Perempuan yang Patah Hati dan Keputusan untuk (Masih) Sendiri
Setelah babak patah hati yang hebat, beberapa orang mungkin akan berhenti sejenak. Mencari pelarian pada cinta yang lain atau diam tak lagi ingin memberi hatinya pada siapa-siapa. Tak ada yang salah, setiap orang berhak memilih obat mana yang paling baik untuk patah hatinya.
Baik untuk mereka yang bisa dengan cepat terlihat kembali punya kekasih, meski sesungguhnya masih ada yang tak sepenuh hati. Tapi setidaknya, mereka tak akan mendapat label “gagal move on” atau “masih sayang mantan” sebagaimana orang-orang yang masih saja terlihat sendiri, walau sudah bertahun-tahun berpisah dengan mantan kekasih.
Sebagai salah satu orang yang masih memilih sendiri di tengah-tengah maraknya foto-foto lamaran teman satu angkatan. Kali ini biarkan saya menuliskan beberapa alasan atas kesendirian yang masih membuat saya nyaman. Dan tak hanya saya rasakan juga, beberapa perempuan lain mungkin juga sedang merasakan hal serupa.
Merasa Belum Bisa Membagi Waktu
Saya yakin dan percaya, jika urusan membagi waktu jadi salah satu pertimbangan yang juga banyak dipikirkan oleh perempuan sebelum membuka hubungan. Tak semua orang sudah berada pada zona yang seimbang di segala aspek kehidupan, atau minimal tak lagi punya beban waktu untuk dibagi pada sang pacar.
Mereka yang masih memilih sendiri, boleh jadi sedang berkutat dengan berbagai macam persoalan di rumah. Adik-adik yang perlu disekolahkan, orangtua yang sudah seharusnya tak lagi bekerja, atau memang merasa belum bisa bagi waktu dengan pacar saja.
Jadi, daripada memaksa diri untuk terlibat dalam hubungan namun tak bisa berjalan dengan keinginan, memilih sendiri memang jadi pilihan paling aman.
Masih Tak Ingin Jadi Beban dan Menambah Beban
Masih sejalan dengan alasan yang pertama, membuka hati untuk menerima seorang lelaki menjadi kekasih. Berarti bersedia untuk membagi banyak hal dengannya. Tak cuma hati dan kasih sayang, tapi bersedia pula membagi waktu dan pikiran.
Lalu apa jadinya hubungan jika ternyata kita masih belum punya cukup waktu untuk dibagi dengannya. Tak bisa menjalankan komunikasi yang baik dengan format dua arah, yang justru bisa jadi sumber masalah.
Sederhananya begini, masih banyak tanggung jawab yang perlu kamu kerjakan. Tak heran jika ia bisa saja terabaikan, membuatnya merasa tak dicintai dan dihargai, hingga akhirnya membuatnya sakit hati.
Padahal, kamu sungguh-sungguh tak berniat menyakiti. Begitu pula sebaliknya, keinginan kita untuk dimengerti oleh sang kekasih, bisa jadi tak selalu dapat dipahami. Saling marah dan merasa paling benar, padahal pada kenyataannya kita bisa saja jadi beban, memaksanya memahami kita atau tak bisa memahaminya dengan sempurna. Jadi lebih baik, sendiri saja dulu untuk sementara.
Ada Banyak Janji yang Perlu Dikerjakan
Kita semua tentu tahu, hidup tak melulu tentang romansa. Ada banyak hal yang juga perlu dicari, dilakukan, hingga diwujudkan. Tak akan menyalahkan mereka yang terlihat fokus untuk mencari pendamping hidup, tidak pula merasa asing pada mereka yang justru heran pada orang-orang yang malah terlihat santai tanpa beban untuk urusan pasangan.
Setiap kepala memiliki isi yang berbeda, fokus hidup yang tak serupa, dan keinginan-keinginan yang tak akan pernah bisa disamakan.
Biarlah kawan lain dilamar lebih dulu, menikah lebih dulu, punya anak dan tampak bahagia menjadi orangtua baru. Sebab pencapaian hidup seseorang tak selalu diukur dari ada atau tidaknya pasangan. Jadi tak ada yang salah dari pilihan untuk tetap berjalan untuk mewujudkan semau keinginan, meski sampai saat ini masih saja sendirian.
Jika Memang Waktunya Sudah Tiba, Dia yang Akan Jadi Gandengan Pasti Datang Tanpa Diminta
Tak tahu berlaku untukmu atau tidak, tapi segala perkara dalam hidup rasanya akan berjalan sebagaimana garis takdir yang sudah ditentukan. Apa yang dijalani sekarang adalah bagian untuk kehidupan di masa depan. Dan orang-orang yang saat ini terlihat sendiri, justru lebih sering memberi undangan tanpa perlu mewanti-wanti jika ia sudah punya kekasih.
Ikhlas dan yakin pada jalan yang sedang dilalui, yakinlah jika setiap perempuan akan bertemu pada pasangan yang sepadan dan memang ditakdirkan Tuhan untuknya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, biarkan semaunya berjalan sesuai yang sudah digariskan.
Toh Sendiri, Tak Semenyeramkan yang Orang-orang Bilang
Mungkin, bagi mereka yang tak terbiasa sendiri. Tak punya kekasih akan jadi babak paling sepi yang bisa membunuh hati. Tapi, jika harus diminta mengakui dan bekata jujur, perjalanan ini tak sepenuhnya menyeramkan sebagaimana yang digadang-gadang orang.
Tapi kalau memang tak bisa sendiri, ya tak apa berusaha untuk cari kekasih. Setiap perempuan bebas memilih, jalan mana yang akan dilalui.
Jadi, jangan pernah merasa sedih jika sendiri, tapi tak punya memandang sinis pada mereka yang masih saja terlihat sendiri. Karena, selalu ada alasan untuk setiap pilihan.








Komentar
Posting Komentar