Untuk Anak #2 : "Ditulis Untuk Dia Yang Kelak Menjadi Anakku Di Masa Depan"
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Sore ini ibu sedikit sibuk dengan pekerjaan, namun demi menyeimbangkan kewarasan dengan tak melulu terfokus pada rentetan list deadline.
Ada cerita yang kembali ibu ingin bagikan kepadamu. Kamu harus tahu, bahwa menjadi orang dewasa ternyata tak melulu akan merasa kecewa hanya karena cinta dan perjalanan karir yang tak kunjung berubah.
Kelak kamu akan tahu rasanya, bagaimana seseorang bisa menangis dalam semalam penuh hanya karena merasa didepak dari lingkar pertemanan yang tadinya ia percaya. Kamu mungkin akan berpikir bahwa ibu mu ini, adalah seseorang yang lemah. "Cuma tak dianggap teman saja, sampai bengkak matanya". Oh, bukan begitu nak! harus ibu akui memang, bahwa kejadian itu benar. Tapi bukan berarti ibu aadalah orang lemah.
Walau memang faktanya, itu adalah kali pertama ibu menangis dalam tahun ini. Iya, sekarang tahun 2018 nak! Tahun dimana seharusnya ibu sudah masuk kuliah di semester 7, tapi akhirnya memilih cuti dulu dikarenakan banyak hal yang perlu diselesaikan.
Pekerjaan ibu memang sedang banyak-banyaknya, tapi bukan berarti ibu juga lupa pada mereka yang tadinya sudah ibu anggap seperti saudara. Tapi ekspektasi dan realita sering kali tak sejalan nak, sama kaya Cintanya Richard ke Arini di Film Love For Sale yang baru ibu tonton bulan lalu. Tapi hal-hal seperti itu, tak melulu terjadi pada lingkup hubungan percintaan saja. Kelak kamu kan tahu, bahwa dikecewakan sahabat jauh lebih sakit daripada mendapati pasanganmu selingkuh dengan orang.
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Kelak jika sudah bisa membaca dengan lancar, dan tulisan ini kamu baca. Kamu mungkin akan bilang, jika ibu terlalu kekanak-kanakan karena telah membolokir tiga orang kawan yang tadinya amat ibu cinta dari sosial media whatsapp yang ibu punya.
Iya, nak saat ini, whatsapp jadi aplikasi chat paling banyak diminati. Entahlah di zamanmu nanti, dia masih ada atau tidak. Tapi yang pasti tanpa ibu jelaskan apa itu blokir dan segala tetek bengeknya kamu pasti paham untuk apa ibu melakukannya.
Bukan ingin memutus hubungan dengan mereka, tapi ibu pikir saat ini ibu butuh sendiri. Menenangkan diri tanpa bayang-bayang kecewa yang mereka torehkan. Walau ibu sendiri juga paham, tak seharusnya itu ibu lakukan.
"Mereka mungkin khilaf", begitu mungkin pikirmu untuk menenangkan perempuan yang mungkin ketika kamu sudah membaca ini sudah tak lagi muda. Iya, barangkali benar katamu. Mereka sedang khilaf, lalu lupa bahwa temannya yang satu ini cukup perasa dan sulit untuk mengungkapkan rasa kecewa, terlebih bagi orang yang sudah dikenal baik olehnya.
Ibu tak ingin menyalahkan siapa-siapa, sebab hal lain yang juga ibu sadari, sebaik apapun kamu berlaku pada orang lain, buah baik tak selalu datang. Bahkan bisa berbalas dengan hal yang tak kamu inginkan. Tapi bukan berarti kamu harus berbaut jahat, teruslah tanamkan kebaikan meski kamu juga diberi kesusahan. Itu pula lah hal yang sedang ibu usahakan.
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Kamu mungkin masih bertanya-tanya, mengapa tiap kali ibu merasa ada pada titik hidup paling bawah, bercerita jadi satu-satunya cara. Ya, karena memang begitulah ibu nak. Tak ada hal lain yang bisa ibu lakukan selain bercerita, membuka suara untuk bisa menyampaikan kecewa jadi sesuatu yang amat sulit terasa. Bahkan walau sudah menangis karena kecewa tak satupun kata yang bisa keluar untuk bisa mengdekskripsikan situasi hatinya.
Untuk itu ibu memilih menulis saja. Terserah mereka akan baca atau tidak, yang pasti ibu membuat ini demi memberimu pemahaman akan sebuah hubungan yang kelak juga akan kamu jalankan.
Bertemanlah dengan semua orang, tanpa harus membeda-bedakan, Tanpa harus menyingsingkan ia hanya karena materi yang ia punya, tanpa harus mengesampingkan perasaannya hanya karena ia tampak tak pernah membuka suara. Perlakukan semua kawan yang kau punya sebagaimana dirimu ingin diperlakukan. Ia mungkin kuat dari luar, tapi bukan berarti ia juga tak bisa kecewa jika sudah dilupakan.
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Hari sudah mulai malam, masih ada sisa pekerjaan yang harus ibu selesaikan. Sebelum nanti kembali pulang ke rumah kontrakan lalu tidur dengan durasi 5 jam, dan kembali bangun lagi untuk berangkat kerja.
Bukan nak, ibu bukan sedang ingin mengeluh. Justru ibu sangat bahagia bisa menjalani ini semua. Suatu saat jika ada waktu luang yang cukup untuk bercerita, kelak ibu akan ceritakan bagaimana pekerjaan selalu mampu membuat ibu lupa akan semua hal sedih yang selalu ibu terima. Termaksud kecewa karena sahabatnya......
Ditulis disela-sela deadline
Bangka, 10 April 2018



Komentar
Posting Komentar