Menonton Banda Neira adalah Tentang Kembali Melihat Banyak Hal
Hi semua...((semua ga tuh? kaya ada yang baca aja ini blog))
Tapi gapapa, tetap akan kusapa dengan hi semua aja. Recent update dari kehidupanku beberapa bulan belakangan ini, ada banyak hal yang rasanya terasa menumpuk di kepala. Beberapa kali, untuk bisa mengurainya perlahan, aku coba menulis lagi atau membaca, walau satu buku terakhir yang kubeli, masih saja belum kelar-kelar juga. Pemalas memang, tapi masih berupaya untuk tetap beli buku, minimal 1 buah di satu bulan. Walau belum tahu akan dibaca kapan dan aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk?
Btw, keinginan untuk ingin menuliskan hal-hal yang sekiranya berguna dan bermakna, rasanya membuat aku jadi kebanyakan memilah. Apakah yang harus aku tulis di sini, bagian mana dari banyaknya suara bising di kepala yang harus aku keluarkan, hingga akhirnya, hari ini aku memutuskan membuat tulisan ini.
Ketika dashboard blog ini aku buka, aku masih belum tahu akan menulis apa dan tentang apa. Jadi jika nanti tulisan ini terasa tak terarah dan menyimpang kemana-mana, karena begitulah adanya. Sebab tanganku hanya akan menuliskan kata per kata yang spontan keluar dari isi hati dan pikiranku saat sedang duduk menulis ini. Dan sebagai informasi, kaliamat pembuka tulisan ini dimulai pada sekitar bulan Agustus 2024, tapi kemungkinan belum tahu akan selesainya kapan. Di akhir, sebelum menutup tulisan ini, aku mungkin akan menuliskan waktu terbaru sebelum akhirnya mengunggahnya.
Dari banyaknya hal yang kemungkinan bisa aku bagikan kepada kalian yang membaca, ((semoga ada ya)) kesempatan untuk kembali melihat banyak hal, ada pada urutan paling atas. Ini mulai kusadari pada perjalanan-perjalanan beberapa bulan belakangan yang harus kulakukan. Sedikit menjelaskan context-nya, belakangan pada setiap pertengahan bulan aku harus ke luar kota untuk melakukan satu pekerjaan dan sembari menjalani tugas itu, ada beberapa hal yang sekiranya aku ingin tuliskan, agar suatu saat bisa aku baca kembali untuk jadi pengingat untuk diri. Entah itu akan menyenangkan atau tidak, setidaknya tulisan ini mungkin akan membantuku merawat ingatan.
*maaf opening awal blog ini, hanya sampai di sana saja, karena waktu dan hal-hal lainnya, ternyata aku tak bisa melanjutkan tulisan sebelumnya.
Tapi karena merasa sayang dengan kalimat yang sebelumnya sudah aku pikirkan, aku merasa tak perlu menghapus beberapa alinea di atas. Sebaliknya, aku memutuskan untuk merubah judul blog ini dan berencana menuliskan satu pengalaman yang menurutku akan jadi the most memorable moment in my life, setidaknya sampai usiaku tiga puluh. Karena kupikir pengalaman yang akan aku ceritakan, masih jadi bagian dari kesempatan untuk melihat lebih banyak hal. Tapi apakah itu? jawabannya...
AKHIRNYA MENONTON BANDA NEIRA
Maaf, kalimat itu harus di-bold dan diberi warna penanda, jadi, jika nanti blog ini masih ada, aku bisa kembali membacanya dan mengingat hal besar dari isi cerita kali ini. Sebelumnya, aku juga menuliskan tentang bagaimana perasaanku menonton Hara (Rara Sekar) yang tadinya adalah bagian dari Banda Neira. Dan di tahun sebelumnya, pasca Ananda Badudu mengeluarkan EP Angkat dan Rayakan, aku juga ikut menonton panggung intimnya yang cuma dihadiri sekitar 20-an orang saja. Dipikir-pikir, aku memang cukup getol juga ya, untuk mengikuti perjalanan karir bermusik mereka berdua. Setidaknya, meski tidak menonton mereka berdua secara langsung, aku merasa keputusan bubar mereka di 2016 silam yang membuatku menangis bak anak ayam ditinggal induknya, setidaknya terobati.
Akhir 2024 lalu, Banda Neira secara mendadak Banda Neira bangun dari tidur panjangnya (anjay), tiba-tiba akun Instagramnya aktif kembali dan BOOOMMM!!!! Mereka mengabarkan akan kembali melanjutkan perjalanan Banda Neira namun dengan format personil duo yang baru. Betulsss, Mas Nanda ((akrab banget)) mengumumkan kalau Sasha Saron atau sashaiguana akan jadi personil barunya. Baca caption tersebut di postingan akun mereka, aku jadi kembali mengingat satu momen saat aku dan seorang teman bercerita tentang Banda Neira. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku berucap demikian, "Sedih saat musisi yang kita suka bubar itu tidak bisa terelakkan, kesal juga mungkin ada, tapi rasa terima kasihku ke mereka tuh, udah tumbuh dewasa jadi aku tuh yakin, keputusan itu juga nggak mudah buat mereka. Jadi seterusnya aku mau jadi pendengar dan mendukung apapun yang akan mereka lakukan di karir musiknya. Selama itu buat mereka happy". Dewasa sekali bukan? Hahaha
Maksudku begini, bagaimana cara kita menghadapi sesuatu tuh kadang memang perlu dipikirkan dari berbagai sudut pandang. Rasanya, waktu itu aku sudah ikhlas-ikhlas saja, kalaupun Banda Neira nggak akan pernah muncul ke permukaan lagi, nggak akan pernah kutonton secara live lagi. Toh, aku masih bisa menonton masing-masing dari mereka. Tapi ternyata dunia tuh berjalan dengan cara yang tidak bisa kita tebak, apa yang kita anggap tidak akan justru bisa jadi kejadian. Ini mungkin terdengar terlalu hiperbola, karena Mas Nanda juga belum tentu tahu aku hidup, ada di dunia dan mendengarkan musiknya. Tapi satu hal yang pasti, bagaimana caraku merawat hubungan dengan lagu dan mereka yang menyanyikannya, memberiku satu pemahaman, bahwa sesuatu yang kita ikhlaskan dan tetap dijalani (means: mendukung mereka meski sendiri-sendiri) memberiku perasaan senang yang berbeda ketika ternyata Banda Neira kembali.
Setelah kabar aktif kembali sebagai duo, mereka juga merilis satu album baru berjudul "Tumbuh dan Menjadi", mereka juga mengumumkan jadwal tour keliling di beberapa kota besar. Dan belakangan saat tulisan ini aku selesaikan, konon mereka akan melanjutkan perjalanan tour album baru tersebut tak hanya di Bali dan Pulau Jawa saja, tapi juga ke beberapa kota di Sumatera dan negara sebelah, Malaysia. Dibaca dari sudut pandangmu, sebagai seseorang yang bukan aku, agaknya tulisan ini mungkin sedikit hiperbola. Jika bisa menebak, rasa bahagiaku sampai harus menuliskannya sebagai satu cerita di blog ini, mungkin sulit kau pahami sebagai seorang pembaca. Tapi percayalah, alasan utamaku menuliskan ini semua tentu saja, karena aku ingin mengepul dan merawat semua kenangan. Apalagi jika itu adalah kenangan baik yang memang layak diingat di masa depan.
Dari dua jadwal manggung mereka di Jakarta, aku memilih untuk menonton di hari kedua. Tidak ada alasan khusus, di bayanganku aku ingin menonton di hari tenang yakni Minggu, karena jika aku menonton di hari Sabtu, kupastikan momennnya mungkin tidak bisa kulalui dengan santai, Sebab pekerjaanku, kadang kala tidak ada habisnya meski sabtu adalah hari libur, sebab beberapa hal yang kerap di luar dugaan menjadikan libur adalah kata kerja. Aku datang di awal, bahkan sebelum para panitia sudah bersiap untuk menerima para penonton. Terlalu bersemangat dan tak ingin datang tergesa-gesa, lagipula venue konsernya tidak jauh dari tempatku tinggal. Jadi kupikir, lebih baik menunggu saja.
Seusai konser, saat sedang ikut mengantri untuk signed album dan merchandise yang kubeli di venue, orang yang lagu-lagunya kukagumi itu, ternyata mengingat posisiku duduk selama konser berlangsung. Ucapannya mungkin sederhana, tentang rasa terima kasihnya karena aku sudah datang menonton tapi interaksi kecil tersebut setidaknya mendorongku untuk membalas ucapannya untuk berterima kasih juga karena sudah membuat banyak lagu baik dan manis yang menemaniku tumbuh dewasa. Dan lagi-lagi, meski sudah beberapa kali menonton konsernya dan bisa berinteraksi secara langsung dan dekat. Menjadi kaku dan bingung harus berkata apalagi, selalu jadi musuh yang tak bisa kukalahkan di hadapan sosok yang menjadi idola ~ ~ ~ Betuls, start stuck itu nyata pemirsahhh!!!
Jakarta, 02 Apr 2025
.png)
.png)



Komentar
Posting Komentar