Jalan Panjang yang Mungkin Masih Sepi



Sabtu lalu, saat sedang asyik menyelesaikan beberapa tulisan yang harus saya kerjakan. Adik saya, tiba-tiba bertanya "Noy, apa sih hal menyedihkan yang lu kadang suka rindukan dari nggak punya pacar". Masih dengan rasa bingung sembari nggak tahu apa maksudnya dia, saya cuma jawab sekenanya saja. "Rindu, punya teman diskusi. Kalau lagi ingin nanya sesuatu yang aku nggak ngerti, terpaksa nyari sendiri".

Masih belum puas dengan jawaban saya, dia masih coba buat bertanya "Terus pas lu putus sama si *****, sakit hati nggak?". Tertawa sebentar, saya jawab "Karena mungkin masih belum setua sekarang, ya adalah sakit hati". Btw, setua sekarang maksud saya, mungkin lebih ke pemahaman saya tentang sebuah hubungan cinta. Karena, karena jika diminta untuk berkata jujur, putus cinta dengan si dia yang tadi ditanya adik saya. Waktu itu memang menyisahkan luka, meski sekarang sudah terasa biasa saja. 

Belum, merasa pertanyaan semacam ini jadi sesuatu yang perlu dihindari. Saya masih senang-senang saja, kalau ditanya "Kenapa masih belum punya pacar?", "Mau move on sampai kapan?" atau "Mana nih pasangannya". Dan yang terbaru nih, awal bulan lalu. Tahu bulan ini saya akan berumur 24 tahun, beliau bilang "Sudah boleh lah, bawa calon" lalu kemudian beliau tertawa.

Namun lagi, belakangan pertanyaan-pertanyaan seperti ini lebih terasa jadi sebuah pertanyaan yang lebih mirip angin lalu. Tidak terlalu jadi beban, seperti kata teman-teman perempuan lain. Hihi. Beberapa dari kita memang kerap menjalani hari dengan menghindari beberapa hal yang mungkin melukai hati. Meminta kawan lain tak membuat kita emosi, berusaha untuk bangkit dari sedih hingga memaksa hati cepat pulih, atau selalu meminta diri untuk berbahagia walau ternyata sedihlah yang dirasa. Saya pun pernah ada di titik serupa.

Menjalani hari dengan segala macam kecewa, berpikir bahwa kuliah saya terlalu berat, pekerjaan jadi beban, hingga perkara pasangan yang juga sering jadi bahan ledekan. Beruntungnya saya tak pernah memaksa diri untuk bahagia, jika memang sedang tak baik-baik saja. Saya pernah tiba-tiba menangis dan buru-buru menelpon Bapak di rumah, sehabis menonton satu video menyentuh di Youtube. 

Tayangan itu memang berhasil memancing emosi dan menggabungkan rindu yang sudah kian menumpuk, hingga akhirnya berbenturan dan berubah jadi tangisan. Tak malu pada Bapak, saya tersendu-sendu bilang "kangen" mirip bocah kecil yang menangis karena tak dibelikan mainan.  
Selanjutnya, saya juga pernah menangis ketika 3 orang teman saya, membohongi saya.

Padahal mereka adalah orang-orang yang tadinya sangat saya percaya. Tak ada yang tahu memang, saya cuma cerita pada Tuhan sembari berdoa saat malam. "Tuhan, kok teman yang saya percaya tega sih bohong sampai segitunya. Apakah ada perbuatan kurang menyenangkan yang pernah saya lakukan pada mereka?". 

Saling diam dan tak lagi bertukar kabar, saya menikmati sakit hati dibohongi sahabat sendiri sambil intropeksi. Baranngkali, ada perbuatan lain yang memang harus diperbaiki. 
Tak pernah merasa kesedihan jadi sesuatu yang harus buru-buru saya hilangkan dari kehidupan. Saya justru akan memilih menikmati semua kesedihan, sebagaimmana saya menikmati semua kebahagian. 

Bagi saya, sedih dan bahagia itu adalah emosi yang serupa. Tak bisa dihindari, ia akan dan pasti selalu ada di hidup kita. Jika ada teman yang sedang curhat tentang cerita sedih, daripada memintanya untuk bahagia saja atau buru-buru melupakan masalahnya. Saya justru akan memilih diam dan mendengarkan semua cerita sedihnya. Sembari memastikan, jika saya akan selalu ada jika ia memang membutuhkan bantuan saya. 

Perjalanan kita masih panjang, mari jalani hidup dengan tenang dengan menikmati sedih dan kebahagian. 








Komentar

Postingan Populer