Untuk Anak #3 : Ditulis Untuk Dia yang Kelak Menjadi Anakku di Masa Depan"




Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Hari ini, Ibu kembali ingin berbagi cerita denganmu. Tentang beberapa hal yang menjadi keresahan dalam hati. Nak, beberapa waktu belakang, ibu benar-benar kehilangan banyak teman. Bukan mefeka yang pergi, barangkali ibulah yang menjauh untuk mendapatkan jarak. Menarik diri dari gerombolan, meski itu bermula dari hal-hal yang ukan kesalahan ibu juga. Kelak kamu akan mengerti, mengapa perempuan dewasa banyak yang memilih sendiri. 
Sore milik ibumu ini, masih seperti biasa. Menunggu gelap datang hingga jalanan lenggang, barulah ibu akan pulang. Barangkali kamu juga sama seperti orang-orang yang pernah bertanya hal serupa, kenapa ibu betah berlama-lama di kantor dan memilih pulang saat hari sudah larut malam saja?
Tapi ibu tak akan memaksa kamu atau orang lain untuk mengerti, karena faktanya mereka yang lahir dari rahim yang sama pun masih susah untuk memahami. Begini nak, setiap orang punya pemahaman dan kecintaan yang berbeda. Orang lain mungkin senang bisa pulang cepat dan bersantai di rumah dengan keluarga, tapi berhubung ibu saat ini tak tinggal bersama orangtua. Kantor jadi satu-satunya tempat ternyaman yang bisa membuat ibu betah. Disana ibu bebas melakukan apa saja, menyelesaikan pekerjaan yang belum menunggu jadwalnya sampai pada hal-hal lain yang bisa ibu jadikan sumber semangat dan hiburan untuk diri sendiri.
Tapi lebih dari itu nak, kamu harus tahu jika setiap pilihan yang kita ambil. Pastilah lahir dari sebuah keresahan. Begitu pula ibu yang lebih suka pulang malam. Ya, ibu resah jika pulang dengan kondisi jalanan yang masih dipenuhi banyaknya kendaraan. Ibu resah, jika pulang harus mendengar dan melihat orang banyak masih saja memenuhi transjakarta. Ibu resah, jika pulang ke rumah masih harus bertemu sesuatu yang tak bisa membuat ibu segera tidur dan beristirahat, karena besok masih harus bekerja. Nah daripada harus bertemu dengan segala hal tersebut tadi, pulang lebih larut setelah semua itu hilang jadi pilihan yang ibu pikir paling baik untuk dilakukan.
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Selanjutnya ada hal lain yang juga perlu ibu sampaikan. Perihal hubungan dua orang manusia yang seharusnya bisa hidup berdampingan dengan tenang. Ibu tak punya gambaran masa kanak-kanak yang menyeramkan, sebab dari dulu ibu tumbuh dan besar di keluarga dengan jumlah kasih yang berkelimpahan. Tapi, hal lain yang justru ingin ibu sampaikan padamu kali ini adalah, tentang mengasihi orang lain yang perlu kamu lakukan.
Ibu tak ingin kamu merasakan apa yang akhir-akhir ini jadi sesuatu yang ibu resahkan. Bagaimana kamu harus menunjukkan sesuatu dengan perbuatan, tapi tetap kalah hanya karena satu ucapan dengan pemilihan makna kata yang sering terdengar memojokkan. Kamu boleh mengasihi siapa saja, kamu boleh mengingat siapapun orang yang ingin kamu beri makanan yang kamu makan ditempat yang ia tidak ada, kamu boleh menyisihkan satu porsi soup yang kamu dapat dari tempat kerja untuk dibawa pulang, kamu boleh melakukan perbuatan apapun yang kamu rasa adalah sesuatu yang nantinya akan ibu ajarkan kepadamu. Tapi, nak. tolong tumbuhlah jadi anak yang kuat, bukan dalam fisik  saja tapi dengan kemampuan berbicara yang sama hebatnya.
Karena perempuan yang kelak kamu panggil ibu ini, bukanlah orang yang demikian. Ibu mungkin bisa bertengkar hebat dengan perlawanan fisik yang kuat. Tapi perkara menerangkan sesuatu lewat ucapan, ibu kalah nak. Hati dan perasaan ibu terlalu lemah untuk menahan tangis setiap kali ada perbuatan yang terasa menyakitkan. Terbiasa mengalah pada sosok yang sedari dulu ibu selalu jaga, sosok yang sedari dulu selalu ibu kedepankan maunya, sosok yang sedari dulu selalu jadi pihak yang  selalu ibu maafkan karena rasa sayang yang terlalu besar. 
Kepada Ananda tersayang di masa depan...
Ibu tak akan memintamu jadi seseorang yang melupakan kasih dan sayang, tapi terlalu sayang kadang membuat seseorang bodoh dan tak bisa berbuat apa-apa. Menerima semua perbuatan yang kadang tak semestinya, sampai diam saja meski kalimat yang disampaikan tak seharusnya diucapkan pada dia yang lebih tua. Kamu boleh berujar sesuai isi hatimu, tapi percayalah nak memilih bahasa yang baik dan tepat. Akan membuatmu berhasil menyelamatkan banyak jiwa yang tak tersinggung hanya karena ucapan. Ibumu ini jelas bukanlah sosok yang baik nan sempurna, tapi bukan berarti tak ada perbuatan baik yang lahir dari dalam diri kan? orang lain mungkin terlihat banyak mengambil peran dalam suatu hubungan. Karena kerap melakukan sebuah tindakan yang bisa dilihat oleh banyak mata. Tapi dia yang terlihat diam, bukan berarti tak melakukan apa-apa. Karena setiap perbuatan baik yang dilakukan tangan kanan, tak selalu harus diketahui oleh tangan kiri kan?
Kamu mungkin punya banyak hal yang bisa dibanggakan, tapi bukan berarti orang lain yang tak punya layak kamu remehkan. Hidup itu naik turun nak, mereka yang diam bukan berarti tak punya pikiran. Kadang ia hanya tak bisa menyampaikan dimana titik salah yang kau perbuat, apalagi jika sikapmu jauh lebih ganas dari macan.
Kepada Ananda tersayang di masa depan... 

Kamu harus paham nak, ini bukanlah ajang untuk menjelek-jelekkan seseorang. Tapi sebagai pengingat yang kelak akan ibu bacakan untukmu, bahwa kehidupan manis di Instagram kadang tak sesuai dengan kenyataan.



Komentar

Postingan Populer