Empat Bulan Selepas Bapak Pergi
Pagi tadi, ribuan ucapan 'Selamat Hari Ayah' untuk ayahnnya masing-masing. Lalu tadi pagi sehabis bangun karena Ibu saya sudah menonton Tausyiah pagi di Indosiar, saya tersenyum sembari menangis. Tersenyum karena ternyata tadi malam saya bermimpi bertemu bapak dan berhasil memeluk beliau dengan durasi yang cukup lama. Menangis, karena ternyata bapak sudah benar-benar sudah tak ada.
"Sudah empat bulan sejak bapak meninggal, sampai sekarang saya belum percaya kalau beliau sudah benar-benar hilang"Sulit untuk dijelaskan bagaimana perasaan saya ketika menuliskan ini, saya hampir menangis tapi merasa malu pada beberapa orang yang duduk di depan saya. Tadi pagi, di jalan ketika sedang berangkat kerja. Tepat di depan saya, ada seorang bapak yang sedang menaiki motor dengan menempatkan anaknya di depan lengkap degan sebuah helm kecil di kepala sang bocah.
Beberapa hal-hal kecil yang selalu saya lihat dalam kehidupan sehari-hari, seakan tak pernah memperbolehkan saya untuk tak memikirkan bapak, sehari saja. Di mall, di tempat makan, di halte busway, di lampu merah, di indomaret, di segala penjuru Jakarta, dan di setiap tempat yang dilihat oleh mata. Bayang-bayang bapak masih saya ada di mana-mana.
Seakan tahu bagaimana rindunya saya pada beliau, sekilas mimpi yang tadi malam saya ingat adalah, Saya memeluk bapak dalam bentuk arwah dengan posisi jasad beliau ada di tengah-tengah rumah. Bisa tersenyum karena akhirnya bisa melihat wajahnya, tapi mimpi itu mendadak buyar ketika suara Ibu berkata "Jangan peluk lama-lama, Bapak sudah tiada".
Sulit untuk bisa mengungkapkan bagaimana rasa kehilangan, saya lebih banyak diam dan tak lagi bisa berkata-kata ketika adik atau kakak-kakak saya bercerita bagaimana rindunya mereka pada Bapak. Tapi harap yang selalu saya sampaikan pada Tuhan dan semesta, semoga beliau selalu bahagia meski kini kami sudah tak lagi bisa bersama-sama.



Komentar
Posting Komentar