Jika Ia Pernah Mengalami Trauma Seksual, Maukah Kamu Tetap Menjadi Kekasihnya?


Hal-hal yang tak pernah diharapkan, kerap kali jadi momok menakutkan yang justru datang tanpa diundang. Mengalami pelecehan seksual, barangkali jadi salah satunya. Ya, kita harus setuju, jika ini adalah kondisi mengerikan yang tak akan pernah mudah untuk dilupakan. Bagaimana gambaran kejadian itu selalu bertengger di kepala para korban. Menghantui pikiran, sampai membuatnya merasa tak layak, tak akan diterima, tak akan dicintai, dan barangkali akan sendiri sampai mati. Merasa dirinya ternodai, merasa kejadian itu akan terulang lagi. Di pikirannya, rentetan kejadian itu selalu membuatnya menutup diri, karena rasanya sulit untuk percaya lagi. 

Pertanyaanku, jika kejadian mengerikan itu ternyata (pernah) terjadi atas calon pacarmu atau terjadi pada pacarmu sekarang. Maukah kamu tetap menjadi kekasihnya?

Satu hal yang selalu saya percaya, jika ketulusan dan cinta berada jauh di atas segala kekurangan yang ada pada pasangan kita. Untuk itu, jika memang berniat ingin menjadi pasangan yang baik bagi seseorang yang memiliki trauma seksual, kamu perlu paham jika ada gejala stres post-trauma yang kemungkinan bisa muncul kapan saja pada perjalanan hidupnya. Untuk itu, penting sekali, agar kamu yang menjadi pasangannya, mengerti bagaimana kamu harus bereaksi atas dirinya. Bagaimana kamu akan  tetap peka terhadap ketakutan-ketakutan yang ia punya. 

Komunikasi, jadi faktor penting yang harus kalian lakuan sedari awal. Cobalah untuk mendengarkan dengan sebaik mungkin. Jika ia terlihat sudah mau membuka diri untuk menceritakan trauma yang pernah dialaminya. Sebagai pasangan atau calon pacar, penting sekali untuk membuatnya merasa memiliki tempat berbagai pikiran. Tapi, jangan pula buru-buru bertindak untuk mengorek informasi. Satu hal yang perlu kita sadari, orang-orang yang pernah dilecehkan secara seksual, mengalami kesulitan untuk mempercayai lagi. Untuk itu, respon yang paling ia diperlukan, adalah memberi ia ruang ketika dibutuhkan dan mendukungnya pada segala situasi yang membuatnya nyaman.

Ketika ia sudah terlihat nyaman dan mulai leluasa bercerita kepadamu. Kamu boleh mengajaknya berkompromi tentang hal-hal yang boleh dan tak boleh dalam hubungan kalian. Selain baik untukmu mengetahui apa saja yang masih ia hindari, membicarakan ini akan membantunya melawan rasa trauma. Memberinya ketenangan bahwa orang yang kini ada di dekatnya, bisa menyesuaikan tindakan, perilaku, ucapan dan perbuatan akan hal-hal yang selama ini menganggunya. Apakah kamu bisa memegang tangannya? Apakah dia sudah tak apa jika kamu ajak ke tempat-tempat tertentu yang mungkin bisa mengingatkan ia pada traumanya, dan hal-hal lain yang masih berusaha ia hindari. 

Sebab kamu akan jadi pacar yang akan berada dekat dengannya, atau pasangan yang segera tinggal bersama dirinya. Bantulah ia melawan semua rasa trauma dengan menunjukkan empati atas apa yang pernah dialaminya. Dan tahu kapan akan berhenti untuk melakukan segala hal-hal yang jelas-jelas dihindari oleh dirinya. 

Satu hal yang penting untuk kita semua sadari, selepas mengalami pelecehan seksual. Seseorang akan bersusah payah untuk membangun rasa sayang pada dirinya sendiri dan percaya pada orang lain. Ini akan jadi perjalanan panjang yang butuh proses penyembuhan tidak sebentar. Jadi, penting sekali untukmu yang jadi pasangannya, memastikan diri untuk mendukung proses penyembuhannya, apapun itu bentuk dan prosesnya! 

Komentar

Postingan Populer