Bulan Juni untuk Ibuku
8 Juni 2025
Beberapa minggu lalu, di tanggal dan hari yang selalu kulalui dengan rasa bahagia, hampir 3/4 hari kulalui dengan rasa senang yang bukan sekedar biasa. Penyebabnya, karena dua keponakanku yang sedang libur semester sebelum masuk SMA sedang berada di Jakarta, dan hari itu kami sudah membuat jadwal untuk pergi keluar dan menikmati sore bersama. Tujuannya adalah sebuah danau dengan banyak tenant makanan di sebuah perumahan besar di sekitaran Jakarta Barat. Menghabiskan 15 menit pertama, kami berfoto bersama di beberapa spot, ketika melihat kembali beberapa hasil foto, aku tak sengaja terpaku pada keterangan waktu di ponselku. Delapan Juni, sebuah momen yang biasanya selalu membuatku merasa senang, namun jadi momen galau di 2 tahun terakhir, dan sialnya tahun ini aku justru melupakannya dan baru ingat di sore hari. 08-06-1960 adalah hari lahir Ibuku, ia pergi 2023 lalu, dan baru dua tahun berlalu, bagaimana mungkin aku sudah melewatkan hari ulang tahunnya. Mengapa aku berlaku demikian? Ibuku pasti merasa sedih sebab anaknya tak lagi mengingatnya? Bagaimana aku bisa menjelaskan, jika tiba-tiba ada pertanyaan, "Loh, kok lupa?". Momen foto-foto bersama yang tadinya menyenangkan, mendadak jadi sebuah penggalan waktu yang membuatku berhenti sebentar, bertanya-tanya pada diri sendiri. Merasa bersalah dan tanpa sadar menangis karena aku benar-benar takut.
Ibuku yang kini sudah tidak bisa kulihat itu, mungkin hanya akan menggurutu kecil karena aku lupa hari lahirnya. Tapi hal yang jauh membuatku menangis dan merasa takut adalah Bagaimana jika suatu saat nanti aku akan benar-benar lupa hari ULANGTAHUN IBUKU? Bagi beberapa orang mungkin ini adalah sebuah hal sepele, tapi aku merasa, setelah melepas kepergian ibuku. Mulai lupa akan beberapa potongan kenangan tentang dirinya adalah hal yang benar-benar tidak ingin kulakukan. Aku tak ingin melupakan suara ibuku, aku tanya ingin melupakan bagaimana rasa makanan mie goreng buatannya, bagaimana ia tertawa, bagaimana ia memanggilku dan membangunkan setiap pagi. Dan tanpa sadar, baru saja aku melakukannya, melupakan satu potongan kenangan tentang ulangtahun ibuku.
Tahun ini, aku mungkin hanya akan lupa di 3/4 hari dan mengingatnya pada sore hari. Tapi bagaimana jika tiga atau empat tahun lagi, aku akan melupakannya sepanjang hari? Apakah hal itu akan jadi kenyataan? atau ini hanya karena kemampuanku mengingatku yang barangkali, mungkin memang lemah. Hal yang aku tahu, itu jelas jadi sesuatu yang menyakitkan, baik bagi Ibuku yang hari lahirnya dilupakan anaknya. Buruk juga bagiku, tapi apakah pemikiranku ini adalah benar? saat ini aku juga belum bisa menjawabnya.
Aku terus melanjutkan kegiatanku bersama kedua keponakanku hingga malam. Hari itu kami tutup dengan mengobrol bersama sembari makan camilan di sebuah cafe. Di jalan pulang ke tempat tinggalku, aku melewati sepanjang jalan dari tempat kami bertemu ke arah Halte Bus terdekat sembari bertanya-tanya dalam hatiku? Mengapa rasanya, dadaku sesak sekali ya, padahal aku tidak berniat melakukannya, tapi di sisi lain, hatiku juga sakit, merasa bersalah, namun bingung bagaimana untuk mengaku salah atau sekedar menenangkan diriku untuk sementara.
Meski supir ojek onlineku tidak mendengar, aku tahu jika beberapa tetes air dari mataku masih terus jatuh di sepanjang jalan. Kuusap ketika sudah ingin memasuki halte transjakarta untuk melanjutkan perjalananku, karena ketika ingin bertemu kedua keponakanku tadi, aku memang memutuskan untuk tidak membawa kendaraan sendiri. Di perjalanan dengan transjakarta, aku mulai mengurai pikiran kusut itu dengan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri. Sembari bertanya-tanya lagi, apakah ini wajar? atau justru tidak? apakah orang lain juga bersedih ketika secara tak sadar melupakan hari ulang tahun Ibunya yang sudah meninggal? apa ini berlebihan? atau aku terlalu lebay dan masih memelihara rasa kehilanganku? Tak ada jawaban pasti, yang ada di hadapan mataku sekarang ada nyala lampu rumah-rumah penduduk dan beberapa gedung tinggi di sekitar area mendekati Grogol, sebab transjakarta yang kutampangi baru saja melewati fly over Pesing.
25 Juni 2025
Pikiran ini cukup mengusikku, sampai akhirnya aku kepikiran untuk memberanikan diri membaca sebuah buku yang sebenarnya sudah kubeli 5 bulan lalu namun masih saja belum berani membacanya. Karena thema bukunya adalah tentang bagaimana menghadapi duka. Dan sepertinya, sampai beberapa minggu lalu, aku merasa masih belum bisa keluar dari hal-hal yang masih membuatku mengingat Ibuku. Buku itu diberi judul "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring", aku tahu penulisnya, sebeb beberapa kali tweet perjuangan ia dan sang istri untuk merawat buah hati mereka Hiro, kerap lewat di beranda twitterku. Dan tak pernah ada perasaan tidak terenyuh tiap kali aku membaca tweet beliau. Itulah alasannya, mengapa akhirnya aku membeli buku tersebut, meski baru bisa kubaca baru-baru ini.
Setelah membaca bab-bab awal, secara tidak sadar, aku juga menangis membayangkan betapa ketakutan dan kesedihan yang mereka alami sungguhlah berat. Pikiran dan perasaan manusia memang aneh, bagaimana mungkin aku ikut menangis, untuk seseorang yang kutahu hanya dari beberapa tweet dan berlembar-lembar cerita yang kini ditulis Ayahnya, untuk membantu lebih banyak orang untuk bersedia menikmati masa berdukanya. Sebagaimana narasi di dalam bukunya, aku tak ingin menyebut menghadapi dukanya, karena yang belakangan kusadari, duka itu hanya perlu kita nikmati saja, sebagaimana kita menikmati tawa, haru, senang, dan berbagai macam perasaan lainnya.
Cuci piring itu seperti berduka. Tidak ada orang yang suka melakukannya, tapi pada akhirnya, seorang harus melakukannya. (hal.32)
Mengibaratkan duka = mencuci piring, dari penulis buku ini aku menyadari jika semua rasa sesal, rasa takut, dan rasa bersalah yang 2 tahun belakangan ini bersarang dalam hati dan pikiranku adalah proses panjang dari duka yang barang memang belum berhasil kunikmati untuk bisa terasa lebih bisa diterima. Meski tidak langsung bisa paham selepas membaca semua isi halaman buku tersebut, tapi aku sangat berterima kasih kepada sang penulis, karena selain kemampuannya menjadi seorang Psikiater, beliau juga memiliki kemampuan bercerita yang baik. Aku merasa lebih mudah memahami tumpukan perasaan takut yang selama ini kumiliki. Meski belum merasa bisa merelakan kepergian Ibuku, aku merasa tidak apa jika ternyata perjalanan dukaku masih harus berlanjut. Kupikir tak apa jika aku masih akan menangis sesekali jika melewati hari tanpa satu kali pun mengingat Ibuku. Aku merasa tidak apa jika akan dianggap lebar, sebab masih saja sering menulis status di sosial media tentang kerinduan pada Ibuku.
Toh, hidup memang tidak bisa senang terus, dan bagaimana proses berduka juga tak akan bisa sama meski kita kehilangan orang yang sama. Lalu aku mendadak teringat sebuah tweet yang muncul di beranda twitterku, yang aku sendiri tidak tahu siapa. Pada tweet itu, ia menuliskan, konon setelah 2019 banyak orang melanjutkan hidup dengan sekedar bertahan dan beradaptasi dengan situasi. Awalnya, aku merasa ia ingin mengarahkan opini itu terhadap perubahan banyak hal di kehidupan manusia setelah pandemi covid-19. Tapi ketika aku membaca tweet itu untuk kedua kalinya, yang ada di kepalaku justru hidupku selepas Ibuku pergi. Aku sadar jika ada banyak kesedihan yang sampai sekarang masih aku pelihara dalam diriku, tapi belum punya kekuatan untuk bisa melepasnya satu-satu.
Ketika Ibu masih ada, aku sering bilang padanya, bahwa selepas Bapak meninggal, ada banyak penyesalan yang bertumpuk di kepalaku tapi aku tak tahu cara mengurainya. Kadang aku ingin mencari sesuatu yang disalahkan, seperti "Kenapa Bapak meninggal, saat aku belum jadi belikan ia sepatu pantofel baru?". Meski tak mendapat banyak jawaban, setidaknya ibuku mungkin akan membalasku dengan beberapa nasihat untuk terus hidup. Karena semua manusia akan mati dan yang masih hidup harus terus melanjutkan hidupnya. Sialnya, sekarang jika perasaan-perasaan demikian hinggap dalam diriku, aku hanya akan duduk, diam, sambil berpikir,
"Sudah nggak ada Bapak atau Ibu, terus gimana ya caranya aku untuk terus hidup?"
Perasaan takut ini kupikir makin terasa besar ketika adikku menikah. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, tentu aku merasa sangat bahagia, karena akhirnya dia berani untuk mengambil keputusan besar untuk hidupnya. Aku turut berbahagia dan tentu berdoa baik pula untuk hidupnya. Walau aku pun tahu, di sela-sela kebahagian dan beberapa langkah besar yang ia ambil, ada duka yang juga ia rasakan, karena biar bagaimanapun ia jauh lebih muda ketika Bapak dan Ibu kami pergi untuk selama-lamanya.
Aku mungkin masih terus merasa butuh menangis setiap kali merindukan Ibuku, tapi adikku hanya butuh melihat foto Ibu kami tiap kali dia merindukannya. Barangkali, proses berdukaku masih harus berjalan, tidak untuk selamanya, tapi kurasa belum jua akan selesai dalam waktu dekat. Tapi yang pasti, aku akan terus belajar untuk mengelola semua rasa sedih dan duka yang kumiliki. Dan saat ini, membaca buku dan merajut barangkalia jadi slow terapi yang bisa aku lakukan.
Setidaknya, membaca memberiku sedikit waktu untuk lepas dari tumpukan duka atau ketakutan lain yang sebenarnya kadang nggak penting juga. Beruntungnya sedari dulu, aku sudah terbiasa untuk tidak selalu membandingkan hidup yang aku jalani dengan orang lain, jadi ketakutanku hanya akan tentang bagaimana aku mampu menjalani hidup hari ini dan di masa depan. Karena jika itu akan bertambah dengan mulai membanding-bandingkan hidup, kupikir kerumitan ini akan bertambah banyak dan besar. Seperti yang kau tahu, jadi perempuan 30 tahun yang masih hidup sendiri dan baru saja dilangkahi adiknya menikah di keluarga Batak, bukanlah sesuatu yang mudah sodara.




Komentar
Posting Komentar