Kehilangan 'Bapak' dan 'Uda' dalam Waktu yang Sama


Subuh tadi, selepas bermimpi bertemu bapak dalam sebuah rumah yang saya tak tahu rumah siapa. Saya mendadak terbangun, rasa haru hampir menangis karena mendadak rindu bercampur sedikit bahagia sebab bisa bertemu beliau walau dalam mimpi saja. Melangkahkan kaki ke kamar mandi, selepas itu saya tiba-tiba kepikiran untuk mengecek ponsel yang ada di bawah tempat tidur. Dan ketakutan yang tiga minggu belakangan memenuhi isi kepala, ternyata jadi kenyataan juga.

Yap, again. we lost our Uda Nengsih. 

Tak bisa berkata-kata banyak, chat dari kakak saya hanya bisa saya lihat tanpa bersuara. Hampir 3 menit bengong dan menangis, akhirnya saya bangunkan adik saya untuk memberi tahunya. Luka di hati atas kehilangan bapak tiga minggu lalu, masih membekas. Tak pernah membayangkan beliau, akan pergi, kata-kata semangat yang ia sampaikan justru berganti dengan hilangnya ia dari pandangan.

Pagi itu, saya sampai di rumah. Sialnya, senyum manis yang biasa  saya temui berganti jadi tubuh kaku tak bernyawa dari laki-laki yang sangat kucinta. Tak pernah mengeluh untuk semua perkara yang sedang dijalani, bapak adalah sosok paling perasa yang tak pernah mau berkeluh kesah. 

Sedari saya kecil, ia tak pernah sakit. Keluhan paling besar yang sering ia suarakan, hanyalah sakit kepala ringan yang biasanya akan sembuh ketika dibawah tidur. Dirawat 6 hari di Rumah Sakit, sakit yang baru ia keluhkan ini justru jadi jembatan yang akhirnya membawa ia pergi untuk selama-lamanya.

Meski Ibu saya bercerita tentang bagaimana rasa sakitnya, setiap kali bicara ia tak pernah mau menggambarkan bagaimana rasa sakitnya. Selama di Rumah Sakit, hampir setiap pagi atau malam kami bertanya kabar. Memintanya menunjukkan raut wajahnya melalui sambungan video call, tapi tubuh yang sedari dulu tetap begitu, muda dan tak terlihat tua. Mendadak terlihat ringkih dan kurus tak berdaya. Hingga akhirnya, Selasa 19 Februari lalu. Sepulang kerja dan sampai di rumah, duduk sebentar dan keluar untuk mencari makan.

Saya dan adik saya, harus buru-buru berlari ke rumah karena ternyata bapak sudah tiada. Ini adalah babak patah hati paling sakit selama 24 tahun saya hidup. Saya bahkan tak pernah membayangkan jika bapak akan meninggal secepat ini. Masih banyak hal janji yang belum saya genapi dan belum merasa jadi anak yang berbakti selama ini.

Terakhir saya memangis itu adalah beberapa minggu sebelum saya berulang tahun ke 24 tahun lalu. Tak tahu kenapa, di sela-sela kerja ada satu video di Instagram yang mendadak saya buka dan lihat. Alhasil, saya buru-buru menelpon bapak yang pada saat itu sedang berada di kolam udang untuk  memberi makan udang peliharaan beliau. Baru sempat bertanya lagi dimana dan apa kabar, tangis saya mendadak pecah tanpa bisa menjelaskan kenapa saya begitu merasa bersalah pada beliau dan ibu.

Ya, saya terbilang jarang bertanya kabar. Tak pernah bisa mengobrol dalam durasi waktu yang lama. Tapi respon bapak kala itu hanyalah tertawa, "Sudah besar kok nangis?" begitu balasnya. Sampai saya diam, beliau memang tak menunjukkan respon sedih, justru memberi saya semangat. Berkata agar semakin giat bekerja, selesaikan kuliah, dan jadilah apa yang saya suka.

Tahun 2017 lalu, ketika beliau berulang tahun. Saya menghadiahinya sebuah buku karangan Denny Siregar yang berisi tentang hal-hal menentang Ahok. Sembari bercanda saya bilang, "Nanti suatu saat bapak juga harus baca buku yang nama penulisnya adalah namaku". Dirinya tersenyum dan mengacak-ngacak rambut saya dan bilang, "Amin, semoga tercapai ya inang". Kalian tahu, menuliskan ini saya sedang menahan air mata, untuk tak lagi bersedih mengenang itu semua.

Saya tak bisa jelaskan, bagaimana hancurnya hati saya ketika melihat tubuhnya terbujur kaku dan tak lagi bisa tersenyum memeluk saya sebagaimana biasa setiap kali saya pulang ke rumah. Suatu kali, ketika beliau sedang di Jakarta, tiba-tiba ia bertanya apa yang saya lakukan untuk bekerja. Untuk kemudian saya menjelaskan, apa yang saya kerjakan, bagaimana perusahaan tempat saya bekerja bisa mendapatkan uang, hingga hal-hal lain yang mungkin baru pertama kali beliau dengar.

"Oh, jadi kamu menulis. Bisanya rupanya digaji cuma menulis ya" katanya sembari terheran-heran.
"Pak, jadi penulis juga bisa kaya loh" kata saya becanda
kemudian dibalas dengan  kalimat "Jadi apa saja yang penting baik kerjaannya, dan jangan lupa berdoa biar dikasih rejeki yang lancar terus".

Saya beritahu, dari semua anak Bapak dan Ibu. Saya barangkali jadi seseorang yang paling dominan mewarisi semua hal yang ada dalam diri beliau. Raut wajah, tinggi, panjang kaki, sampai keras kepala, dan sikap menjaga harga diri yang begitu tinggi. Sekali bilang tidak, itu berarti tidak.

Bedanya, bapak akan tetap bersikap baik kepada semua orang walau bisa jadi ia tahu orang itu pernah berbuat jahat padanya. Dan mudah lupa pada kesalahan orang. Sedangkan saya adalah pengingat sejati, apalagi untuk kesalahan orang lain yang membuat sakit hati. Saya ingat bagaimana bapak saya pernah dipojokkan di sebuah acara keluarga dari pihaknya, saya ingat beberapa sepupunya pernah memandang rendah beliau karena tak punya harta apa-apa, saya ingat bagaimana ia berjuang mati-matian membela saudara hingga berujung ke kantor polisi padahal bukan dia yang salah, dan berbagai macam hal lain yang kadang masih membekas di hati saya hingga kini.

Tapi pesan lain yang justru bapak selalu tanamkan adalah, "Tak boleh begitu inang, kita itu keluarga. Haru saling mengasihi". 

Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa beliau memang sudah hilang untuk selama-lamanya, mimpi saya tadi malam boleh jadi orang kerinduan. Namun kenyataan lain yang justru datang, adik-adik sepupu saya yang masih kecil-kecil juga harus bernasib serupa. Kehilangan bapak mereka untuk selama-lamanya.

Di hari kematian bapak, Uda nengsih memang harus masuk di bawa ke Samarinda dari Sangata untuk bisa dirawat lebih intensif. Sudah lebih 3 minggu beliau di rawat, tapi kondisinya yang tak kunjung membaik selalu jadi alarm ketakutan yang menghantui pikiran. Setiap kali kakak saya pergi mengunjunginya, kami meminta agar dia memberikan update-an perihal kondisi uda. Dan entah datang dari mana, penyakit Cancer Getah Bening tersebut akhirnya merenggut Uda Nengsih dari kami semua.

Tuhan, kenapa semuanya begitu mendadak. Saya bahkan tak pernah mendengar beliau sakit. Tubuhnya kuat dan kekar, dan tak terlihat ada penyakit mengerikan itu bersarang di tubunya. Sedari tahu Uda meninggal, saya tak lagi bisa berkata-kata. Tak juga punya kawan untuk berbagi cerita, itulah kenapa saya akhirnya menulis disini.

Beruntung tadi pagi, ada seorang ibu-ibu yang mau memeluk saya dan menenangkan saya di bus transjakarta. Karena di tengah jalan, kakak saya mengirimkan video tubuh Uda  yang sudah terkujur kaku, melihat itu saya menangis dan jelas membuat orang di samping bertanya-tanya.

"Bapak saya baru meninggal 3 minggu lalu, subuh tadi Uda saya juga dipanggil Tuhan. Saya menangis karena melihat video yang dikirimkan di grup keluarga" papar saya kepada ibu yang di samping saya.

"Kamu yang kuat ya, semua orang akan mati pada waktunya" kata beliau sembari mengusap kepala saya dan menarik kepala saya ke bahunya.

Saya tak tahu apa maksud Tuhan untuk semua pergumulan dan kehilangan yang sedang saya rasakan, satu hal yang selalu saya yakini. Bapak dan Uda saya akan ditempatkan di sebelah kanan Allah Bapa.

Selamat jalan Bapak dan Uda, kami akan merindukan kalian berdua...

With Love

Noni 








Komentar

Postingan Populer