Halo, Tuhan sedang dimana?
Akhir bulan Agustus lalu, dalam perjalanan pulang ke rumah melalui kawasan GreenVille. Adik saya yang ada di belakangan boncengan motor, tiba-tiba berkata “Noy, puter balik deh. Di seberang jalan tadi ada ibu-ibu sama anaknya duduk di pinggir jalan. Gue takut, anaknya di baringin kaya orang meninggal”.
“Memangnya mau apa?” tanya saya masih kurang paham.
Tapi karena ikut penasaran aku mengiyakan perintah darinya untuk memutar haluan dan memperlambat laju motor untuk melihat ibu yang ia maksudkan.
Putaran pertama, kami berdua kemudian tahu jika ibu-ibu yang ia maksud sebenarnya adalah lelaki. Hanya saja, perawakan beliau memang seperti seorang perempuan sebab rambutnya cukup panjang. Anaknya yang kata adik saya seperti dalam keadaan meninggal, ternyata hanya dibaringkan karena sedang tidur. Di hadapan mereka ada satu botol air mineral ukuran 1500ml, satu gerobak yang saya tak tahu isinya apa, dan satu karung berwarna putih yang kemungkinan besar isinya adalah barang-barang hasil memulung.
Putaran kedua, kami masih berdiskusi menyebutkan beberapa kemungkinan yang mungkin sedang mereka berdua alami. Masih dengan rasa penasaran dan iba yang dimilikinya, adik saya kembali meminta untuk berbalik untuk memberi mereka beberapa rupiah uang. Dan sialnya, itu adalah akhir bulan, uang di dompet saya hanya tersisa beberapa rupiah dan beberapa nominal lain ada di tabungan virtual. Hal lain yang mengejutkan, adik saya sebagai si pemberi ide justru jauh lebih parah. Ia sama sekali tak menyimpan uang cash di dalam dompetnya.
“Sok ide, tapi nggak punya duit” kata saya, antara rasa bingung dan kagum atas apa yang baru ia utarakan. Kami berhenti sejenak, adik saya memeriksa isi tasnya, sedangkan saya menilik kembali ada berapa rupiah yang saya miliki.
“Cuma ada 25 ribu, masa kasih segini doang” jawab saya dengan perasaan ragu.
“Nggak apa-apa lah, yang penting ada” perempuan di belakang boncengan saya memberi jawaban yang kemudian jadi alasan untuk kami berbalik menemui mereka kembali. Uang 25 ribu itu ia berikan, dengan embel-embel beli air, karena hanya sedikit.
Rumah kontrakan kami masih jauh, di tengah perjalanan adik saya tiba-tiba bertanya lagi.
“Kira-kira, kalau orang-orang seperti mereka masih percaya Tuhan nggak ya?”
“Memangnya kenapa?” tanya saya dengan penasaran.
“Lihat aja, dia itu kerja. Susah payah nyari barang rongsokan yang bisa dijual untuk bisa makan. Tapi tempat tidur pun mereka nggak punya. Padahal dia berusaha, tapi kok rasanya Tuhan jauh dari mereka”
Saya masih diam karena sedang berusaha mencari jawaban paling tepat untuk pertanyaan yang ia ajukan. Biar bagaimana pun, sebagai kakak, saya tak ingin memberinya jawaban yang tak kian membuat pikirannya makin runyam.
“Terus, bandingin sama orang-orang yang sehari-hari nggak berbuat baik, sering bergunjing untuk berbicara buruk atas hidup orang, (lalu ia menyebut beberapa nama yang memang kebetulan kami kenal) nggak pernah ke gereja kalau dia kristen, atau jarang salat kalau dia islam. Tapi hidupnya aman-aman aja, malah berkecukupan dari segi materi dan semua hal”
Untuk kali pertama, saya merasa, bocah kecil yang dulu selalu menguntit kemana saja saya pergi itu, ternyata sudah jauh lebih dewasa. Karena sejujurnya, keresahan dan petanyaan serupa baru saya pikirkan ketika saya berusia 23 tahun, sedangkan ia baru 21 tahun sekarang.
“Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya tak memiliki jawaban, dan kalau dipaksa untuk mencari jawabannya, kadang kala kita justru makin tak mempercayai keberadaan Tuhan dan kuasanya” jawab saya dengan pelan dan berusaha sehati-hati mungkin.
Lebih lanjut, saya memberinya beberapa perumpamaan yang sebenarnya membuat kita mempertanyakan keberadaan Tuhan.
“Katanya, orang-orang baik kan selalu dalam lingungan Tuhan, tapi lu pernah kepikiran nggak sih. Berapa banyak nyawa yang kemarin hilang di Tsunami di Palu, di Banten, yang meninggal karena kecelakaan, melarat secara tiba-tiba, atau persoalan sial lain dalam hidup. Masa iya dari sekian banyak, nggak ada yang baik diantara mereka?”
“Katannya Tuhan Maha segalanya, tapi doa setiap hari yang kupanjatkan untuk memberi Bapak dan Mamak umur yang panjang, juga nggak bekerja. Buktinya Bapak meninggal, bukankah Bapak orang baik? Kalaupun beliau sakit, masa iya Tuhan nggak bisa sembuhin” jawab saya kian panjang.
“Iya sih, duh pusing deh” katanya dengan nada yang sudah menunjukkan kebingungan. Serupa dengan ekspresi tiap kali ia harus menghitung uang kembalian atau mengingat daftar belanjaaan.
“Itu baru beberapa hal, kau udah pusing kan. Itulah mengapa, ada beberapa bagian dalam hidup yang memang nggak memerlukan jawaban”
“Sejauh ini sih, aku masih percaya jika Tuhan memang maha Kuasa, dan semua yang terjadi adalah bagian dari sesuatu yang mungkin di kehendakinya. Kita ini cuma pion-pion yang harusnya mengalahkan banyak hal, kalau memang menang mungkin akan naik pangkat jadi kuda, jati banteng, naik lagi jadi menteri, jadi ratu hingga kelak jadi raja. Tergantung bagaimana sekuat mana kita berjuang untuk mengalahkan segala hal yang jadi lawan. Karena kalau berkutat pada tentang dimana keberadaan Tuhan dari kacamata orang-orang yang berkekurangan seperti kita. Rasanya, Tuhan memang gatau ada di mana"
Lalu dengan polos ia menjawab, “Noy, memangnnya kalau udah jadi ratu bisa jadi raja juga? Kan kita perempuan”
Detik itu saya kemudian sadar, jika menemani bapak bermain catur di teras rumah kala sore ternyata memberi saya pemahaman yang lebih baik daripada dirinya yang lebih sering memakai alat rias pengantin milik mamak tanpa izin.
“Itu perumpaan dodong” jawab saya setengah tertawa.
Polemik dan berbagai macam dinamika kehidupan yang kita alami setiap hari, mungkin kerap menyeret kita untuk mempertanyakan keberadaan Sang Penguasa. Saat semua usaha yang dilakukan selalu terasa gagal, hasil nihil dari harapan yang besar, hingga rasa sesal lain yang akhirnya membuat kita berpikir bahwa hidup ini ternyata tak pernah adil, dan akan kian bertambah mengenaskan tatkala kita melempar pandangan pada kehidupan orang lain yang ternyata terlihat aman tanpa tantangan.
Kemudian saya mendadak teringat, pada kondisi seorang family yang sekarang cukup membuat hati saya perih. Entah apa yang terjadi padanya, padahal sepengetahuan saya beliau adalah orang baik yang juga taat sekali pada Tuhannya. Tapi begitulah hidup, kadang kala ada saja rencana yang datang tanpa diminta. Bahkan tak memberi ruang untuk kita bisa bersiap menyambutnya dengan lapang dada.
Jadi, apa hal yang sebaiknya harus kita lakukan? Entahlah, saya sendiri masih dalam proses pencarian, yang berarti saya tak punya jawaban atas pertanyaan yang juga masih sering saya pikirkan. Berusaha menajadi manusia yang baik pada sesama dan alam, barangkali adalah sebaik-baiknya jalan untuk mencari dimana keberadaan-Nya.
Dan pada beberapa kegagalan dan kehilangan yang pernah saya rasa, secara kebetulan Ia mungkin sedang tertidur lalu abai pada doa-doa saya. Biar bagaimana pun, ia tentu lelah. Menghadapi ratusan miiliaran manusia dengan berbagai macam keinginan berbeda dari setiap kepala.
Eh, tapi apakah Beliau bisa lelah? Tak tahu, coba telpon saja!
“Halo, Tuhan sedang dimana?



Komentar
Posting Komentar