Memelihara Rindu
Di halaman belakang puisi ini,
ada nama yang sedang ingin ku peluk erat-erat.
Membenamkan wajah hingga hilang di
dadanya, atau sekedar menggantungkan
tangan ke lengannya yang selalu terasa hangat
dan tegang.
Di halaman tengah puisi ini,
dia yang kurindukan barangkali belum menyadari.
Sibuk mengira perempuannya masih bisa
menahan, lagu mengulur waktu temu
yang makin mundur entah sampai kapan.
Di halaman depan puisi ini,
ada yang sedang tersenyum diam-diam.
Memperlihatkan wajah datar, yang justru membuat
perempuannya gemas dan jengkel bersamaan.
Jatuh hati memang selalu tanpa sebab,
tapi menahan rindu, kerap jadi sesuatu yang membuat
kita tak kuat.
Tak bisa berbuat banyak,
aku baru saja mengirimkan sekotak kangen
lengkap dengan berbagai macam kenangan
untuk melengkapinya.
Dariku, untuk kamu.
Jakarta, 3 Juli 2020, 10:32 Am
Imgsource : Pinterest



Komentar
Posting Komentar