Ketika Diri Merasa Ditinggalkan
Saya sedang melow, bersedih atas banyak hal yang tak terlihat. Ingin menangis untuk sesuatu yang tak bisa dijelaskan.Namanya juga hidup, kadang naik--turun sesukanya. Tak peduli ada halte atau tidak, kita bisa saja dipaksa melompat untuk menapakkan kaki pada aspal, entah itu dimana. Persis bus antar kota yang kemarin membawaku pulang dari Pekalongan kembali ke Jakarta.
Sudah ada puluhan new tab yang terbuka di browser laptopku yang isinya hampir serupa, "Bagaimana memahami diri yang sedang bersedih". Ini akan terasa mudah, jika diri sendiri tahu, kesedihan apa yang membuatmu segitu getolnya mencari cara untuk bisa kembali tertawa. Sialnya, saya bahkan tak tahu kesedihan apa yang sedang saya rasakan.
"Apa aku gila ya?"
Pertanyaan itu sudah ratusan kali menggema di kepala, merasuk dalam pikiran, menyelusup ke dalam semua hal yang sedang saya kerjakan. Barangkali benar kata orang, memasuki usia seperempat abab. Akan ada banyak kegilaan yang mendadak kamu rasakan, dan ini mungkin salah satu kutukan yang manusia 25-tahunan akan rasakan.
Ini memang bulan terakhir saya bekerja di kantor yang sudah menopang hidup saya selama 2,5 tahun terakhir. Sedih? sudah pasti, karena tadinya ada banyak harapan yang saya gantungkan ke tempat ini. Tapi, jika harus menjadikan berhenti kerja di sini sebagai kambing hitam, rasanya tak benar. Saya bahkan tak merasa khawatir, walau faktanya perjalanan disini memang akan berakhir. Jadi, sudah pasti, kesedihan yang sedang meracuni jiwa, bukan berasal dari tempat kerja.
Setelah mencari apa yang memicu saya merasa sesedih ini, tak ada satu pun jawaban yang bisa membuat puas. Maka dari itu, berhenti untuk mencari apa yang membuat hati sedih nampaknya jadi jalan keluar yang harus segera dilakukan. Sebab beberapa hal, akan terasa lebih baik jika kita tak mencari tahu.



Komentar
Posting Komentar