Keping-Keping-Kebahagian



H!, setelah berjanji pada diri sendiri untuk menulis setiap awal bulan disini,nyatanya saya masih tak bisa. Kubilang juga apa, berjanji pada diri sendiri itu adalah sesuatu yang amat susah

Setelah hari rabu-kamis-hingga jumat kemarin tak pulang dan menginap di kantor,pada hari jumat saya terpaksa pulang karena sudah tak punya baju ganti lagi. Untuk alasan kenapa saya menginap di kantor, 70% karena pekerjaan yang memang sedang gila-gilanya. Ada banyak tulisan yang harus diedit dan kejar tayang publish, mengatur jadwal publish konten ke sosmed, dan tugas tulisan lain yang juga menunggu waktunya dijamah. 

Tapi tunggu dulu, kalimat barusan mungkin terdengar terlalu sombong untuk ukuran penulis konten seperti saya. Tapi biarlah, justru mendengarnya saya cukup bangga pada diri sendiri. Meski kemampuan masih seujung jari, entah kenapa saya ingin menghadiahi diri sendiri atas waktu 3 hari terakhir yang sepertinya terkuras untuk mengejar deadline pekerjaan. 

Bos saya yang baik hati, memang tak bilang tugas yang diserahkannya Jumat lalu harus selesai minggu ini. Tapi tak tahu kenapa, saya merasa butuh untuk menyelesaikannya hari ini juga. Ya, walau tidak selesai-selesai juga sih hihi. 

Saya pulang sekitar, jam 6 sore dari kantor. Lalu melenggang tanpa beban ke salah satu bioskop untuk menonton film seorang diri. Kan, tadi saya sudah bilang mau menghadiahi diri sendiri. Nah, ini hadiahnya. Saya tak akan bercerita tentang bagaimana kisah film yang saya tonton. Biarlah itu saya tulis untuk keperluan konten saya, lumayan untuk tambah ragam di Media yang kami kelola. 

Jangan tanya, siapa mereka yang ada disamping kira dan kanan saya. Sebab ini sudah jadi resiko. Ya, saya memang harus menyabarkan hati, mendengar mba-mba disamping melenguh dengan pelan kepada sang pacar "Tuh kan sayang, sweet banget mereka". Ya, film ini memang sweet. Bahkan saya pikir jadi salah satu film Indonesia bergenre romance terbaik yang pernah saya tonton. 

Tapi memang begitulah cinta, tak perlu banyak kata tak juga perlu dibumbui romansa yang berlebihan. Cukup pada takarannya, tapi selalu menumbuhkan rasa percaya yang jauh lebih besar dari hal-hal biasa. 

Beberapa hari sebelum kegiatan menginap di kantor karena pekerjaan, saya sedang mengobrol pada diri sendiri. Memintanya untuk menikmati semua proses yang sedang ada, menjalani hari yang sering memberi kejutan, hingga mengontrol emosi pada hal-hal yang sejatinya tak perlu dipermasalahkan. Hingga jangan lagi mengeluh setiap pagi, meski harus jalan kaki 3 kilometer setiap hari. 

Dan yang paling penting selalu sabar menghadapi, pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang masih selalu mempertanyakan prihal pacar. Film selesai, saya keluar dari ruang bioskop dengan barisan beberapa pasang kekasih yang bergandengan. Tapi tenang, sebab hal yang saya rasakan justru membuat saya semakin belajar. 

Jika ternyata bahagia yang katanya harus dilakukan berdua dengan orang-orang tercinta. Toh, juga bisa kita lakukan sendiri. Sedikit tersenyum dan berterimakasih pada diri sendiri, karena sepanjang menonton tak sedikit pun saya berpikir "Coba nontonnya bareng pacar ya". 

Hal lain yang justru hinggap di kepala saya adalah, ternyata tanpa disadari sajauh ini saya selalu bahagia. Bahkan dari hal-hal sederhana, seperti ini. Saya tak bilang jika saya tak butuh orang lain untuk membuat diri bahagia. Tapi, hal lain yang saya sadari adalah Tuhan yang maha penyanyang itu memberi setiap manusia kemampuan untuk berbahagia atas kesendirian. 

Membuat manusia berpikir bahwa rasa senang bisa datang dari kegiatan yang hanya sekedar menonton film. Kemudian, saya mendadak teringat akan perkara yang hari selasa lalu diceritakan oleh seorang teman. Tentang kelangsungan hubungannya dengan sang pacar yang sudah 5 tahun pacaran. 

Pelik memang, padahal mereka berdua saling sayang. Ditengah-tengah obrolan yang kami langsungkan dikursi pinggir peron stasiun Manggarai, saya mendadak berpikir bahwa memiliki pasangan yang sudah lama saling kenal saja kadang tak menjamin jika hari-harimu selalu berjalan dengan sempurna. 

Berusaha bersikap sebagai sahabat yang melakukan tugasnya, saya mendengar semua keluh kesah, memberinya beberapa saran yang mungkin bisa membantu mereka menyelesaikan masalah, hingga pada Drama lain yang membuat kami menggelengkan kepala. Dua hari setelah obrolan sore hari itu, saya lagi-lagi mendengar kabar bahagia. Jika masalah mereka sudah bisa diatasi semuanya.

Saru kali lagi ucapan terimakasih yang sungguh teramat manis didengar pun dikirimkan oleh mereka berdua kepada saja lewat pesan di Whatsapp. Lalu, lagi-lagi saya percaya jika bahagia setiap orang memang sudah ditakar sebagaimana mestinya.

Oranglain mungkin bahagia bisa bepergian keberbagai tempat dengan segala kemewahan. Bagi saya, berangkat kerja di pagi hari dan bisa mendapat kursi kosong di transjakarta saja, sudah membuat diri bahagia. Tak sama, tapi ada banyak hal yang sebenarnya bisa jadi sumber bahagia. 

Kita hanya perlu mengumpulkan kepingan-kepingannya saja. Menyusunnya menjadi satu kesatuan bahagia, hingga kelak akan bisa dijadikan cerita. Betapa dulu kita pernah jadi pengepul kepingan bahagia.

Komentar

Postingan Populer