Kenangan, Koran dan Balas Dendam


Lahir dan besar di keluarga yang serba pas-pasan. Sedari kecil saya punya hubungan yang cukup baik dengan koran. Bukan, bukan karena saya dagang koran di lampu merah. Tapi entah kenapa saya merasa dekat dengan kertas-kertas berisi informasi itu. Ibu saya adalah perempuan multitasking yang bisa apa saja, dan salah satu kemampuan yang banyak menopang hidup keluarga kami adalah kemampuan menjahitnya. Hal itu pulalah yang melatari beliau untuk meminta saya masuk SMK Tata Busana. "Kau tak akan kelaparan, kalau bisa menjahit", begitu kira-kira dulu beliau berkata. Walau sekarang saya justru nyasar masuk Ekonomi dan jadi pengepul kata.
Lalu apa hubungannya dengan koran. Begini, ekonomi yang cukup sulit membuat ibu jadi penjahit yang kadang melanggar aturan. Beliau membuat pola tak sesistematis ajaran guru SMK saya, bahkan kertas pola yang seharusnya dibuat dari kertas coklat ia ganti dengan koran bekas yang biasanya ia beli dari pengepul atau tukang botot (pembeli barang rongsok/bekas).
Dengan 2 ribu rupiah, biasanya ibu akan berhasil membawa 1 kilo koran bekas untuk dipakai membuat pola. Dan dari sini pulalah kebiasaan membaca saya dimulai, dimana bapak sebagai role modelnya. Ya, Bapak saya sedari dulu suka sekali membaca. Membaca apa saja, dan koran-koran bekas milik ibu adalah salah satunya. Lalu saya pernah mesem-mesem tertawa senang, saat sebuah sinetron di televisi memperlihatkan seorang Bapak dari keluarga kaya, menikmati kopi saat pagi sembari membaca koran di teras rumahnya yang besar. "Wih, kaya bapakku", begitu saya bergumam.
Masuk SMP pada sebuah pelajaran Bahasa Indonesia yang materinya surat kabar, saya baru tahu jika koran dicetak harian. Dan ternyata koran-koran yang selama ini bapak saya baca adalah terbitan 2 atau 3 tahun sebelumnya, hal itu saya tahu ketika pulang ke rumah dan buru-buru membuktikan pengetahuan yang baru saya dapatkan dengan mengecek hari dan tanggal serta tahun cetak setiap koran di bagian kanan atas.
Lalu menyombongkan diri di hadapan bapak saya. "Pak, ini kan koran udah lama, nih tahunnya aja udah 2 tahun lalu" begitu saya berujar sembari menunjuk petunjuk waktu pada koran yang saya pegang. Meneruskan bacaaan korannya, bapak saya cuma berujar "namanya juga koran bekas non, kalau mau beli tiap hari bapak mana bisa". Oh jadi koran itu dibeli, ternyata. Demi Neptunus, tadinya saya berpikir koran itu adalah sesuatu yang bersifat cuma-cuma dari Pemerintah, karena isinya yang tentang berita dan seputar kebijakan pemerintah saja.
"Memangnya koran harus dibeli?" tanya saya memastikan, "Iyalah. Lah Bapak nggak punya uang tiap hari, baca koran bekas juga nggak apalah". jawabnya dengan nada yang pasrah. Bayang-bayang tentang seorang bapak di televisi yang tadinya saya samakan seperti bapak saya, kemudian jadi sesuatu yang menganggu pikiran. Ternyata mereka berbeda, karena koran yang dibacanya tentu tak sama. Bapak yang di tv beli koran setiap hari, sedangkan bapak saya baca koran yang isinya kebijakan Presiden Megawati saat Indonesia sudah dipimpin oleh SBY.
Akan tetapi, kalaupun bapak punya cukup uang untuk beli atau berlangganan koran, tentu masih akan susah. Karena kami tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota. Nampaknya agak tak memungkinkan jika sang kurir datang untuk mengantar satu koran setiap hari untuk keluarga kami saja. Karena rasanya, saat itu sangat jarang orang yang membaca koran.
Keterbatasan ekonomi memang sering menyebalkan, tapi dari Bapak saya belajar untuk tetap bisa mengambil pelajaran dari segala hal. Sebab, meski koran-koran yang sering bapak baca adalah cetakan 2 atau 3 tahun lalu, toh masih ada informasi lain yang layak dijadikan pelajaran atau menambah wawasan. Kompas, Radar atau Republika adalah koran-koran yang paling sering ibu beli. Dan yang paling saya suka tentu saja Kompas, karena ada rubik sosok yang biasanya berisi cerita-cerita orang hebat.
Selepas SMK, saya hijrah ke Balikpapan dan tinggal bersama Tulang/adik laki-laki dari Ibu saya. Di sana mereka berlangganan koran, yang setiap hari di lemparkan oleh sang kurir dari luar pagar. Hal ini tentu didorong oleh keadaan ekonomi mereka yang jauh lebih baik daripada kami. Karena biasanya koran-koran itu hanya akan jadi tumpukan kertas, dan jarang sekali dibaca. Karena tulang saya lebih sibuk bekerja, dan kadang tak sempat untuk membaca koran. Namun ada kalanya beliau juga bersantai dan menyempatkan diri untuk membaca koran yang datang tiap hari.
Suatu pagi, saat melihat tulang saya bangun pagi kemudian duduk membaca koran, tiba-tiba ingat bapak di rumah. Mungkin bapak akan senang, kalau beliau bisa seperti tulang. Bangun pagi lalu baca koran yang dicetak di hari yang sama, bukan cetakan 3 tahun sebelumnya. Sejak saat itu, saya berniat untuk balas dendam pada koran. Saya merasa butuh berpenghasilan, menaikkan taraf hidup bapak dan ibu saya, hingga keduanya bisa bangun pagi lalu membaca koran. Sialnya, sebelum mimpi itu bisa saya wujudkan bapak sudah lebih dulu pergi.
Belakangan, saya merasa sudah punya uang yang cukup untuk sekedar membeli koran, itulah sebabnya sudah dua bulan belakangan saya sering membeli koran tiap pagi jika ingin berangkat kerja. Kalau saya sedang rajin, biasanya saya baca dan bawa pulang ke rumah. Tapi sering juga saya beli hanya untuk menuntaskan dendam saja. Iya, dendam karena dulu koran jadi benda yang amat berharga karena Bapak tak bisa membelinya tiap hari untuk dibaca. Ah, dari surga Bapak saya mungkin sedang senyum-senyum lalu bilang "Boruku ini memang aneh"

Komentar

Postingan Populer