Membela Diri dari Dua Sisi

person in brown long sleeve shirt covering face with hand

Awal bulan lalu, pada Mata Kuliah Kepemimpinan saya jadi salah satu mahasiswi yang diminta maju untuk bercerita tentang nasihat apa yang diwariskan oleh orangtua kepada saya. Tak begitu suka jadi pusat perhatian, tadinya saya berniat berceritakan apa yang sudah saya tuliskan dan buru-buru kembali duduk ke kursi saja. Tapi ternyata cerita saya menarik untuk didengar. Ada beberapa pertanyaan hingga gelak tawa dari teman-teman yang duduk, yang membuat saya kemudian percaya jika warisan nasihat dari Ibu saya ini memang baik adanya. 

Perihal isi dari cerita yang saya sampaikan, tentang bagaimana Ibu saya meminta saya untuk selalu bertanggung jawab atas apapun yang menimpa diri sendiri. Yap, kalau harus berkata jujur, sedari duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMP. Bisa dibilang saya memiliki hubungan yang 'tak baik' dengan beberapa teman lelaki.

Masih melekat di ingatan bagaimana saya dulu selalu kesal kepada Ibu, karena setiap kali saya bertengkar dengan teman lain dan datang mengadu kepada beliau. Respon pertama yang akan selalu ditanyakan adalah "yang salah siapa? kau atau dia", sikap ini sangat terasa kontras dengan ibu atau orangtua dari teman lain yang justru selalu berusaha memasang badan untuk anaknya. Entah anaknya benar atau tidak, yang penting ayah atau ibunya pasti jadi penyelamat pada anak yang mungkin mengadu. Meski hanya sekedar membelalakkan mata pada lawan sang anak atau membentak agar si anak lain takut, dan memenangkan anaknya lewat pembelaannya. 

Suatu hari, saat masih kelas 5 SD saya terlihat cekcok yang berakhir dengan cukup runyam. Seorang kawan lelaki di kelas, menarik-narik rambut saya sampai membuat saya kesal. Meski terbilang tinggi, kala itu tenaganya cukup kuat untuk saya lawan. Belum sampai menangis, saya kesal dan berniat melaporkannya kepada guru. Lari dari pertengkaran itu, saya menuju ruang guru dan melaporkan kejadian yang menimpa saya. Tapi balasan yang saya dapat justru adalah tawa-tawa tak peduli atas apa yang didengar dari mulut bocah kelas 5 SD yang tak lain adalah saya.

Masih ngotot untuk melapor dan berharap guru saya memberi si lelaki tadi pelajaran atau teguran, saya tetap berdiri di pintu ruang guru. Hingga akhirnya, putus asa dan berlari pulang ke rumah karena aduan saya hanya ditanggapi dengan "Udah sana ke kelas kamu". Guru saya tak peduli apa yang saya sampaikan, sebab obrolan yang menciptakan gelak tawa di ruangan tersebut nampaknya lebih menarik untuk dilakukan.

Karena jarak Sekolah dengan rumah saya kala itu tak terlalu jauh, saya berlari pulang dan menangis untuk mengadu pada ibu. Tapi kian kecewa dan marah karna Ibu saya kembali bertanya "Siapa yang salah? siapa yang mulai?", menarik nafas pelan-pelan saya ceritakan bagaimana duduk perkaranya hingga aduan saya yang tak didengar oleh guru hingga akhirnya saya pulang ke rumah. 
"Ini jam sekolah, kalau gurumu nggak mau dengar aduanmu. Selesaikan sendiri. Lawan kalau memang tak salah, kalau ga kuat ambil apapun yang bisa kau pakai. Siram matanya pakai pasir, pukul pakai kayu. Masalah dia luka atau nggak, urusan belakangan. Yang penting kau udah lawan kalau memang bukan kau yang memulai masalah"
Bak seorang atlet yang baru saja diberi motivasi hebat di tengah pertandingan, Emosi saya mendadak membara. Keluar rumah dan menarik satu kayu bakar yang sedang dijemur di depan rumah, berlari pulang ke sekolah dan membabi buta memukul si lelaki tadi dengan kayu yang saya bawa. Tanpa saya sadari, ternyata di belakang saya Ibu ikut membuntuti anak perempuannya ini kembali ke sekolah. Menarik lengan saya agar berhenti memukuli si lelaki tadi. Harus saya akui memang, agak mirip dengan bapak saya. Saya terbilang cukup jarang marah, meski ada sesuatu yang mungkin melukai hati saya masih bisa berdiam diri. Tapi ketika emosi sudah berhasil lepas, rasanya sulit untuk berhenti.

Sejak saat itu, tak pernah ada laki anak lelaki atau teman sebaya yang berani menganggu saja. Sebagian dari mereka pernah berkata jika saya adalah anak yang kasar karena bertengkar seperti lelaki. Sebagai seorang perempuan, tak seharusnya saya memukuli teman saya dengan cara yang brutal seperi itu. Begitu kira-kira wali kelas saya berkata saat saya akhirnya dipanggil ke ruang kepala sekolah dan diminta bercerita kenapa saya pulang ke rumah dan memukuli teman saya dengan kayu bakar.

Selepas menjelaskan semua yang terjadi, sang wali kelas masih berusaha mencuci tangan dengan berkata saya adalah anak tukang ngadu. "Masalah di sekolah harusnya laporkan kepada guru bukan kepada Ibumu", kalimat itu jadi pintu pertama yang membuat saya belajar jika orang-orang bermuka dua memang benar-benar ada. Upaya bela diri yang saya lakukan, dinilai sebagai kesalahan yang dipakai untuk melepaskan mereka dari tanggung jawab yang harusnya dijalankan.

Ketika saya  menuliskan ini, saya buru-buru sadar. Bahwa sosok yang merasa dirinya berkuasa kadang menghalalkan banyak cara agar ia tak dianggap salah demi membela dirinya. Saya tahu, memukuli orang memang bukanlah perbuatan benar, tapi berdiam diri ketika mendapat perlakuan buruk bukanlah pilihan. Nyatanya, saya dan guru saya itu sama-sama melakukan upaya yang serupa. Membela diri, dengan dua cara yang berbeda. 

Photo by : https://unsplash.com/Priscilla Du Preez

Komentar

Postingan Populer