Nostalgia Natal dengan Liturgi Tanpa Teks dan Kerinduan Pada Guru Sekolah Mingguku
Ya, kerinduan ini jadi sesuatu yang mendadak saya pikirkan, semalam setelah menghadiri Natal sekolah minggu di Jakarta minggu lalu.
Tak berniat untuk membandingkan kehidupan anak kecil zaman dulu dengan sekarang, tapi saya rasanya agak sedikit kurang pas jika ternyata anak kecil yang sudah memasuki usia ya katakanlah antara umur 7-14 tahun ternyata memaparkan ayat-ayat alkitab yang menjadi liturginya dengan membaca dan bukan menghafalkannya.
Kejadian ini membuat saya membuka lembaran masa kanak-kanak dulu. Saya tumbuh dan besar di dalam Gereja dengan guru sekolah minggu yang berusia lanjut kalau tidak salah beliau dulu antara usia 55- 57 tahun mungkin. Tak seperti guru sekolah minggu yang biasanya adalah orang muda, konon beliau ini telah mengbdikan hidupnya untuk menjadi guru sekolah minggu puluhan tahun lamanya. Sebab almarhum suaminya pun dulunya adalah Porhangir (Ketua Jemaat).
Dulu saat menjadi bocah kecil yang tak tahu apa-apa, saya masih ingat betul bagaimana teknik mengajar yang ia punya. Jika anak-anak sekolah minggu di gereja lain yang ada dikampung saya mungkin akan pulang dan menangiis ketika guru sekolah minggunya membentak dengan suara yang cukup keras. Saya justru tak berani pulang jika beliau ini sudah marah dan memukul meja dengan kayu rotan andalannya.
Gambaran barusan mungkin sedikit menyeramkan, tapi siapapun kamu yang sedang membaca tulisan ini jangan dulu berpikiran buruk atas beliau. Sebab satu-satunya orang yang akan saya ingat sepanjang masa, dalam hal kontribusi menumbuhkan keimanan Kristen dalam hidup selain kedua orangtua saya adalah dirinya.
Yaap, beliau ini jadi satu-satuunya orang yang bisa dengan mudah membuat saya paham bagaimana dulu Daniel di gua singa, Yunus di perut Ikan, kalahkan Goliat oleh daud, hingga kisah 3 pahlawan Tuhan sadrakh,Mesakh,dan Abednego dan kisah alkitab lainnya.
Jadi tak heran, selepas ia meninggal tatkala saya masih kelas 2 SMP. Pergi ke sekolah minggu jadi sesuatu yang tak menggairahkan lagi (fyi saya masuk ibadah umum biasa saat sudah masuk SMA, sebab jadi anak sekolah minggu itu enak)
Sekilas perilaku dan pola mengajar yang ia terapkan kepada kami anak-anak didiknya memang, terbilang cukup keras. Bahkan meski hanya sekolah minggu berlangsung hanya 3 jam saja, kadang kala saya merasa itu sangat lama. Bukan apa-apa, kalau bisa jujur beliau ini lebih mirip kepala asrama yang mengharuskan semua anak-anak sekolah minggunya patuh tanpa terkecuali.
Saya masih ingat sekali, ada anak kecil berusia 5-6 tahun dulu, ia dimarahi karena memakai sendal yang berisi peliut di dalamnya, sehingga setiap kali ia melangkah peluitnya memang akan berbunyi dan memunuhi seisi ruangan. Ha-Ha-Ha, kalau diingat lagi, tentu itu adalah hal yang konyol. Sebab meski ia marah, anak berusia 5-6 tahun tahu apa dari sebuah bentakan. Paling dia hanya takut dan menangis begitu dulu saya berpikir.
Namun setelah dewasa kini, saya paham apa yang sedang ia ajarkan dulu kepada kami.
Berkaca pada kehidupan anak sekolah minggu sekarang, setidaknya ini juga saya lihat dan pelajari dari pemandangan natalan sekolah minggu yang 3 tahun terakhir saya nikmati di ibukota dan juga beberapa kali di kampung.
Mereka yang kini menggantikan saya sebagai anak sekolah minggu tak lagi seperti generasi kami yang dulu. Mari kita lupakan dulu perubahan dan kemajuan zamannya, sebab hal yang sedang saya rindukan adalah kemampuan anak-anak sekolah minggu dalam memahami beberapa aturan di gereja tatkala sedang beribadah dan kecakapannya dalam hal melafalkan ayat alkitan, doa bapa kami, pengakuan iman rasuli hingga kesepuluh perintah Allah.
Suatu kali saya pernah tanya, pada keponakan saya yang masih kelas 3 SMP. "Kamu udah hafal semua Patik (titah)?” kalian tahu apa yang ia jawab, “Engga ante”. Seakan berbanding terbalik dengan apa yang dulu saya alami, kini anak-anak tak lagi terlihat antusias untuk tahu, apa itu patik dan artinya. Tak ingin memojokkan mereka yang berprofesi sebagai guru sekolah minggu, barangkali kakak saya sebagai orangtuanya juga kurang untuk mengajak anaknya untuk melafalkan titah.
Padahal saya masih ingat betul, bagaimana dulu guru sekolah minggu saya mengharuskan kami untuk menghafalkan Patik/Titah dalam dua bahasa yakni bahasa batak yang menjadi bahasa asal dan bahasa indonesia sebagai bahasa ibu. Sejak kelas satu SD saya wajib untuk melafalkan patik beserta artinya ke depan, berbarengan dengan teman-teman lain yang seusia. Hal itu terus berlanjut hingga ke patik berikutnya sesuai dengan urutan kelas di sekolah hingga pada kelas 5 SD kami wajib melafalkan semua patik hingga patik yang ke sepuluh.
Jadi wajar saja, meski tak lagi menjadi sekolah minggu saya masih mampu melafalkan patik 1 sampai 10 beserta artinya, meski mungkin ada beberapa kata yang sudah lupa. Dan seperti yang saya katakan tadi di awal tulisan, hal lain yang juga membuat saya rindu adalah kemampuan anak-anak untuk menghafalkan liturgi ayat alkitabnya saat natal tiba. Untuk mereka yang masih berusia 2 hingga belum TK mungkin akan diminta untuk melafalkan ayat alkitab yang pertama yakni “Padamulanya, Allah Menciptakan langit dan bumi” -Amen.
Tapi ketika kamu sudah sah menjadi anak SD jangan harap kamu masih akan dibebani liturgi pada mulanya saat natal tiba. Setidaknya kamu akan diminta untuk melafalkan ayat Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil / Ai ndang adong naso tarpatupa Debata” dan akan semakin banyak dan semakin panjang pula ketika usia sudah bertambah.
Bahkan pada natal tahun 2006 lalu. Saya masih ingat, menjadi juara kerajinan dan terpintar di sekolah minggu karena mampu menghafal dan ikut Liturgi pada 4 sesi di perayaan natal sekolah minggu. Dan tak hanya saya saja, ada beberapa teman lain yang juga mendapat hadiah sama.
Berupa kue khas natal yang ada gula-gulanya Hihi dan buku Tulis merek Kiky yang berisi 50 lembar serta tak lupa pulpen dan pensil. Ah bahagianya, tentu tak terkira. Selain bisa pamer ke teman-teman lain, hadiah ini juga menambah hadiah lain untuk saya. Sebab jika dapat hadiah dari gereja, orangtua saya dirumah pun akan memberi hadiah juga ya minimal uang 10-20 Ribu, saat itu nominal tersebut tentu sudah besar untuk ukuran anak SD.
Seakn berbanding terbalik dengan yang kemarin saya lihat, anak-anak itu melafalkan liturginya dengan alkitab atau bibel ditangannya. Ya, benar memang mereka tinggal di kota barangkali tak terlalu fasih untuk mengucapkan ayat-ayat yang berisikan bahasa batak. Tapi bukankah itu adalah bagian dari tugas mereka, jika masih kecil saja sudah malas atau tak bisa melafalkan bagaimana nanti sudah dewasa? Bisa-bisa lupa dan hilang begitu saja.
Hal ini juga jadi salah satu keresahan yang kerap saya temui, tiap kali bertemu dengan mereka yang bersuku sama namun tak bisa berbahasa daerah. Dengan alasan “gue kan lahir dan gede di jakarta” - dan barangkali saya akan menjawab “Hooh iya oke, lah elu nggak lahir di Inggris kok bisa bahasa Inggris? Selain hal-hal baik yang hingga kini berhasil saya ingat dari teknik dan cara yang beliau ajarkan, guru sekolah minggu saya itu adalah manusia paling disiplin yang ada di gereja tersebut. Mulai dari disiplin waktu, pakaian, hingga perkataan.
Jadi jangan heran jika dulu, tiap kali natal saya kami tak diperbolehkan memakai baju baru, dan hanya diperbolehkan memakai seragam putih-hitam dengan sepatu swallow hitam/sepatu sekolah dan kaus kaki putih. Dan jika kalian ingin tahu alasannya, sungguh sangat sederhana “Agar mereka yang tak bisa membeli baju baru, tak merasa rendah diri saat merayakan natal bersama”. (dan sekarang omongan ini selalu berhasil membuat saya terharu). jadi dulu saya hanya akan memakai baju baru saat natal, ketika sedang merayakannya dirumah untuk sekedar makan bersama, jika sedang natalan di gereja saya hanya akan pakai baju putih hitam atau seragam sekolah. Hehe.
Beralih pada sikap, kami selalu diajarkan untuk belaku sopan dan memakai bahasa yang kasar. Seperti “ta*, anj**g, atau ba*i. bahkan ada satu teman yang pernah ketahuan menangkap capung di halaman belakang gereja, ia ditegur dan dinasehati untuk tak mengulanginya. Sebab bagi beliau itu sama saja dengan menyiksa ciptaan Allah yang lain. Dan sejak saat itu pula, saya takut bermain dengan teman lain ketika mereka bilang akan pergi menangkap capung. Karena walau hanya menjadi guru sekolah minggu yang bertemu setiap hari minggu saja, kami semua sangat hormat dan takut untuk melanggar larangan-larangannnya.
Dan cerita lucu laiinya, yang masih melekat di ingatan saya. Saat itu adalah memasuki minggu ke 2 pada bulan desember yang berarti setiap 2-3 kali dalam seminggu kami akan latihan di gereja pada malam hari untuk melafalkan liturgi, puisi dan Patik/Titah. Suatu malam, ada seorang teman yang mungkin kebelet pipis tapi takut keluar untuk izin, disamping karena memang latihannya malam hari sebentar lagi akan giliran ia yang maju untuk latihan. Di depan altar entah karena sudah tak tahan lagi, sehabis melafalkan liturginya ia ngompol alias pipis celana di altar (saat itu kami sudah kelas 5 SD) Sontak semuanya ketawa karena bagi saya sendiri itu adalah sesuatu yang lucu saat itu. Namun riuhnya suara tawa tersebut hanya berlangsung sebentar saja, sebab sang guru sekolah minggu keburu memukul meja dengan kuat dan kami semua terdiam serentak.
Kalian tahu mengapa ia melakukannya, ia berkata bahwa itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk ditertawakan, lagipula harusnya kita menghargai sikap dari sang teman yang sudah mau menunggu manahan pipis karena tahu gilirannya maju sudah waktunya meskipun akhirnya pipis di depan altar. Lebih lanjut ia berkata lagi, tak ingin melihat sang anak yang pipis itu menjadi malu dan tertekan oleh gelak tawa dari teman-teman. Kini ketika sudah dewasa saya mulai memahami sikapnya tersebut, betapa mulianya orang ini.
Well, ini hanyalah sebuah cerita dari diri sendiri. Tak bermaksud untuk membanggakan diri atau memojokkan pihak manapun. Yang pasti saya merasa natal anak sekolah minggu sekarang tak lagi berkesan seperti dulu. Entah karena zaman yang sudah berubah, entah karena nilai-nilai yang bergeser atau entah karena saya sudah Tua juga Ha-Ha-Ha!
Jakarta, 18 Des 2017 - Pukul 01:00 Wib
With Love
Noni Noviya Sitinjak



Komentar
Posting Komentar