Bicara Nikah #1: "Tentang Menikah Muda dengan Seperangkat Bahagia dan Tetek Bengeknya"



Aku bingung mau memulai tulisan ini dari mana, karna setelah tulisan ini berhasil dipublish dan dibaca oleh orang-orang bisa kupastikan semua akan bertanya darimana kau tau ini semua ? tau kau soal pernikahan ? ah pacar aja gapunya sok-sok-an ngebahas pernikahan? wkwkwkw ini mungkin hanya beberapa pertanyaan yang akan aku terima tapi sebelum semua akan memertanyakan itu kepadaku maka izinkan aku untuk terlebih dahulu mengatakan bahwa cerita ataupun tulisan berikut yang akan aku tuliskan bukan semata-mata untuk memojokkon siapapun, bukan pula untuk tidak membenarkan kalian untuk menikah diusia yang masih tebbilang sangat muda. atau berbagai permikiran negatif lainnya yang mungkin akan kalian simpulkan tentang ini semua, terlepas dari itu semua aku hanya ingin menuliskan apa yang aku lihat dan rasakan, jika kau atau mereka masih tersinggung ya itu hakmu. 

Penomena nikah muda sepertinya sedang marak-maraknya, setidaknya itu yang kulihat dari apa yang terjadi disekelilingku. terbukti dari banyaknya kaos couple yang laris dipasaran ataupun di onlineshop dengan tulisan "Mama Muda & Papa Muda" auww wkwkwk sepertinya ini sedikit melenceng dari apa yang ingin dibahas. Satu tahun terakhir tepat diusiaku yang menginjak angka 21 tahun aku mulai banyak berpikir apa tujuan hidupku ? pernah sekali aku sedang ngalur - ngidul dengan seorang teman wanita dan bertanya padanya apa yang menjadi tujuan hidupnya, hal pertama yang dia katakan adalah Menjadi Ibu rumah tangga, lalu disusul dengan Mempunyai penghasilan sendiri tanpa mengharapkan suaminya. 

Hhmm aku sedikit merasa aneh karena hal yang pertama kali diucapkan adalah menjadi ibu rumah tangga, lalu dengan nada bercanda aku menjawabnya "Kalau lu cuma mau jadi ibu rumah tangga, tinggal kawin aja sono" dia menjawabinya dengan tertawa pula tapi lebih lanjut berkata "Lu pikir nikah ga butuh modal ?" hah benar juga ya kataku dalam hati. seketika aku teringat dengan beberapa teman yang dulu sangat dekat denganku, setelah kelulusan SMK dibeberapa tahun yang lalu dia menghilang tanpa kabar, tak ada berita sosial media miliknya juga mati tak ada aktivitas yang satu tahun kemudian dia kembali aktif di sosial media, sekaligus memeperkenal seorang bayi mungil yang lucu, Wah dia ternyata sudah menikah dan punya anak. 

Kupikir aku tak perlu menejelaskan kalian pasti tau apa yang sudah terjadi ketika dia menghilang kurang lebih 6 atau 7 bulan tiba-tiba memeberi kabar lagi dan membopong seorang bayi, jelas aku sebagai teman dekatnya pasti kaget. Wah kok bisa ? kapan dia menikahnya ? kapan dia hamilnya ? kok aku da diundang ? kok aku gatau siapa suaminya ? temanku ini memang adalah seorang yang tertutup, pernah memang suatu ketika dia bercerita tentang seorang lelaki yang saat ini dekat dengannya dimasa kami ujian terkahir di masa SMK. 

Bahkan aku belum sempat mengenali siapa lelaki yang dia maksud dan sekarang dia sudah datang dengan anak hasil hubungannya dengan lelaki itu. Ada sedikit rasa sesal dalam hatiku, kenapa dia memilih untuk menikah diusianya yang masih sangat muda,melepas masa lajang yang masih bisa dinikmati dengan bebas dan memilih mengikatkan diri dengan sorang lelaki yang kurasa baru dikenalnya dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan (sesuai pengakuannya) 

Ahh kenapa aku harus mempermasalahkan itu ? kataku dalam hati toh dia tampak bahagia-bahagianya, memamerkan foto anak kecil mungil yang bagi siapa saja yang melihatnya akan gemas ingin mencubit pipi anak itu. hari-harinya sekarang terlihat bahagia setiap hari dia membuat postingan foto tentang kegiatannya bersama anaknya dalam pose yang berbeda beda, memperlihatkan perkembangan anaknya Aww bahagianya dia kataku lagi. tapi masa-masa lucu itu tidak berlangsung lama, media sosial miliknya kembali sepi, tak ada aktivitas lagi. 

aku sebagai teman yang memang merasa dekat dengannya seakan kembali merasa kehilangan, tidak ada foto anak kecil lucu lagi ditiap pagi postingannya. tidak lama dari rasa penasaranku itu ternyata ada pesan darinya di facebook untukku yang memintaku untuk mencoba menghubunginya ke nomor telepon yang juga diberikannya. Rasa penasaran juga rindu berhasil mengarahkanku untuk segera menelponnya ke nomor telepon yang diberikannya, kami bercerita banyak hal mulai dari hilangnya dia, hingga kemunculannya kembali dengan bayi mungilnya itu. ternyata suaminya adalah benar lelaki yang dipernah diceritakannya padaku, mahasiswa Teknik informatika semester akhir dan baru diwisuda ketika anak mereka sudah berusia 2 minggu. 

Wah aku diam hanya mendengar, entah kenapa rasa ingin tahuku mendadak hilang, dan tak ingin bertanya apa-apapun namun anehnya dia seakan mengerti apa yang ada dalam hatiku meski aku tak mengeluarkan semua rasa penasaranku itu dia bercerita sendiri bagaimana mereka bertemu, bahagaimana itu semua terjadi dan bahagaimana mereka bisa menikah. diujung cerita dengan segala keberanian aku bertanya "kamu kok mau langsung nikah sih ? Trus sekarang kamu bahagia ga ?" aku sempat khawatir kalau-kalau dia marah mendengar pertanyaan yang baru saja aku lontarkan, dia diam beberapa menit dan aku mengutuki diri sendiri kenapa harus bertanya seperti itu? Tapi rasa khawatirku hilang ketika mendengar tawa pecah darinya. "suamiku lelaki yang baik non, dan penyanyang Meski banyak hal yang mungkin membuat hari-hariku rada kusam , setidaknya wajah anakku selalu berhasil membuatku bahagia non" katanya lirih. 

Mendengar jawaban itu entah kenapa aku terharu bahkan menangis, dan bersamaan dengan jawaban itu aku tau ada sesuatu yang sedang disembunyikannya tapi untuk kali itu aku mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak lagi padanya. diakhir obrolan via telpon aku mendengar beberapa kali anaknya meracau dengan suara khas anak-anak, dan berniat untuk mengirimkan beberapa hadiah yang mungkin bisa berguna untuknya. aku bertanya alamat dia tinggal saat ini lalu katanya dia memang sudha tidak tinggal dikampung lagi, sekarang dia ikut suaminya keluar kota. "Yah padahal aku mau kirim hadiah buat sikecil" kataku. "Kasih mentahnya aja aunty, hehe" katanya begurau. 

Tapi ada benarnya juga kataku, setidaknya ibu nya akan lebih tau apa yang memang benar-benar sedang dibutuhkan anaknya itu. lagipula aku tidak begitu faham dengan keperluan anak kecil, apalagi yang masih bayi. "Okee hehe gapapa, yaudah aku minta rekening kamu ya nanti mau kirim sedikit untuk beli hadiah buat sikecil" kataku menimpali "Iya non, tapi aku sekalian mau minta tolong kalau kamu ada uang boleh tambahin aku mau minjem 500 rb ada seatu yang mau aku beli nanti diawal bulan aku balikin lagi ke kamu" "Oh yaudah oke gapapa aku nanti kirim sekalian ya " kataku.. 

Percakapan itu plus jadi komunikasi terakhir kami, sejak itu satu, dua, dan tiga bulan berlalu uang segitu mungkin sangat beharga bagi anak kos sepertiku, tapi saat itu aku masih memiliki tabungan lain yang masih kepergunakan, aku mencoba mencarinya, menhubunginya lagi dan ternyata ahh dadaku sesak mendengar semua penjelasannya itu ternyata setelah 2 bulan usia anaknya, suaminya pergi keluar kota dengan alasan ingin mencari kerja dan akan membopong mereka jika sudah mendapat kerja yang lanyak untuk menghidupi keluarga kecilnya itu. 

Tapi seminggu sejak kepergian suaminya itu, dia sudah tak mendapat kabar lagi dan suaminya sudha tak bisa dihubunginya lagi. aku bisa merasakan bahagaimana dia harus menahan beban yang sudah 4 bulan ini ia jalani, menghidupi anaknya dan dirinya. kembali kerumah orang tua akan jadi hal yang sangat memalukan, dia tak ingin menambah beban orangtuanya, karena yang mereka tau menantu mereka itu adalah lelaki baik, sebelum akhinrya kini menghilang. dan 4 bulan ini juga dia meminjam ke beberapa teman untuk tetap bisa menghidupi anaknya, 

ah Aku sedih ingin sekali rasanya aku mencari lelaki itu dan memintanya untuk mempertanggung jawabkan semua yang dia perbuat. aku tak bisa bicara banyak lagi, "Uang yang kemarin kamu pinjem tidak usah dipikirkan lagi, untuk sementara kamu pulang kerumah orangtuamu saja disana kamu bisa makan tanpa meminjam-meminjam lagi" Kataku "Iya non, terimaksih ya " lalu dia mematikan telpon Ini hanya salah satu contoh resiko menikah dari beribu resiko yang mungkin saja bisa dialami oleh mereka yang kebetulan memilih menikah, kita tidak tau apa yang ditanggung mereka dibalik foto-foto bayi lucu yang mereka pamerkan. 

Bagaimana kehidupan yang suasana hati mereka saat sudah menikah ? apakah masih sebahagia ketika mereka berpacaran dulu ? tentu aku tidak tau karena aku belum menikah. Menikah lah jika kau memang sudah siap, bukan hanya karena kau ingin atau alasan lain karena sudah diminta menikah. menikah itu bukan ajang lomba untuk siapa yang lebih dulu dan siapa yang lebih lama. banyak hal yang butuh sipertimbangankan untuk kemudian berani masuk dan terjun kedunia yang akan mengikat kita dengan sesorang yang akan menjadi suami atau istri kita.

Sebagian orang mungkin akan menentang penyataan ini karena ada beberapa dari mereka menilah pernikah tidak serumit ini yang nyatanya sangatlah rumit. lelaki kemarin yang kata nya baik dan begitu penyanyang bisa saja tiba-tiba hilang dari tanggung jawab yang seharusnya jadi bebannya, siapa yang jadi korban selanjutnya ? wanita malang yang mungkin kemarin mengambil pilihan yang salah yang akan menanggung semuanya. 

Dia harus membesarkan dan menghidupi anaknya seorang diri sekarang. setidaknya hargai hidupmu dengan hal-hal yang baik, jangan terlalu cepat mengambil pilihan yang bisa saja membuatmu menyesal seumur hidupmu. Karena selain memilih menikah muda, masih banyak hal yang bisa kita lakukan dan kita nikmati hidup ini. Tulisan ini dibuat bukan untuk mempropokatori siapapun, semua yang aku tuliskan hanya hasil dari pengamatan dan yang aku rasakan. untuk keterlibatan cerita seorang teman sudah mendapat persetujuan darinya terlebih dahulu. Silahkan berkomentar sesuka hati kalian.

Komentar

Postingan Populer