Merayakan Bahagia dan Sedih dengan Cara yang Sama


Dari judulnya, beberapa dari kalian mungkin akan berpikir jika ini akan jadi catatan dari seseorang yang sedang putus asa. Tak lagi punya tenaga untuk berdiri, tak juga menemukan jawaban atas masalah yang tengah dihadapi, atau tak adanya jalan keluar dari semua kesulitan yang sedang dijalani. Tidak, aku berjanji ini tidak aja seperti itu. Sesulit apapun kehidupan dengan segala tetek bengeknya, aku tak akan mengajak kalian untuk turut serta dalam kesedihan yang mungkin sedang kualami. 

Tapi jangan pula berharap aku sedang ingin mengajakmu agar bersemangat lagi, berjuang lagi, dan berdiri lagi. Kakiku terlalu lemah, isi kepalaku lebih dipenuhi rasa sedih daripada harapan, sebab apa yang sedang terjadi mungkin benar-benar sudah diluar kendali. Orang-orang yang tak pernah merasakannya mungkin akan berkata, "Ah, begitu aja nyerah", serupa anak orang kaya yang sedang memberi kalimat motivas pada si anak miskin di tengah-tengah proses pencarian pekerjaan ketika ia bisa langsung jadi GM bermodalkan relasi papah. 

Terlampaui sering dicecoki kalimat penyemangat, diberi harapan dengan hal-hal indah yang konon sebentar lagi akan datang. Ayo terus berjuang, barangkali tujuanmu sudah ada di depan. Kita, terjebak dalam bayang-bayang kebahagian, berlari sekuat tenaga untuk mengejar impian. Meraung jika gagal, membenci diri sendiri jika masih saja tak bisa apa-apa. Seolah, hidup bahagia adalah satu-satunya tujuan kita. 

Kamu mungkin sedang berhenti sejenak, mempertanyakan kalimat barusan di dalam kepalamu. Untuk selanjutnya, bertanya pada diri sendiri. "Bukankah bahagia, memang tujuan semua orang?". Atas pertanyaan itu, aku ingin memberimu respon yang mungkin kembali membuatmu bingung, "Tapi, bukankah bahagia adalah sesuatu yang subjektif?". Kemarin kamu mungkin berpikir, jika kamu akan bahagia kalau kamu punya benda seperti yang dimiliki seseorang di tempat kerja. Tapi setelah memilikinya, ternyata rasanya biasa aja. 

Kejadian  seperti ini, barangkali juga terjadi pada sedih yang kita alami. Jika orang-orang akan menangis 7 hari 7 malam karena diputuskan kekasih. Belum tentu kita juga akan mengalami hal yang sama. Mungkin, tangismu hanya akan berlangsung 3 hari 3 malam saja, tapi tidak menutup kemungkinan juga bisa berlangsung selama 3 tahun lamanya. Lalu, sampai paragraph ke-5 ini, lagi-lagi bibirmu sudah ingin kembali melempar tanya, "Lantas tujuan tulisan ini apa?". 

Tidak ada tujuannya, tapi bisa jadi juga berguna. Syukur-syukur membantumu tak jadi bunuh diri karena sulitnya perkara hidup yang sedang kau hadapi. Jika bahagia bisa kita rayakan dengan makan enak di restoran mewah, berlibur ke pantai meski seorang diri saja, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Cobalah untuk melakukan hal serupa untuk merayakan sedih yang sedang kau rasa. Aku tahu ini terdengar gila, bagaimana mungkin bisa pergi makan di restoran mewah jika sedihnya karena tak punya uang misalnya. Kalau begitu, cari cara lain yang bisa membuatmu kembali merasa baik-baik saja tanpa harus repot-repot mengeluarkan uang. 

Terima semua sedihmu, sebagaimana kamu menerima bahagia yang pernah ada dalam hidupmu. Anggaplah mereka adalah sebuah situasi yang sama, yang tak harus kau hindari meski mungkin akan meninggalkan luka, yang tak harus kau lupakan walau kadang membuatmu kembali bersedih jua. Mungkin tak langsung membuatmu bahagia atau melupakan semua sedih yang kau rasa. Tapi setidaknya, itu bisa membantumu untuk merasa biasa saja. Sebiasa bagaimana ketika kamu bahagia lalu lupa, dan kembali untuk menjalani hidupmu selanjutnya. Maka terima dan jalani kesedihanmu dengan hal yang sama, lalu jalan lagi jika sudah merasa bisa. 

Sedih dan Bahagia adalah proses yang sama, sama-sama memberik kita pelajaran, sama-sama membantu kita untuk terus berkembang, walau mungkin dampaknya berbeda. Tapi kita boleh merayakannya dengan cara yang sama demi hidup yang harus terus berjalan. 

Komentar

Postingan Populer