Dariku untuk Diri(ku)

Foto oleh saya di Situ Gunung - Sukabumi

Siang nan sendu, mendung menyambutku...
Berjalan melalui tapak yang tak sederhana, bebatuan dan jalanan becek tak pernah jadi masalah. Masih dengan pikiran kosong atas pertambahan usia yang kian tak terasa. Bajingan, aku sudah bertambah tua saja. 

Bukan hidup namanya jika tak susah, kubalas diri sendiri untuk sekedar menghibur hati. Tahun ini tak ada ucapan pertambahan usia yang cukup berarti. Bahkan bapak dan ibu pun sepertinya lupa kalau anak perempuan yang jarang memberi kabar, sudah sah memasuki usia ke 24nya. 

Hidupmu bukan cuma bebanmu, bisik langit mencoba menghibur hati yang dirundung duka. Tahun ini, memang membutuhkan banyak topangan. Kepala yang kian tak bisa diajak kompromi untuk mencari ilham tulisan, hingga mata yang tak kunjung tertidur walau sudah larut malam. 

Jangan senang dulu, tiba-tiba dedaunan disampingku seolah berbisik merespon senyum tipis yang kutunjukkan ketika kakiku sampai pada sebuah pintu jembatan. Aku berjanji tak akan takut untuk menengok ke bawah. Walau sejatinya 150 meter adalah ketinggian yang cukup mengerikan. Masih menikmati sisa hujan dan kabut tebal yang mulai datang, seorang laki-laki datang menawarkan bantuan untuk memotret momen yang konon harus diabadikan.


Jangkrik dan burung di dalam hutan bersahut-sahutan, mereka bilang esok masih ada angin kencang dan topan. Ada pula segelintir luka serta awan tebal yang bisa mempengaruhi jarak pandang. Kuatkan pegangan dan siapkan kemampuan, bukan untuk esok yang masih jadi pertanyaan, tapi untuk semua kemungkinan yang mungkin tak bisa terelakkan. 

Tak mau berdusta, semesta pasti tahu apa yang kurasa. Sebagai manusia yang terus saja meminta, aku sering tak puas untuk segala yang ada. Segala hal kerap mengisakan tanya, seperti seorang lelaki yang pelan-pelan hilang tanpa kabar. Lupakan semua hari ini, masih banyak sedih yang perlu dicicipi esok hari. 

Perjalanan ini boleh jadi hadiah, sebab udara yang masuk dalam tubuh tak lagi tercampur oleh polusi dari kuda besi ibukota. Sendiri memang sepi, tapi setiap perjalanan selalu mengandung arti. Bukan tentang siapa yang akan menemani pergi, tapi apa saja cerita yang jadi memori. 

Aku menyesal kenapa harus memakai celana jeans dengan model yang menyebalkan, membuatku tampak lebih pendek dari tinggi yang sebenarnya. Tapi juga bahagia, karena bisa memotret beberapa orang dan memberi arahan gaya pada yang tampak susah untuk menemukan angle foto yang pas dihatinya. 

Terimakasih diri sendiri, maaf tak bisa beli hadiah yang lebih besar lagi. Cuma ada Bilangan Fu dari Ayu Utami dan What I Talk About When I Talk About Running milik Haruki Murakami. Serta perjalanan sehari ke Sukabumi seorang diri. 

Halo, usia 24 :) 

Komentar

Postingan Populer