Bicara Batak #3 : "Ya, Saya Hanya Akan Menikah dengan Orang Batak"
Mengawali Bulan Juni yang akan dihabiskan dengan liburan panjang, saya pikir ada beberapa hal yang sudah menjadi kewajiban tetap harus saya jalankan. Terhitung hari ini, aktivitas di kantor memang sudah dliburkan. Tapi berhubung, pekerjaan adalah sesuatu yang amat penting, untuk beberapa hal, saya masih harus membuka laptop sejak tadi jam 7 pagi dan belum mandi sampai saya menulis ini.
Dari judul cerita kali ini, beberapa orang yang sudah pernah membaca beberapa tulisan saya mungkin akan berujar "Dasar labil, kemarin katanya mau nyari pacar diluar Batak" Yaya, saya akui. Sejauh ini, sebagai perempuan yang masih berusia 23 tahun ada banyak sekali perkara-perkara yang bisa datang dan pergi begitu saja. Dulu saya suka sekali makan indomie, tapi 3 tahun terakhir saya hanya membatasi diri untuk makan indomie satu bulan 2 kali. Dulu saya suka sekali tidur cepat, tapi 2 tahun terakhir saya justru hanya akan terlelap diatas jam 2 malam, Dulu dimata saya ukuran lelaki yang patut dijadikan pacar, adalah Dia yang wangi, bersih dan rajin gosok gigi, dan pastinya cakep. Iya, terlalu menilai fisik memang, dan saya paham jika itu tak baik, tapi itu dulu. Toh sekarang tak lagi begitu.
Tiap-tiap kita pastilah mengalami yang namanya masa transisi, apa yang tadinya tak pernah dipikirkan kini justru jadi tujuan, apa yang tadinya susah untuk didapatkan, kini sudah berada di tangan. Hilang dan tumbuh, patah dan berganti, datang dan pergi. Begitu pula pikiran saya terhadap lelaki.
Jika tahun-tahun sebelumnnya, saya merasa sulit untuk berdamai dan mengikuti alur dari segala hal yang disuguhkan oleh Adat Batak, Hingga kemudian tercetuslah pemikiran "Ah, saya tak akan menikah dengan orang Batak. Ribet!" Alasannya jelas, saya kurang sepaham akan banyaknya perkara-perkara dan aturan yang menjadi ketetapan dari rangkaian Adat yang banyaknya minta ampun. Mulai dari proses kelahiran - tumbuh kembang - besar - dewasa - menikah - punya anak - meninggal - after dead - and repeat.
Tapi kali ini, saya jelas tak akan membawa kamu kesana. Karena hal tersebut jadi sesuatu yang amat kompleks dan sangat luas pemahamannya. Dan jelas, saya tak layak untuk membicarakannya. Sebaliknya, sesuatu yang akan saya bicarakan adalah bagaimana pasangan-pasangan beda suku (Red : Batak vs Bukan Batak) menjalani hidupnya dalam hal berumah tangga. Hingga akhirnya saya memilih, hanya akan menikah dengan lelaki BATAK saja!
Sedikit saya jelaskan, mengapa akhirnya saya berpikir untuk membuat tulisan ini. Barangkali ada beberapa orang yang juga sedang merasakan keresahan yang saya. Beberapa bulan lalu, saya sering membuka akun-akun instagram yang mengikut sertakan nama batak dalam kontennya. Dan salah satu postingan di akun @bataktive, akhirnya jadi awal mula mengapa saya kembali merenungkan hal ini jadi sesuatu yang perlu dipikirkan secara matang.
Serupa dengan caption yang ada di postingan tersebut, saya pun setuju jika perkara jodoh memang tak ada yang bisa menerka. Bahkan apapun alasanmu untuk menikah, jelas itu adalah hak semua orang. Mau menikah dengan bule Amerika, orang Arab, orang Turki, Orang India, selama dia adalah manusia sepertinya akan sah-sah saja.
Setelah hampir dua minggu memikirkan pilihan, Untuk tak menikah dengan Batak yang kemarin-kemarin saya ingini, saya lantas berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang keliru. Dan setidaknya ada beberapa alasan yang akhirnya saya jadi patokaan, mengapa saya hanya akan menikah dengan orang BATAK saja.
Saya Tak Mau Jadi Perempuan yang Egois
Yap, egois! Loh kenapa? gambarannya begini, kamu pasti tahu kan, kalau semua orang yang menikah dengan bukan orang batak otomatis harus menarik pasangannya masuk ke dalam batak juga, kecuali kamu akan menikah tanpa adat ya. Karena itu lain cerita.
Kakak ketiga saya, menikah dengan orang Nias yang notabennya bukanlah suku yang sama dengan kami (Batak Toba), walaupun kita berasal dari provinsi yang sama. Tapi nias jadi suku terluar dari batak, yang saya sendiri masih susah untuk memahami apakah mereka batak atau bukan.
Saya pikir, untuk kasus mereka, kakak saya memang bukanlah pihak yang egois. Sebab, abang ipar saya belum ditarik ke dalam Batak, begitupula dengan kakak sayang yang tidak juga ditarik ke Adat Nias. Sebab dulu mereka menikah bukan dengan Adat batak atau Adat Nias. Mereka memilih untuk menikah dengan konsep yang nasionalis, hanya dengan pemberkatan dan resepsi.
Dan, sebagai pengingat sejati. Saya masih hafal, bagaimana dulu para tetangga di kampung bergunjing untuk perkara ini. Ya, jadi orang Batak memang harus tebal telinga, karena setiap perbuatan kita yang tak sesuai norma, jelas akan jadi bahan perbincangan sampai pada tetua.
Tapi toh, saya bangga sama kakak saya. Mereka hidup bahagia, adem ayem saja dan hampir tak pernah terdengar cek-cok. Bahkan, dalam hal menjalani tugas rumah tangga, abang ipar saya banyak mengambil peran yang harusnya dikerjakan oleh perempuan. Ya, ia mau meyuci pakaian, membersihkan rumah, menyuci piring, bahkan mengikat rambut anak perempuannya. Lalu bandingkan dengan lelaki Batak pada umumnya, menyuci piring? Ada mungkin, tapi sedikit!
Kasus lain yang juga jadi bahan pelajaran buat saya adalah pernikahan kakak sepupu saya yang memilih menikah dengan orang Dayak. Berbeda dengan kakak saya tadi, kakak sepupu yang ini menikah dengan adat Batak yang besar dan Meriah. Dan sebagaimana lazimnya, sebelum pesta pemberkatan dan adat, sang laki-laki ditahbiskan menjadi orang Batak terlebih dahulu, biasanya diangkat menjadi anak dari Namboru (bibi) dari perempuan, diberi marga dan sah menjadi orang Batak sebelum nanti menikahi perempuan Batak yang dicintainya.
Dan biasanya, jika sudah menggelar pesta dalam adat Batak. Sedikit sekali yang juga akan menggelar pesta dengan adat dari pihak sebelah. Walaupun, mungkin ada beberapa pasangan yang juga melakukannya. Ya, seperti kakak sepupu saya yang kemarin menikah dengan orang Dayak, mereka menggelar acara kecil yang berasal dari adat Dayak. Meski tak semeriah adat Bataknya.
You see guys?
Oh, Maaf saya tak bilang jika kakak sepupu saya adalah sosok yang egois, karena memilih untuk menarik suaminya untuk masuk ke dalam Batak. Karena bisa jadi itu adalah hasil kesepatakan mereka bersama.
Namun, jika ada yang akan bertanya, sekalipun suami saya kelak akan terima-terima saya ia diberi marga, dan ikhlas untuk mengikuti semua ritualnya. Saya paham, pasti ada beberapa hal yang menjadi sesal dalam dirinya. Untuk lebih merasakan bagaimana posisinya, coba bandingkan dengan ketika kita yang bersuku batak diminta dan dipaksa untuk masuk dan ikut dalam adat mereka, melonggarkan identitas aslimu untuk bisa memberi jeda pada status yang baru. Saya pribadi jelas tak mau!
Dengan alasan cinta, dia yang kelak akan menikah dengan saya, dan bukan orang Batak mungkin akan mengangguk-angguk tanpa perlawanan sebagai tanda setuju. Tapi isi hatinya, siapa yang tahu?
Lagipula, menghargai pasangan sejak awal, saya pikir akan jadi sesuatu yang wajib untuk kita miliki. Dan memaksanya untuk menjadi apa yang kita ingini bukanlah bentuk dari menghargai.
Saya Tak Mau Jadi Sosok yang Lupa Akan Adat dan Budaya
Eits, tunggu dulu, tahan emosimu! Sekali lagi, saya jelaskan ini adalah perkara saya dan apa yang jadi hasil dari pemikiran. Bisa jadi berlaku sama untuk orang lain, tapi juga mungkin tak sejalan dengan apa yang pihak lain pikirkan.
Rangkaian adat yang tadi saya keluhkan, kadang jadi sesuatu yang amat menyebalkan. Untuk itu, kelak jika akan menikah. Saya pikir memakai sanggul besar yang bukanlah pilihan, sebab pesta yang akan berlangsung seharian membutuhkan energi dan tenaga yang besar. Tak lucu kan, jika tiba-tiba saya akan pingsan karena kelelahan menjinjing sanggul yang besar. "Eh, tapi kan itu jadi bentuk yang melupakan budaya dong? secara pengantin Batak kan umumnya pakai sanggul besar?"
Saya pikir sanggul adalah sebuah item fashion yang juga mengalami perubahan mode. Jika dulu mungkin ditandai dengan bentuk yang besar, mungkin sekarang tidak lagi demikian. Menyatakan bahwa si pengantin tak bersanggul besar, berarti melupakan budaya itu sama saja dengan sama konyolnya dengan kamu yang memilih menimpa air sumur pakai timba manual padahal ada mesin yang tinggal tekan tombol saja. Nah, sampai disini paham? Baiklah mari kita lanjut lagi.
Berkaca dari saudara-saudara saya yang memilih menikah dengan orang di luar Batak, banyak yang akhirnya berubah dan melupakan jati diri. Bahkan, ada pula yang seolah malu untuk terlihat sebagai orang Batak Asli. Bahkan saya yang pernah berkunjung ke rumahnya saja, diomelin hanya karena mengajari anaknya beberapa kata dalam bahasa Batak. Hahaha
Saya memang percaya, di luar sana masih banyak orang batak yang menikah dengan bukan batak, tapi tetap memegang teguh nilai-nilai budaya dan segala aturan adat yang memang sudah selayaknya dipegang teguh. Tapi, saya pribadi adalah manusia biasa yang masih sering salah. Hari ini mungkin saya bisa bilang tidak akan Indomie, tapi esok ada saja hal yang bisa membuat saja membatalkan janji.
Begitu pula dengan prinsip akan memegang teguh adat meski menikah dengan bukan orang Batak. Mungkin akan terdengar sebagai sebuah ungkapan dari seorang yang tak percaya diri, tapi saya sendiri hanya akan berjanji pada hal-hal yang saya yakin bisa saya tepati.
Jika saya akan menikah dengan orang Batak dan kurang bijak serta tak taat dalam Adat, saya mungkin hanya akan menanggung salah dari dalam diri saya saja. Sebab dia yang juga Batak juga pasti paham apa yang harus ia jalankkan. Tapi, jika saya tak taat dan tak juga bisa membinmbing pasangan yang bukan Batak dalam hal Adat, kesalahannya pastilah sudah double kan. Karena dia menjadi Batak oleh karena saya, tapi saya tak bisa membawanya dengan baik.
Bagaimana, cocok kam rasa?
Saya Tak Mau Susah Payah Untuk Menyamakan Suara dalam Hal Menjalani Bahtera Rumah Tangga
Sebagai perempuan Sagitarius sejati, saya memang jadi sosok yang selalu mencintai tantangan, senang dengan hal baru yang menantang tapi tidak untuk perkara menyatukan pendapat dengan pasangan. Beberapa orang mungkin susah, akan tak akan protes jika salah satu dari mereka selalu memberinya pandangan yang jauh berbeda dari apa yang menjadi isi kepala.Tapi tidak dengan saya!
Maksudnya begini, pandangan-pandangan yang saya maksud adalah beberapa hal yang nantinya akan jadi bagian dari runitinas menjalani kehidupan sebagai orang Batak. Mulai dari berbagai tugas pada masing-masing acara keluarga, harus duduk di sebelah mana kamu jika sedang bertamu ke rumah Hula-hula, Ulos macam apa yang boleh kamu bawa pada pesta seorang tondong (kerabat), dan segala tetek bengek lain yang selalu akan jadi bahan diskusi.
Bayangkan, jika dia yang kelak akan menjadi suami adalah bukan orang Batak. Itu artinya, saya bertanggung jawab untuk mengajarinya segala hal. Padahal saya sendiri yang sejak lahir sudah menjadi orang Batak saja, belum paham benar. Bukan tak mau ribet untuk memberi pemahaman, hanya saja itu akan jadi sesuatu yang amat susah dijalankan.
Maka, terpujilah mereka yang bisa melakukannya dengan benar!
Dan yang Terakhir Saya Tak Mau Memutus Rantai Keturunan
Yap, ini adalah alasan logis lain yang juga saya pikirkan matang-matang. Ya, jika saya menikah dengan seorang yang bukan Batak, mau tak mau dia memang akan diberi marga. Tapi, adakah yang bisa menjamin jika ia akan setuju, jika kelak anak kami akan diberi marga dan disebut sebagai orang Batak juga? Hem... rasanya saya kurang percaya.
Dan jelas, ini akan jadi sesuatu yang justru memutus rantai keturunan dari orang Batak yang seharusnya ada. Walau saya sendiri sadar, jika populasi orang Batak cukuplah pesat. Karena kemana-mana pun kita pergi, pasti ada orang batak. Sekalipun ia hanya menjadi supir angkutan kota.
Selanjutnya, mari kita bandingkan jika kita akan menikah dengan seorang lelaki yang memang adalah Batak. Tak hanya memperpanjang garis keturunan dari marga keluarga pasangan saja, ini juga akan memperpanjang garis keturuan dari kita sebagai ibunya. Walau bagi saya sendiri, anak tak selalu jadi tujuan untuk menikah.
Sebagai pelajaran lain, sebagai sosok yang pernah beberapa kali berpacaran dengan lelaki di luar suku. Saya pikir berpacaran dengan lelaki batak memang lebih mudah untuk dijalani, tak sulit untuk menyatukan suara. Tapi, orang batak yang dulu pernah dipercaya justru membuat kecewa, Eh malah curhat haha.
Namun, pada intinya, saya yakin dan percaya setiap kita tentulah punya pandanngan yang berbeda serta punya pemahaman yang juga tak sama. Toh ini hanyalah satu pemikiran dari apa yang selama ini saya lihat dan pelajari saja. Kamu bisa percaya bisa juga tidak, semua tergantung kamu saja.
Jadi kapan saya akan menikah? eh tunggu saya mau mandi dulu
Jakarta, 11 Juni 2018
ditulis dengan Cinta




Komentar
Posting Komentar