Laki-laki di Kepala Saya
Kamu mungkin akan bosan mendengarnya, sama seperti tulisan-tulisan dalam blog ini. Untuk kesekian kalinya saya bingung untuk memulainya. Tapi demi tanggung jawab pada jari sendiri, sebab tanpa alasan yang jelas setelah berhasil deadline hari ini. Saya berniat untuk memberi sumsangsih tulisan pada blog yang sebenarnya saya tak tahu akan berwarna apa. Tapi sesuai niat awal, i'm write not for traffic here. Jadi saya harap kamu akan maklum jika semua tulisan disini berjalan tidak dengan satu nada yang sama.
Beberapa bulan terakhir, ada aktivitas baru di group whatsapp keluarga saya. Bukan arisan, bukan pula saling kirim foto lawas yang menjadi kenangan. Tapi berkirim gambar beberapa foto laki-laki yang konon akan disuruh pdkt red : pendekatan dengan saya.
Masih dengan wajah yang sumrinyah, kalau sang laki-laki masuk jadi kriteria tak apa untuk dicoba. Begitu kira-kira saya mencoba untuk merespon upaya dari kakak dan adik sepersusuan saya.
Kalau saya tidak salah ingat, kira-kira ada 5 orang yang mereka tunjukkan sebagai kandidat untuk dijadikan calon adik ipar. Kamu mungkin akan berpikir sebegitu genesnya kah saya sampai harus dibantu carikan pacar oleh saudara-saudaranya. Haha, jelas saja tidak. Lagipula kamu jangan terlalu anggap ini serius, karena saya sendiri cuma menganggap semua itu sebagai gambaran dari kasih, dari mereka yang memang benar-benar peduli.
Pernah, setelah kakak nomor 3, mengirimkan satu potret salah seorang lagi-lagi yang nampaknya berprofesi sebagai TNI, saya masih sedikit cekikikan melihat potret dari seorang yang katanya tangguh dan bijaksana, yaya tapi kalau beliau doyan selfie dan diedit pakai kamera pemutih jelas saja saya geli melihatnya. Bukan apa-apa, bagi saya laki-laki yang gemar membagikan foto selfie itu perlu dipertanyakan statusnya. beneran lakik atau cuma mau ingin dianggap lakik? Dan kalaupun mereka mau bantu carikan pacar, cobalah cari yang lain, jangan kodok hijau melulu.Ya minimal, yang bisa nyanyi saja, bagus kalau bisa main alat musik juga, makin saya cinta kalau dia juga cinta kopi yang sama seperti saya, dan diberi nilai plus kalau jago fotografi bak Dion Suaminya Fiona Antonhy.
"Cari yang takut akan Tuhan, karena semua kemampuan akan percuma kalau dia tidak punya iman"
Begitu kakak nomor 3 me-replay chat berisi kriteria yang saya kirimkan. Oke baiklah, sepertinya saya memang akan kalah, jadi debat akan betapa pentingnya jiwa seni pada sang calon pacar rasanya akan percuma. Meski ya saya juga tentu akan cari dia yang bisa membuat saya lebih baik dari segi agama. Sebab kamu mungkin sudah tahu sendiri, kalau manusia ini paling malas yang namanya pergi ke gereja.
Heem, agar tak semakin jauh dari judul yang sudah ditetapkan. Agaknya kita memang harus kembali ke pembahasan awal. Yaap, barangkali ini akan sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para makhluk astral yang nampaknya sudab bosan melihat saya tanpa pasangan. Yah, you know lah astral disini itu tuh etc : Kakak, Sahabat, Konco, Teman kampus, Teman pendaki, Teman ngopi atau siapa saja yang suka bertanya "Sendiri mulu, berduanya kapan?"
Bukan tak senang, tapi saya pikir pertanyaan-pertanyaan seperti akan jauh lebih baik jika diganti dengan pernyataan-pernyataan yang lebih membangun semangat dari perempuan yang masih sendiri eh memilih sendiri maksudnya.
Untuk contoh pernyataannya kamu boleh cari sendiri ya, jangan apa-apa nanya ke saya. Meski cuma baca kamu juga harus bijak, punya inisiatif untuk cari tahu apa yang saja mau. Nah iya, gitu loh!
Setelah genap berusia 23 tahun pada november tahun lalu, saya memang berpikir jika ternyata hanya butuh 2 tahun lagi usia saya sudah seperempat abab. Itu tandanya harus mulai banyak sadar. Konon ibu saya yang akhir-akhinya juga sering jadi mak comblang, pernah berkata begini "Rohakku nian, ho ma parjolo muli sian si Vhany" (red : Keinginan ibu, baiknya kamu menikah lebih dulu dari si Vhany) Vhany itu adik saya, nanti kalau punya waktu luang saya juga mau bikin tulisan yang akan khusus menceritakan dia. Tapi bukan disini, Saya tidak mau dia geer!
Saya paham bagaimana khawatirnya ibu, sejak putus dari mantan kekasih 3 tahun lalu, saya memang baru sekali mengenalkan pacar kepadanya. Meski ada dua nama lain yang belum pernah saya ceritakan padanyaBukan tak ingin terbuka, saya hanya tak mau gegabah sebab yang saya kenalkan itu saja ditolak mentah-mentah, sebab bukan Batak katanya. Meski akhirnya saya memang memutuskan ia, tapi bukan karena perkara ia bukan Batak atau tidak. Tapi ini lebih kepada how to loving someone, saya pikir untuk menjalin hubungan diusia 20.an cinta saja tak cukup, butuh visi dan misi yang sejalan, pola pikir yang searah hingga kemampuan lain yang bagi saya harus lebih hebat dirinya. Dan itu tidak saya temukan pada laki-laki kemarin.
Saya sungguh tak bisa membayangkan, bagaimana nanti saya akan menjalani hidup dengan lelaki yang selera humornya jauh dibawah saya. Saya tak bisa membayangkan jika suatu waktu listrik di rumah kami akan padam, bukannya pergi dan mengecek apa yang jadi sebabnya. Ia lebih memilih berteriak dan bertanya "Listriknya kenapa?". Saya juga tidak bisa membayangkan, jika nanti anak kami akan tumbuh dewasa dan bertaya "Bagaimana caranya mengembalikan akun email yang lupa passwordnya" bukannya menjawab dan membantu si anak, barangkali ia justru akan bilang "Sana, tanya ibu saja ya nak" Lalu dia akan asik stalking diinstagram".
Nah dari gambaran, itu saya harap kamu paham mengapa saya akhirnya memutuskannya lewat Whatsapp. Walau saya paham itu sangat tidak sopan, tapi saya pikir itu adalah pilihan baik yang akan menyelamtkan saja dari hubungan yang memang tak terarah. Meski faktanya masih banyak sikapnya yang saya pikir memang tak baik untuk dipelihara.
"Terus mau lu yang kaya gimana sih noy?"
Kata seorang teman sesaat setelah mendengar saya menjelaskan, mengapa saya putus dengan sang mantan pacar yang terakhir. Jujur saya sendiri masih bingung jika harus diminta untuk menjelaskan. Bagaimana gambaran laki-laki yang saya idam-idamkan. Terlalu banyak, sampai saya sendiri kadang bingung bagaimana cara menguraikannya. Hingga suatu waktu, ditengah-tengah meeting content mingguan. Bos saya dikantor, tiba-tiba berkata "Cakep bisa jadi jelek, Kaya bisa jadi miskin tapi kalau selera humor itu akan tetap sampai mati. Jadi kalau udah kepikiran mau cari pasangan, cari yang selera humornya senada sama kamu. Karena meski kata orang dia lucu, belum tentu ia juga lucu dimata kamu"
Kurang lebih 2 bulan, kalimat itu terus menerus menggema didalam kepala. Masuk ke rongga otak baik depan dan belakang duhkoklebayya? Akhirnya dengan mantap, saya pun ingin sampaikan. Jika boleh meminta tanpa dipikir sedang sok berkuasa, kelak jika semesta memang sudah membenarkan waktunya. Saya ingin bertemu ia yang memang bisa menciptakan gelak tawa yang sama. Tak perlu dengan hal-hal yang besar, sebab lawakan receh anak-anak dikantor saja selalu berhasil membuat saya tertawa. Dan akan sangat lebih bagus lagi, jika ia suka Lagu-lagu Banda Neira, mencintai karya-karyanya Haruki Murakami, dan doyan bepergian di akhir pekan, tak akan protes jika saya tak membalas pesan, hingga bersedia ditinggal lembur setiap sabtu malam, dan tak perk khawatir berlebihan jika saya akan sering pulang malam hanya karena banyaknya tulisan yang harus dikerjakan.
Saya pikir ini adalah syarat yang sederhana, tapi hingga saat ini belum ada sosok yang beruntung untuk menggenapinya.
Ditulis disela-sela buasnya pekerjaan.
Jakarta, 8 Februari 2018
Dengan setengah harap,
Noni Sitinjak



Komentar
Posting Komentar