Merasa Senang adalah Keputusan



Harusnya saat ini saya sedang berada di Kebun Raya Bogor untuk melihat pohon kapuk yang sedang gugur dan sayang untuk dilewatkan. Tapi nyatanya, ketika ini saya tuliskan, saya sedang berada di sebuah kedai makan fast-food yang kalau hari Minggu begini selalu ada acara ulang tahun anak-anak.

Ya, saya tak jadi ke Kebun Raya hari ini. Karena seorang lelaki yang sudah membuat janji sedari Minggu lalu mendadak tak ada berita. Tak tahu pergi kemana. Sebenarnya, saya bisa saja pergi sendiri tanpa ditemani. Tapi mood saya sudah keburu jelek, dan saya paling tak suka bepergian dalam keadaan yang demikian. Tak merasa butuh dikasihani, saya merubah rencana untuk pergi memesan satu gelas kopi di hangat di Coffee Shop Lain Hati, mencoba satu porsi sweet rolls di kafe vegetarian, hingga akhirnya melipir kesini demi koneksi internet yang lebih kencang.

Setiap kali ada kawan atau siapa saja yang membatalkan janji seenak udelnya, saya sering kesal bukan kepalang. Tapi untuk marah dengan bersuara lantang dihadapan mereka, atau sekedar ngomel dalam chat beruntun, rasanya juga enggan. Entah kenapa, akhir-akhir ini saya lebih banyak memilih untuk mengalah jika memang orang-orang tak bisa jadi teman yang baik. Melipir pergi sendiri kalau si pembuat janji mendadak banyak alasan. Toh, saya sendiri saya juga bisa melakoni apa saja yang saya ingini.

Bukan sedang ingin menyombongkan diri atas kemampuan, namun pada kenyataannya orang-orang yang berada di sekeliling kita memang ada masanya. Suatu waktu dia mungkin akan mengecewakan, membuat kita marah atau kecewa, tapi untuk itu semuanya. Kita tetap jadi penentunya. Urungkan niat untuk tak berekspektasi terlalu tinggi pada seseorang, karena harapan yang terlalu besar seringnya mendatangkan luka yang lebih besar.

Berbahagialah, dengan caramu sendiri. Itu sudah cukup membuat hatimu senang tanpa harus dikasihani.




Komentar

Postingan Populer