Pertanyaan-pertanyaan yang Lahir dari Kehilangan

cahaya matahari pagi di kamar kosku, 27 Mei 2024 by Myself

Beberapa kali, setiap kali ingin menuliskan perasaanku di Media Sosial tentang Bapak dan Mama yang sudah tidak ada. Ada perasaan tak enak hati pada mereka yang akan melihatnya, entah itu mereka yang mengenalku secara pribadi atau yang sekedar follow tanpa tahu aku siapa. Aku membayangkan banyak hal, mulai dari rasa takut jika mereka yang membaca akan turut bersimpati, merasa ikut membayangkan apa yang aku tuliskan, atau justru menganggapku berlebihan. Ya, namanya, social media, setelah kita klik tanda kirim atau post, kita tak akan pernah tahu respon apa yang akan datang dari orang-orang yang akan melihatnya. Atas pertimbangan tersebut, beberapa kali, meski sudah menulis panjang lebar, atau sekedar ingin repost content-content tentang kerinduan pada kedua orangtua yang sudah tiada, selalu gagal kulakukan. Karena merasa belum siap atas banyaknya kemungkinan. Satu waktu, aku mungkin bisa merasa "bodoh amat" atas pendapat orang lain, tapi di waktu-waktu lain nyaliku bisa saja ciut, merasa takut, dan akhirnya hanya bisa berdiam diri dan berharap 

"Andai saja Bapak dan Ibuku masih punya waktu hidup yang lebih lama". 

Lima ratus lima puluh satu hari sudah berlalu setelah Ibuku pergi, rasanya tiada satu hari pun kulalui tanpa memikirkan beliau. Ada banyak penyesalan, ada banyak ketakutan dan kekhawatiran tentang bagaimana aku akan menjalani hari-hari ke depan. Satu kali tanpa sadar, air mataku tiba-tiba saja jatuh karena satu foto seseorang di Instagram yang memperlihatkan fotonya dengan Ibunya. Untuk menenangkan hatiku, aku sering berbicara sendiri pada diriku yang lain, berkata bahwa sesungguhnya apa yang sudah aku lakukan kepada ibuku selama Ia masih hidup, rasanya itu adalah perbuatan terbaik yang bisa aku lakukan. Karena baru sampai situlah kemampuan yang bisa aku berikan, baru sampai situlah sikap terbaik yang bisa aku tunjukkan. Beberapa kali, metode menghibur diri sendiri tersebut memang berhasil, aku merasa lebih tenang setelah berkata demikian. Merasa sudah tidak perlu menangis lagi, tapi seharusnya merelakan. Tapi di lain hari, meski sudah berbicara panjang lebar, selalu ada banyak macam penyesalan yang juga datang. Dari mulai "Andai saja", "Kalau saja", hingga perkataan-perkataan lainnya, yang selalu jadi representasi kegagalanku sebagai anak (setidaknya menurutku). 

Sebentar lagi usiaku tiga puluh, tapi setelah Ibu pergi aku merasa diriku hanya menjalani hari-hari saja. Sudah tidak ada ambisi, merasa hanya perlu bekerja seperlunya saja, meski sesekali masih punya energi untuk melakukan hal-hal lain yang bisa jadi pelarian. Tapi satu setengah tahun terakhir, beratnya betul-betul terasa. Untuk itu, aku kerap membenci malam hari. Karena saat harus pulang ke kamar kos kecil itu, aku akan selalu menatap foto kedua orangtuaku yang kemudian membawa pada pertanyaan atas ketiadaaan mereka yang ternyata adalah kenyataan yang sedari tahun lalu sudah harus aku jalani. Dan yang paling menyebalkan dari ini semua adalah kesedihan ini tak pernah benar-benar bisa aku bagikan pada orang lain, selain diriku sendiri. Kehilangan Bapak dan Ibu, benar-benar membuatku sadar, jika eksistensi kita di dunia ini, nyatanya hanya sebentar saja. Dan meski kita merasa jika kita akan selesai setelah kita tiada, kita tak akan pernah tahu apa yang akan kita tinggalkan pada mereka yang menyannyangi kita. 

Barangkali, itulah yang selalu kedua orangtuaku pikirkan, tatkala mereka melihatku berurai air mata meski diam setiap malam, saat kumerindukan mereka berdua. 



 

Komentar

Postingan Populer