Beberapa Fase Hati Yang Belum Sempat Terpublikasi Karna Tak Baik Jika harus terus Direalisasikan ( Part II )
Sebelum tadi aku menambahkan kata "Part II" diujung judul blog yang akan aku tuliskan ini ada rasa lucu yang tiba-tiba terasa iujung sana, haha mungkin terlihat lebay dan berlebihan siapa juga yang mau membaca blog mu ini noy ? kau pikir ini episode Cinta Fitri ? pake ada partnya ? wkwkw sudahlah lupakan kata part diatas sana mari mulai bercerita lagi. Seperti diblog dengan judul yang sama sebelumnya kali ini aku ingin bercerita tentang sosok lelaki yang pernah (ingin) mencoba masuk kerelung hati yang kemarin baru berantakan setelah kisah sebelumnya. Jika lelaki pertama kemarin yang datang adalah seseorang yang punya latar belakang suku dan agama yang berbeda denganku.
Lelaki kedua ini datang dari suku dan agama yang sama. Mungkin nanti pemaparan ini terkesan terlalu jadi ajang pencarian cinta yang meringis karna tidak berselang berapa lama lelaki ini tiba-tiba hadir dipermukaan hidup yang sedang kujalani, tapi sebelum kalian berkata seperti itu, jujur sebenarnya aku tidak terlalu berambisi untuk cepat-cepat mencari pacar lagi, toh aku juga masih menikmati semua hal dengan sendiri cuma ada beberapa hal yang sering dikatakan orang "Takdir" memaksaku untuk menjalaninya walau sebenarnya aku tak berharap untuk hadir dalam cerita ini.
Aku senang berada diantara orang-orang yang patah hati, mereka tidak banyak bicara tapi dan jujur. Ada seorang teman wanita yang baru saja ditinggal menikah oleh lelaki yang telah dipacarinya satu tahun terakhir dengan alasan lelaki itu diminta segera menikah oleh orangtuanya, sedang temanku ini belum siap untuk menikah dengan alasan masih ingin fokus kuliah dan ingin bekerja mungkin 2 atau 3 tahun lagi baru dia akan ingin menikah.
Sebenarnya alasan mereka putus kurasa sepele hanya beda pandangan, lelakinya berpendapat menikah tidak akan menjadi alasan untuk tidak bisa kuliah dan bekerja semua bisa dijalani jika kita memang melakukan semuanya dengan niat dan hati yang tulus. Sedangkan teman wanitaku ini punya pandangan yang berbeda dengan lelaki, dia bilang menikah sudah pasti akna menguras fokus pikirannya, mengurus rumah dan suaminya. lalu bagaimana dengan kuliah yang masih masuk semester 5 ?
Ahh itu akan memperburuk proses yang tadinya sudah dirancang olehnya."Tapi kalau kata gue alasan lu masuk akal kok" kataku menjawab penuturan yang sedang dipaparkannya. cerita-cerita patah hati yang kami habiskan memakan waktu hingga jam 10 malam, bercerita memang kadang membuat kita lupa waktu kataku padanya, lalu dia tersenyum aku menyarankannya untuk banyak melakukan hal-hal yang mungkin akan mengalihkan fokusnya ke kegiatan yang dilakukannya daripada hanya berdiam diri yang akan membuatnya semakin banyak merenung tentang kandasnya hubungannya dengan lelaki yang kini sudah jadi suami wanita lain itu.
Berbeda denganku dia malah menyaranku untuk lebih rajin mengunjungi Tuhan dirumahnya, karna menurutnya sebaik apapun perbuatan yang kita lakukan dalam hidup akan percuma jika kita tak pernah menunjukkan kerinduan kita pada Tuhan. kata-katanya sama seperti yang ibuku sering katakan. "Heemm Oke, besok aku mau kegereja masuk ibadah pagi dan akan duduk didepan" kataku menimpali nasehatnya. Benar saja, jam setengah 9 pagi siminggu ketiga pada bulan Mei aku kakiku sudah memasuki sebuah gereja berbau suku didaerah Jakarta barat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kos tempatku tinggal.
Ada beberapa bagian dari ibadah disini yang masih asing bagiku, karena dari kecil aku sering masuk ibadah di gereja dengan nama yang berbeda dengan Gereja yang sekarang aku masuki. Jujur aku memang bukanlah orang yang gampang tersenyum dan mampu bersikap manis apalagi dengan orang-orang yang belum kukenal untuk itu sepanjang ibadah aku hanya memandang kedepan dengan sesekali melihat kearah pianis muda didepan yang menurutku cukup apik dalam memadukan alunan untuk mengiringi lagu-lagu kebaktian yang biasanya terdengar monoton karena dinyanyikan dengan nada dasar yang pas sesuai aturan dari buku lagu yang sudah dituliskan jauh sebelum Justin bibeer jadi penyanyi (mungkin) eh kok malah ngomongin justin sih ?
Susunan ibadah selanjutnya masuk kedalam bagian pembacaan warta jemaat yang isinya biasanya akan menyampaikan beberapa informasi dari kegiatan didalam gereja, termaksud masalah keungan gereja. Nah dari warta itu aku tau ternyata pianis muda didepan yang tadi jadi pemandangan segar untuk mata ternyata bernama (Ah sebut saja namanya D) tapi sudah pasti donald trump wkwkwkw. dipenghujung acara ibadah aku seperti biasa setiap ingin masuk dan keluar gereja aku selalu berdoa, orang-orang dibarisan dengan kursi sudah mulai berhamburan keluar gedung gereja
Oh iya aku tidak jadi duduk dikursi depan seperti janjiku tadi malam kepada teman wanitaku tadi malam, aku duduk dikursi dibarisan ketiga dari belakang. Aku berdoa untuk pemulihan hati yang sedang aku upayakan, dan entah kenapa tiba-tiba aku juga berdoa jika Tuhan berkehendak ingin sekali rasanya menemukan seseorang yang spesial ditempat yang juga spesial seperti ini. Ehh aku sempat diam dalam sepersekian detik lalu buru-buru mengakhiri doaku dengan "Dalam nama Yesus aku berdoa dan mengucap syukur, Amin"
Aku berdiri dan berjalan keluar mengikuti barisan jemaat yang tengah berbaris untuk bersalam-salaman dengan orang-orang yang ambil bagian dalam pelayanan ibadah hari ini. Dengan cepat mataku tertuju kepada barisan orang-orang yang ada disana, dan ternyata D juga ada disana, lalu dengan pede dalam hati aku berkata "Tuhan semoga dia adalah jawaban dari doaku barusan" wkwkwwk benar kan ini terlalu berharap berlebihan. Aku mengikuti barisan orang-orang yang sedang menyalami barisan pelayan ibadah itu, meski melihatnya dari dekat hanya bisa kunikmati cuma hanya hitungan 6 detik, entah kenapa ada rona bahagia yang memerahkan pipi perawakan lelaki ini tak jauh beda dari mas-mas jawa yang kemarin.
Tinggi, Tidak terlalu gemuk tapi juga tak kurus, kumis tipisnya menghiasi bagian atas bibirnya tapi bentuk wajahnya tentu saja tak jauh beda dengannya, maklum kami sesuku (Ah belum apa-apa sudah ingin memirip-miripkan). Karena kebetulan aku tercacat menjadi tamu, wanita diujung barisan memintaku untuk ikut makan bersama dengan orang-orang tadi melayani ibadah, katanya itu adalah tradisi digereja ini setiap tamu yang hadir dalam ibadah wajib ikut untuk berjamu makan siang bersama, sebenarnya aku sudah menolak dengan halus namun wanita ini masih membujuk-ku untuk ikut makan bersama.
Dari tempat kami berdiri tiba-tiba D datang dari arah pintu gereja dan membantu ibu tadi untuk menjelaskan bahwa itu memang tradisi gereja mereka dan aku akan sangat tidak sopan jika aku menolak *ahh ini alibi terselubung yang paling manis yang pernah kujadikan alasan wkwwk Oh Tuhan jebakan apalagi ini kataku dalam hati ? Detik-detik makan siang didalam pantry gereja itu terasa berjalan sangat lambat, aku bingung ingin berbuat apa ? untungnya rasa makanan yang tersaji mampu mnghilangkan kebingungan yang terasa dihati. Menu makan siangnya beragam, namun mataku tertuju pada sebuah jenis sayuran yang seprtinya mengundang selera.
Saat tengah asik menyendok sayuran ke piring yang tangan kiriku pegang, ada celetukan dari samping yang menghampiriku "Lah pantesan kurus begitu kak, masa langsung ngambil sayur belum ambil nasinya" aku menoleh kesamping lalu tersenyum tipis dia menjulurkan tangan dan memperkenalkan diri, dalam hati ingin sekali kujawab jika aku sudah tau siapa namanya haaha, suara itu benar suara D pianis muda yang tadi jadi pemandangan segar didalam gereja.
Perkenalan yang manis karena terjadi ditempat yang agamis. Kami mulai ngobrol-ngalur ngidul tentang banyak hal dan ternyata ibu-nya memiliki marga yang masih serumpun dengan marga milikku, walau bukan sama intinya kami masih bisa dikatakan sama yang intinya aku dan D ternyata Marpariban wkwkwk kalau kalian yang orang batak mungkin sudah faham dengan istilah ini, marpariban berarti itu adalah hubungan antara seorang wanita dengan anak laki-laki dari adik atau kakak perempuan dari ayah si wanita *nahloh faham kan ? engga ? walah yaudah cari tau sendiri dan dalam batak marpariban itu walau sepupu dan msih sedarah kita diperbolehkan untuk menjalin hubungan atau bahkan menikah tapi aku kurang tertarik dengan adat istiadat pada bagian ini.
Ahh Toh ayah dan ibunya D juga bukanlah saudara kandung, lagipula ini terlalu jauh menurutku kan dia baru mengajakku ngobrol bukan untuk menikah. Ada satu hal yang unik yang kulihat dari D, walau dia sudah lahir dan besar di Ibukota tapi dia mampu menggunakan bahasa daerah dengan fasih tanpa kelihatan logat jakartanya. Hhmm idaman kataku mantap, selesai makan aku minta izin kepada ibu yang tadi mengjak makan karena berniat ingin pulang.
Melihatku bergegas ingin pulang D kembali menghampiriku "kak pulang kemana ?" lalu aku memberitahu alamat kos dan dia menawarkan tebengan karna katanya rumahnya dan kos-ku juga searah, tapi aku ingin terlihat terllau menggebu aku menolak ajakannya dengan halus dengan alasan masih ada janji dengan teman diluar. "Oh oke yaudah take care ya kak minggu depan ibadah disini lagi" "Oh okeee, see u" kataku sambil berlalu tapi suaranya lagi-lagi menahanku "Eh iya kak, ada nomor Wa ? siapa tau kakak lupa jalan ke sini aku bisa jemput" aku sedikit menggerutu dalam hati, kurang ajar juga ini anak masa aku gatau jalan sih ? apa karna tadi pas ngobrol aku bilang kadang-kadang malas kegereja karna jauh, atau tidak ada teman, tapi dia malah menimpali kirain gatau jalan hhmm..
Aku meminta handphone miliknya dan memasukkan nomor kontakku sendiri dan memberikannya kembali kepada D sambil berkata, aku masih 21 tahun dan sepertinya kamu lebih Tua beberapa tahun dari ku jadi panggil nama saja. dia hanya membalas dengan senyuman. 3 Hari berselang dari pertemuan itu, akhirnya D mengirimkan sebuah pesan di WA untuk janji bertemu, bersamaan dengan waktu senggangku akhirnya aku mengiyakan ajakan untuk bertemu darinya.
Kami membicarakan banyak hal dari hal-hal ringan hingga ke hal-hal yang berat (Agama dan adat) aku nyaman tiap kali bersamanya, banyak pandangan-pandangan baru tentang hidup yang aku dapat darinya, bagaimana kita harus menempatkan diri untuk pelayanan Tuhan baik digereja atau didunia kerja. Intinya D adalah lelaki hampir sempurna yang pernah ketemua, sudah pintar, cakep rajin melayani pula. Tapi ada kekhawatiran dari dalam hatiku jika meski terlihat hampir sempurna dia tetap bisa saja mengakiti hati, iya suatu saat mungkin jika dia resmi memintaku untuk menjadi pacarnya (Woi bangun woi bangun) hahaha.
Aku tau tampilan luar tak selalu menentukan kualitas dari dalam diri setiap manusia, sudah 4 bulan aku dekat dengan D sudah sering jalan bersama walau cuma sekedar menikmati wedang jahe dan sate telur puyuh dan kacang rebus di angkringan didaerah meruya. Hal lucu lain yang kusukai dari D dia ternyata sama denganku lebih suka duduk di warung kaki lima seperti angkringan ini. tapi juga tak menolak jika diajak ngopi di setarbak wkwkwkwk ini adalah kali ke lima kami ketempat angkringan ini dan ternyata benar malam ini ditutup dengan permintaan Tulus dari seorang lelaki baik-baik yang sedang duduk manis sambil melipat kaki dihadapanku sekarang.
Ternyata D juga memiliki ketertarikan denganku, "Hah?" aku coba mengulang kata-katanya barusan "Tertarik?" entah kenapa ada sedikit rasa tidak enak dari telingaku ketika mendengar ucapanya itu, mengingat dia adalh seorang yang Rajin beribadah tadinya aku berharap jika dia akan mengatakan bahwa "Aku Mengasihi" atau yang "Aku Menyanyangimu" bukan malah aku tertarik padamu walah. bahasa apa itu kataku dalam hati.
Waktu itu yang aku pikirkan adalah apa salahnya mencoba untuk menerima orang baru, walau mungkin itu terlihat tergesa-gesa tapi setidaknya D tak mungkin menyakiti hati dengan cara keji, atau tak mungkin berpisah hanya karna agama atau perbedaan suku karna jelas kami berasal dari satu suku yang sama, meski aku belum menjawab pasti ajakannya untuk meresmikan hubungan ini tapi D selalu bersikap manis memerlakukanku sebagaimana seorang pria memerlakukan pacarnya, dia sering menjemputku pulang kuliah jika kebetulan tidak sedang lembur, dan yang pasti sejak ucapannya ditempat akhringan dua bulan lalu aku sudah rutin masuk kegereja setiap minggu tentu saja bersamanya. Suatu pagi D mengirimkan satu ayat alkitab dari Kitab Kolose 3:23 yang berisi "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" kamu harus tempel itu ayat dimeja kerja ya, kata D dibawah pesannya itu.
awalnya aku senang dia memberiku ayat itu tapi entah kenapa mendadak aku berpikir jika itu juga berlaku untukku tak hanya untuk dunia kerja, tapi juga untuk ibadah rutin yang aku lakukan sejak mengenal D, mendadak aku mengingat-ingat semua hal yang aku lakukan sejak mengenal D ternyata hanya untuk mencari perhatian dari mahkluk yang juga adalah ciptaan Tuhan bukan murni untuk menyenangkan hati Tuhan. Itu titik dimana aku pernah menangis hebat semalaman, karena merasa tengah bersalah kepada Tuhan. bahkan rasa sesal ini lebih hebat dibanding rasa sesal jika aku tak masuk gereja tiap minggu.
Malamnya aku memutuskan untuk membicarakannya dengan D,aku mengiriminya pesan lewat WA memintanya untuk datang menjemputku ke kosan karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan. hanya butuh 20 menit D sudah sampai didepan kosan dan aku mengajaknya masuk dan memutuskan untuk mengobrol diruang tamu kos saja, tidak usah keluar. Aku bingung untuk memulai pembicaraan darimana, tapi mau tak mau aku tau semuanya ini harus aku bicarakan malam ini juga pada D.
Dengan keberanian penuh aku mulai bicara tentang semua hal yang sudah dua hari ini menghantui pikiranku, D tersenyum dan bilang :"Yah setidaknya kamu berani mengakuinya, dan Tuhan pasti mengerti" aku diam tak bergeming untuk beberapa saat lalu mulai memandangnya lagi "Trus kamu gimana ? " D masih tersenyum tak menjawab. aku tau dia mungkin merasa aneh dengan pengakuan ku barusan, atau mungkin mulai ilfeel denganku dan berbagai kemungkinan buruk lainnya. "Tadinya aku juga berpikir bahwa kita tidak akan cocok, karena kamu terlalu kuat untuk kujaga" aku mengernyitkan alis memandanginya dengan cepat "Maksud kamu ?" lalu D menjelaskan bahwa sebenarnya dia juga merasa ternyata tidak cock denganku, katanya aku terlalu kuat untuk dijaga, dia tau bahwa banyak hal yang sering aku lakukan dengan sendiri, dia merasa bahwa sebenarnya yang dibutuhkannya bukanlah aku.
Aku memang bukan typikal wanita yang suka meminta oranglain untuk mencampuri semua hal-hal yang ingin aku lakukan. Aku sering pergi bersama teman lelaki lain tanpa seizin dari D atau bahkan kadang tak perlu memberi tahunya, tadinya aku berpikir itu wajar toh dia baru jadi teman dekat masa aku harus mengadukan semua hal yang ini aku lakukan kepadanya ? itu jelas bukan aku ! toh mereka hanya teman bukan siapa-siapa kenapa D harus menyinggung masalah itu ? bahkan dia bilang aku sudah tidak jujur padanya ? hah dimana letak kebohonganku ? Disini aku sadar lagi-lagi lelaki yang ada dihadapanku ini ternyata memiliki pandangan yang berbeda deganku dibeberapa hal, dan jelas ini akan telah jadi pertanda buruk untuk hubunganku dan D.
Aku tau dia mulai menemukan banyak sisi negatif dari-ku, aku tau sebenarnya dia tak menyukai wanita sepertiku, hanya saja mungkin untuk sekarang dia belum berani mengungkapnya kepadaku. Tak lama dari obrolan diruang tamu kos malam itu, aku mulai merasa ada beberapa perubahan yang terjadi dari D, dia tak lagi menanyakan apakah aku sudah menghafalkan satu ayat untuk satu hari ? sudah tidak tanya apakah tadi pagi aku melihat kucing kecil yang sering menunggu dipagar kos.
Ehhmm entahlah aku sudah tak terlalu memikirkannya lagi toh jika dia memang serius tanpa kuminta sebenarnya dai akan datang kembali, Hari ini aku masuk gereja tanpa dijemput oleh D, tapi sedari tadi aku tak melihatnya ada didalam gereja, hingga ibadah selesai wajah yang sedari tadi aku cari tak juga kulihat akhirnya aku bertanya pada seorang teman pemuda gereja yang kebetulan mengenal D juga, dan ternyata sudah 2 Minggu D dipindahkan tugas ke Lampung dari kantor tempat dia bekerja. Hah ? aku terbelalak bagaimana mungkin dia tak memberi tahuku ? lalu dia anggap aku apa selama ini? sampai dikos aku langsung menelponnya, dan benar saja dia memang sudah dilampung karena dipindahkan.
Aku coba bertanya kenapa kamu tak memberi tahuku ? apa aku tak berhak untuk tau tentang ini ? Lelaki diseberang sana malah tertawa kecil dan bilang "Ah kaya gamau ketemu lagi aja. Aku ingin menanam rindu untuk kita. aku tau kita butuh ruang untuk sendiri tapi kamu harus percaya jika memang ditakdirkan Tuhan akan memberikan cara luar biasa yang akan memepertemukan kita kembali kita hanya butuh berdoa" Aku diam terenyuh dan tak sadar ada butir air yang pecah diujung pelupuk mataku. Lelaki ini memang benar-benar baik kataku dalam hati. "Tapi kan kamu akan berpikiran buruk kalau kita jauh-jauh begini, apa aku masih boleh bepergian dengan orang lain ? apa aku boleh meminta oranglain membelikan galon air ?" ini mungkin pertanyaan konyol yang harusnya tak perlu dipertanyakan dalam suasana ini, "Tentu boleh, aku percaya kamu yang harus kamu lakukan hanya menjaga kepercayaanku.
Maaf kalau aku ga ngabarin kepindahan kesini tapi aku bukan bermaksud untuk lari" aku menghela nafas sebentar dan "Hhhm oke tidak apa-apa". Sudah 3 Bulan D dilampung, sudah jarang juga ia memberi kabar ah dan ternyata kabar yang kudengar ternyata D sudah punya wanita baru entah kenapa ada rasa kecewa yang mengesakkan dada, aku ingin meminta kejelasan dari D kenapa dia harus menyembunyikan semua ini ? tapi mendadak aku ingat jika hubungan kami kemarin hanya sebatas teman yang hubungan dua orang yang mencoba mencocokan diri, bukanlah dua orang kekasih.
Aku menghapus kontak D tapi masih berteman disosial media, aku tau mungkin dia juga tak enak hati padaku tapi aku juga sadar jika kami berdua memang bukanlah orang yang cocok untuk bersanding. ini adalah titik kecewa yang tak terlalu sakit, karena aku sadar tidak seharusnya aku juga menuntutnya untuk menjelaskan, toh kami juga tak terikat dia mungkin sudah menemukan wanit baru yang dicarinya. Bagaimana denganku ? Ah sudahlah lupakan aku masih ingin menikmati Latte hangat dengan caraku sendiri.



Komentar
Posting Komentar