Melupakan, Tak Akan Pernah Mudah
Kalau saja bukan karena perkara pekerjaan, tentu sebisa mungkin dia tak lagi ada dalam daftar panggilan. Tapi semua kawan dan teman sedang tak bisa diganggu, satu-satunya jawaban adalah meminta bantuan mantan kekasihmu. Terasa biasa, jika kalian berdua mungkin sudah ikhlas dengan perpisahan yang sama. Masalahnya, baik kamu atau dia, tahu seberapa besar rasa yang masih tersisa. Namun untuk beberapa alasan, ada hal-hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan.
Hatimu deg-degan, padahal bisa kau pastikan jika ia tak akan pernah menolak segala permintaan yang kau sampaikan. Masih sama seperti dulu, lelaki itu selalu jadi pihak yang sigap membantu. Tak ingin kembali terjerembab dalam masa lalu, kamu mengubah tempat bertemu.
"Di luar saja ya"
"Oh, yaudah", katanya dengan pelan tanpa perlawanan.
Dalam hati, kau justru buru-buru menyesal, saat telepon dimatikan. Sebab berbagai macam pertanyaan tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi tiba-tiba kau pikirkan. Bagaimana jika aku masih tak sengaja menangis menatap matanya, lalu orang-orang di sekitar tak sengaja melihat.
Berpikir jika aku dan dia adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Dia mungkin akan mengusap air mata dibawah pelupuk mataku, sebagaimana yang ia lakukann saat terakhir kali bertemu. Bagaimana jika ia justru menarik aku untuk lelap ke bahunya, kembali merasakan detak jantungnya, menghirup bau parfum yang sudah sejak lama berusaha kulupa. Atau paling sialnya lagi, ia mungkin akan mengelus tanganku, mengenggamnya lebih erat jemariku, seolah dunia akan baik-baik saja setiap kali ia melakukannya.
"Bodoh", gerutumu dalam hati, Bukankah lebih baik jika semua itu terjadi di kamarnya saja. Tak akan ada yang melihat, apa pun yang akan ia lakukan. Tak akan ada yang mengira jika kalian adalah sepasang kekasih yang bertengkar meski kamu akan menangis seharian tiap kali menatap matanya lebih dalam. Untuk kesekian kalinya, ada sesal yang kau rasa, setelah mengajukan sesuatu yang kau pikir akan membuat semuanya lebih mudah.
Masih dengan perasaan was-was yang sungguh membingungkan, kau membawa seperangkat perlengkapan kerja untuk menemuinya di kedai kopi langganan. "Bodoh", katamu lagi. Kau menyesal, karena baru saja memilih kedai kopi yang dulu sering kalian kunjungi. Belum juga membuka pintu, bayang-bayang tentang senyum khas dari Barista bertubuh gempal di kedai itu sudah keburu menghantuimu.
"Duh, sudah lama nggak ke sini mbak?", begitu kira-kira ia akan menyapamu dengan nada yang hampir sama setiap kali kalian berdua ke sana.
Degung-degung kalimat lain kini bersiap berkeliaran di telingamu. Tapi, atas nama beban kerja, semua ketakutan akan bayang-bayang itu terpaksa kau halau juga. Kau sudah berdiri di luar pagar kos-kosanmu, menunggu dengan setia ojek online yang sudah menangkap pesananmu. Masih sibuk memikirkan apa kata pertama yang akan kau dengar saat masuk ke dalam tempat janjian. Tiba-tiba, lamunanmu buyar karena ternyata perjalananmu sudah sampai tujuan.
Seolah bisa menebak apa yang sedari tadi kau takutkann, semua yang terjadi selanjutnya serupa dengan yang sudah kau duga.
"Hai mbak, duh sudah lama nggak ke sini. Mau minnum apa hari ini? kaya biasa? si Masnya mana? Masih di jalannya?", satu kalimat panjang itu, terasa jadi puluhan peluru yang entah mengapa membuatmu merasa sesak, bahkan tak berdaya untuk menjawab apa yang baru saja kau dengar.
"Iya mas, kaya biasa ya", katamu dengan pelan sambil melempar pandangan ke arah bangku kosong.
Jangan di posisi biasa, jangan di posisi biasa, berkali-kali kamu mengatakannya. Lalu entah setan apa yang menyuruh barista lain di kedai itu untuk buru-buru mempersilahkanmu duduk di tempat yang justru sedang kau hindari itu.
"Sini mbak, tempat biasa masih kosong kok! Tenang", katanya penuh kehangatan, sambil menarik kursi itu dan mempersilahkanmu duduk sebagaimana biasanya.
"Masnya masih di jalan ya mbak, tumben nggak bareng", tanyanya lagi menambah beban.
Sudah hampir setahun, kau berusaha untuk meninggalkan semua kebiasaan ini. Melupakan setiap sudut yang akan membawamu pada bayang-bayang hari-hari penuh bahagia dengan dirinya. Kau berusaha sekuat tenaga untuk tak lagi mampir ke sini, meski Choccolate Latte mereka adalah minuman paling enak di seluruh penjuru kota.
Kau berusaha untuk mulai menekuni hobi baru, menanggalkan semua hal-hal yang akan mengingatkanmu pada kenangan masa lalu. Tapi hanya karena satu pekerjaan yang sungguh harus diselesaikan. Semua upayamu rubuh dalam satu hitungan.
Ia sudah datang, duduk dengan tenang. Setelah sebelumnya melempar senyum yang sungguh sudah tak bisa kau tahan. Hatimu kembali pecah, merasa ada yang mendidih di dalam dada. Demi apapun juga, saat ini memeluknya adalah satu-satunya hal yang ingin kau lakukan dengan leluasa.
Biar orang akan menilaimu seperti apa, yang kau tahu rindumu perlu ditebus dengan dekapan hangat yang hanya terasa istimewa jika datang darinya. Kau mungkin akan merengek manja, bertanya kepadanya kenapa datang begitu lama. Membuatmu menunggu seperti seorang kesepian yang ditinggal kekasihnya.
Lalu dengan sabar ia mungkin akan menjawabmu dengan jawaban sekedarnya. Memberitahumu jalanan dari rumah kontrakannya masih saja dibenahi dan tak tahu entah kapan selesainya. Tak peduli alasannya benar atau bohong, kau akan selalu tersenyum tiap kali ia menjawabmu dengan begitu.
"Sudah lama?", kata sebuah suara tepat di depanmu. Bersamaan dengan itu, kau sadar, jika lelaki yang tadi kau sapa dari ujung telepon genggam. Bukanlah sosok yang sedari tadi kau bayangkan. Ia sudah hilang dan sudah saatnya kau melupakan.
Source : https://pinterest.com/weheartit.com



Komentar
Posting Komentar