahun berada di dunia. Saya sadar bahwa usia ini akan jadi pertanda bahwa hal-hal buruk yang kemarin telah terjadi, tak seharusnya terulang lagi.
Beberapa mimpi dan ambisi yang selama ini masih tersusun rapi dalam kepala, nampaknya sudah harus dikeluarkan dan dijadikan nyata.
Tak hanya peringatan ulang tahu saja, dulu semasa duduk dibangku sekolah dasar.
Bulan november jadi pemicu yang paling berpengaruh untuk menunggu bulan selanjutnya. Ini jadi dua momen, yang jadi rangkaian sempurna.
Ya tak lama lagi tahun akan berujung, almanak dan kalender baru telah berbondong-bondong dibuat.
Pemujaan terhadap Desember sepertinya akan dimulai, Kenangan-kenangan tercecer dikumpulkan, doa-doa dipanjangkan, harapan-harapan dibungkus, lagu-lagu Natal kerap didendangkan hingga kado-kado yang sudah siap dibagikan di Malam Natal.
Sedangkan saya masih menikmati redupnya nyala lampu kamar, kopi yang kadang sudah dingin hingga beberapa jenis beer baru yang mulai dicicipi dan laptop yang kerap menyala.
Dari banyaknya manusia yang mungkin bernasip sama, saya jadi salah satu makhluk tak punya memori khusus perihal menutup tahun dengan bahagia. Eits tapi tunggu dulu, menutup tahun yang saya maksud mungkin itu antara akhir tahun 2007 - 2016 lalu atau mungkin tahun ini juga.
Karena tahun-tahun sebelumnya diriku masih jadi anak remaja yang kerap bahagia saat November dan Desember tiba. Tapi tidak ketika memasuki bangku kelas dua di tingkat SMP.
Walau begitu, keinginan untuk tampil seperti orang-orang pada umumnya sedang keras saya upayakan tentunya. Berusaha membuatnya terkesan merayap ketika semua orang terlihat bergegas dalam menyambut masa penghabisan di tahun 2017. Meski saya sendiri masih kerap bertanya, entah untuk apa.
Oleh karena itu, nampaknya, saya kembali berhutang banyak pada penghujan di penghujung tahun. Hujan dan sore-sore di bulan ini membuat saya bisa menerima kesenduan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibanding mengutuki kehilangan mantan pacar yang juga terjadi pada musim penghujan, atau sia-sianya perjuangan untuk masuk kedaftar pemenang tiket jalan-jalan pada kuis instagram, padahal sudah berharap akan ikut terbang.
Tahun ini sebenarnya jadi babak baru dalam perjalanan, berhenti menjadi budak pada sistem perusahaan yang tak jelas arah dan juntrungan. Hingga menjadi seorang yang terberkati karena kini sudah bekerja pada bidang yang saya minati.
Tahun ini sebenarnya jadi babak baru dalam perjalanan, berhenti menjadi budak pada sistem perusahaan yang tak jelas arah dan juntrungan. Hingga menjadi seorang yang terberkati karena kini sudah bekerja pada bidang yang saya minati.
Titik hidup ditahun ini juga membuat saya harus memaklumi banyak hal, membiarkan kebuasan rutinitas bekerja dan kuliah berjalan tanpa perlawanan. Yang berarti saya harus rela dan mengikhlaskan beberapa waktu senggang akan hilang diganti dengan padatnya pekerjaan dan tugas-tugas dari dosen kesayangan.
Hingga beberapa rencana bepergian yang harus diundur entah sampai kapan.
Bagi saya sendiri kekalahan dan kehilangan memang nampaknya jauh lebih penting untuk dicatat, daripada harus merayakan kemenangan yang terlihat menakjubkan.
Meski akan terdengar naif, tapi setidaknya begitulah saya memaknai setiap perjalanan. Jadi jangan heran, meski mantan pacar saya sudah punya anak walau tak menikah. Nampaknya cerita tentang pengkhianatannya akan lebih kerap memenuhi isi kepala, daripada menang lomba disalah satu kompetisi ternama.
Masih sendiri dan belum berniat menambatkan hati pada laki-laki, saya masih merasa senang menghabiskan malam dengan berbagai kekonyolan. Walau bagi sebagian orang kesendirian memang terlihat jadi momok yang menakutkan, tapi tidak untuk saya. Justru ini jadi momen bersejarah yang kelak akan saya ceritakan kepada semua orang.
Bagaimana saya menikmati macetnya Jakarta di kota tua, sehabis menonton pementasan Puisi Aan Mansyur meski tanpa pasangan. Merasakan hangatnya sore di Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga menjajaki toko buku di berbagai pelosok Jakarta. Dan beberapa hal gila lain yang kerap saya lakukan seorang diri tanpa siapa-siapa.
Seperti banyak hal lain di muka bumi, ada yang tak lagi sama, banyak yang masih. Tak cukup memang. Namun saya akan mencatatnya sebagai marka waktu ingatan-ingatan yang saya sengaja kubur hadir kembali bukan hanya untuk diikhlaskan namun pula untuk ditertawakan sendiri atau bersama dengan orang lain.
Seperti banyak hal lain di muka bumi, ada yang tak lagi sama, banyak yang masih. Tak cukup memang. Namun saya akan mencatatnya sebagai marka waktu ingatan-ingatan yang saya sengaja kubur hadir kembali bukan hanya untuk diikhlaskan namun pula untuk ditertawakan sendiri atau bersama dengan orang lain.
Ini subuh ke-24 di bulan november tahun ini, hujan mengguyur Jakarta sejak malam dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Saya membiarkan sendunya berkelebatan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibanding mengutuk kehilangan dan keterpurukan di hadapan waktu. Ingatan tak akan mengembalikan waktu-waktu yang hilang.
Kini saya hanya manusia dengan kebiasaan-kebiasaan yang terbilang aneh dari perempuan biasa. Setidaknya begitu kata beberapa orang, yang berhasil mengenali saya dengan baik.
Usia 23 tahun tentu bukan lagi jadi masa untuk duduk sambil bercerita, begitu kata salah seorang teman yang tahun depan akan menikah. Lebih lanjut ia berkata bahwa saya katanya harus mulai membuka diri pada lelaki jika tak mau sendiri seumur hidup, sampai mati. Terdengar sedikit mengerikan tapi saya tahu itu adalah bentuk perhatian yang murni atas dasar pertemanan.
Hari ini sebelum mendengar beberapa doa yang mungkin akan terdengar sebagai beban, ya misalnya “Cepat wisuda”, “semoga segera bertemu jodohnya” hingga pertanyaan mengerikan “kapan nikah?”
Saya ingin berterimakasih kepada pemilik hidup yang telah memperbolehkan saya menghirup udara segar tanpa berbayar. Berterimakasih kepada orangtua yang kerap jadi pelipur lara, saat semua masalah datang tanpa aba-aba.
Saya ingin berterimakasih kepada pemilik hidup yang telah memperbolehkan saya menghirup udara segar tanpa berbayar. Berterimakasih kepada orangtua yang kerap jadi pelipur lara, saat semua masalah datang tanpa aba-aba.
Hingga pada semesta yang masih jadi sahabat untuk semua keresahan yang kerap melanda jiwa dan raga. Kepada semua orang mungkin akan menyampaikan doa baiknya, saya berharap semua ucapan baik yang kalian berikan akan kembali kepada kalian semua.
Teruntuk diri yang mungkin sedang berdiam sembari menunggu pagi, belajarlah untuk tidur lebih cepat dari awal lagi. Dan jika ada doa yang lebih penting saat ini adalah aktivitas kuliah yang semoga segera mungkin tersudahi. Kalaupun akan ada sosok yang menyemangati saya akan anggap itu jadi bonus dari sang pemilik bumi.
Terimakasih Semesta, terimakasih dunia dan terimakasih Tuhan Jesus Kristus. Maaf ibadah minggu saya masih seperti yang lama. Banyakan bolongnya!






Komentar
Posting Komentar