Merawat Diri Memang Penting, Tapi Mencintai Diri ‘Jauh Lebih Penting’
Sudah hampir 1 tahun terakhir, saya stuggle dengan kulit wajah yang gejalanya ada-ada saja. Jerawat, patah tumbuh hilang berganti. Alhasil, wajah pun kian bruntusan dengan tekstur yang makin kasar dan gradakan. Alih-alih enak dijamah sebab biasanya lembut, situasi wajah saya justru lebih mirip jalanan rusak yang biasanya kita temukan di daerah. Tidak rata dan banyak lubang, karena memang tak tersentuh pembangunan. Bedanya, kulit wajah saya sudah mendapat berbagai macam perawatan. Dari krim dokter, sampai skin care topcer yang direkomendasikan beuaty influencer. Tapi hasilnya tetap nihil. Muka saya masih tetap jerawatan dan teksturnya makin tak karuan.
Merasa lelah, untuk coba skin care sana-sini. Padahal keinginan saya cuma satu, wajah saya bisa kembali seperti semula tanpa jerawat. Kalau pun ada, mungkin beberapa benjolan saja, di hari-hari menjelang menstruasi saja. Sesederhana itu sebenarnya. Tapi, harapan dan kenyataan memang selalu bertolak belakang. Sekalipun diri sudah berusaha, mendapat hasil yang diminta tak selalu jadi titik akhirnya. Sampai akhirnya, 2 bulan belakangan saya merasa kesal. Padahal, biasanya, untuk segala sesuatu yang diinginkan. Saya selalu hanya akan berhenti jika sudah mendapat hasil yang diinginkan.
Selain karena merasa semua upaya saya tak berbuah hasil yang baik, proses pemulihan kulit wajah yang saya lakukan berhenti karena sebuah artikel yang beberapa waktu lalu tak sengaja saya baca. Sederhana memang, artikel tersebut bahkan tak panjang-panjang amat. Bahkan kalimat yang justru membuat saya akhirnya berhenti untuk pakai skin care sana sini hanyalah satu kalimat pendek. Ya, satu kalimat pendek yang ternyata membantu saya lepas dari bayang-bayang beban persoalan kulit yang justru menciptakan ketakutan-ketakutan lainnya.
Kalau tidak salah kira-kira begini kalimatnya, “Kita sering bersemangat menginginkan sesuatu yang tak dimiliki, sampai lupa mencintai apa yang sebenarnya sudah dimiliki”. Tak tahu, berlaku untukmu atau tidak. Tapi upaya yang kemarin saya lakukan, memang terasa sebagai proses memberi makan ego yang terlalu besar. Berbagai macam upaya saya lakukan, mulai dari rutin berolahraga, menjaga pola makan, tidur yang cukup, hingga asupan air putih dan nutrisi lain yang saya jaga begitu ketat. Alih-alih berhasil memulihkan kulit wajah dengan bantuan skin care, yang saya rasakan justru lelah yang tak tahu sebab muasalnya.
Saya sibuk membayangkan hasil dari upaya yang saya lakukan, sampai kadang-kadang merasa kesal dengan diri sendiri karena upaya yang sudah dibuat belum jua menemukan hasil yang diinginkan. Hal inilah yang kemudian jadi beban, terus mengaung-aung di dalam pikiran sampai saya sampai pada titik lelah. Menyerah dan menerima saja. Rupanya, perempuan dan bayang-bayang upaya perawatan wajah adalah sesuatu yang cukup kompleks memang. Membuat kita jadi lebih sensitif, bahkan tingkat insecure dalam diri bisa mendadak naik begitu saja.
Sampai akhirnya saya belajar untuk menerima saja, seperti yang tertulis pada kalimat dalam artikel yang saya baca. Belajar untuk bersyukur dengan apa pun yang sedang terjadi pada kulit wajah. Dengan tetap melakukan upaya kecil untuk menjaganya. Anehnya, ternyata upaya ini justru lebih menunjukkan hasil. Sebisa mungkin, saya selalu menanamkan dalam pikiran. Jika perkara kulit wajah yang sedang tak karuan bukanlah sebuah beban yang harus dijadikan pikiran sampai membuat diri tidur larut malam. Sebab, hasil lain yang saya terima dari hal tersebut, justru kian membuat proses penyembuhan berantakan. Mengikis habis upaya menjaga pola makan dan pakai skin care yang sudah dilakukan. Karena teryata, selain menjaga kulit wajah dengan produk-produk perawatan yang sesuai. Suasana hati dan pikiran, serta waktu tidur yang cukup adalah faktor penentu yang harus diutamakan.
Dari sini, saya kemudian belajar. jika terkadang kita memang hanya butuh menerima. Berterimakasih dengan apa yang dimiliki dengan tetap berusaha untuk menjaga. Meski tak selalu berlaku padamu juga, karena tiap orang memiliki proses penerimaan yang berbeda. Sebab saya pun demikian, butuh kesadaran dan pemahaman yang benar-benar matang, untuk akhirnya bisa berkata “yaudah lah ya”.
Karena satu hal yang kemudian saya pahami, jika merawat diri itu penting maka mencintai diri sendiri jauh lebih penting. Jangan sampai proses dan upaya yang kita lakukan, membuat kita lupa untuk mencintai diri sendiri. Karena barangkali, lupa mencintai diri sendirilah yang justru membuat upaya yang kita lakukan tak kunjung menemukan hasil yang kita inginkan.



Komentar
Posting Komentar