Ketakutan-ketakutan yang Sebenarnya Tak Perlu Dipikirkan
Saya tak tahu ini normal atau tidak, yang pasti beberapa waktu belakangan. Ada banyak sekali bayang-bayang yang sering memenuhi isi kepala. Sebulan dari kepergian Bapak, saya sering bertanya-tanya arti kehidupan yang sesungguhnya. Ternyata menjadi manusia yang baik saja tak cukup untuk berumur panjang.
Padahal, umur panjang adalah upah dari Titah ke-Lima yang diperintahkan Tuhan kepada manusia melalui nabi Musa. Dan saya pikir, Bapak saya adalah salah satu sosok yang paling baik dan sangat mengasihi orang terutama kedua orang tuanya, yakni Oppung saya. Tapi, beliau justru meninggal di usia yang bagi saya masih belum cukup tua.
Bukan, saya bukan sedang mempertanyakan kebaikan dan keadilan Tuhan. Hal ini saya pikirkan semata-mata jadi pertanyaan untuk diri sendiri. Bahwa ternyata banyak hal yang harus dijalankan bersamaan. Selain menjadi manusia yang baik, kita juga perlu jadi manusia yang sadar akan kesehatan diri. Saya akui, untuk perihal menjaga kesehatan Bapak memang kurang.
Beliau ini jarang sarapan, makan dengan porsi yang selalu pas-pasan hingga merokok dan minum kopi yang tak boleh kelewatan. Tapi sialnya, beliau tak pernah mengeluh untuk segala sakit yang saya pikir sudah berlangsung lama. Seandainya pernah disuarakan, saya pikir ia masih bisa kami selamatkan dengan membawanya lebih cepat ke Rumah Sakit. Tapi, memang maut dan umur panjang tetap ada di tangan Tuhan. Awal tahun kemarin, atau sebelum sebelum bapak masuk rumah sakit. Saya diserang radang usus yang cukup membuat saya takut.
Ya, ini benar. Saking sakitnya, saya sempat berpikir jika saya akan mati. Bahkan saking tipisnya iman, saya juga kepikiran jika ini adalah perbuatan orang, karena beberapa malam saya tak pernah bisa tidur karena perut saya rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Tahu saya sakit, setiap hari Bapak menelpon untuk sekedar bertannya 'sudah makan atau belum?', atau hanya untuk mengingatkan adik saya untuk membuatkan saya jamu kunyit untuk diminum.
Selain itu, ketakutan lain yang juga sedang bersarang dalam kepala adalah perihal orang-orang yang nantinya akan berada dekat dalam hidup saya. Setelah kehilangan Bapak dan Uda Nengsih, saya takut akan kehilangan Ibu lagi. Saya takut kehilangan kakak-kakak dan para abang ipar saya, saya takut kehilangan abang lim, saya takut kehilangan Vani, saya takut kehilangan sahabat-sahabat saya, dan segala hal berharga lain yang saya miliki.
Ini menyakitkan, melepas mereka tanpa aba-aba. Sampai sekarang saya masih belum percaya jika Bapak dan Uda Nengsih sudah tiada. Kemarin, saya iseng untuk membuka file di google drive yang ternyata ada video saya dan bapak sedang bercanda. Foto selfie berdua, hingga beberapa pose lain yang masih mengisyaratkan senyum yang sumrinyah dari wajahnya. Ah, masa iya Bapak saya sungguhnya meninggal?
Selain kehilangan, gambaran akan seperti apa nanti masa depan yang saya miliki. Jadi hal lain yang juga sedang giat-giatnya jadi bahan ketakutan. Merasa jadi manusia yang gagal, kuliah saja belum bisa diselesaikan, yang juga jelas berdampak pada pekerjaan. Seriap kali melihat teman seusia yang kini terlihat nyaman dengan hidup mereka, saya mengutuki diri karena hingga kini masih mencari benang merah hidup yang saya punya.
Gambaran akan rancangan bagaimana saya di masa depan, memang sudah lama dibuat. Setiap inci dari semua angan dan mimpi, saya atur sedemikian rupa, bahkan tentang bagaimana posisi kamar pengantin saya kelak, pun masuk dalam cita-cita. Tapi, hal lain yang justru jadi penghalang adalah ketakutan-ketakutan lain yang sering datang dadakan. Tak tahu darimana dan susah dijelaskan bagaimana rasanya. Yang ada dalam pikiran dan jiwa saya hanyalah takut dan enggan untuk melangkah.
Ah, diriku semoga lebih giat lagi mengepul beranimu.



Komentar
Posting Komentar