Rasanya Jadi Perempuan yang Katanya Aneh
Tak tahu kenapa, sejak awal saya pacaran. Saya tak pernah merasa perlu (terlalu posesif) pada pasangan. Itulah kenapa, saya selalu merasa salut pada orang-orang yang bisa mengobrol dengan pacarnya lewat chat di wasap sampai seharian.
Dari pacar pertama sampai beberapa orang lain yang pernah dekat, saya selalu menghargai segala bentuk privasi. Itulah kenapa saya pernah marah sekali kepada seorang mantan pacar, tatkala saya tahu dia membuka ponsel saya untuk melihat pesan masuk di facebook. Saya marah bukan karena ada sesuatu yang saya sembunyikan, tapi ini adalah perihal bagaimana seseorang menghargai orang lain sebagai pasangan. Toh saya tak pernah melakukan hal serupa. Membuka ponsel pasangan, mengecek kotak masuk atau daftar percakapan, apalagi sampai meminta semua password akun sosial media miliknya. Oh come on guys, it’s so weird.
Bukan, bukan saya tak perduli akan sesuatu yang mungkin sedang ia sembunyikan dari saya. Tapi ini lebih kepada sebuah keperayaan. Karena ketika saya menginyakan untuk berpacaran atau menjalan hubungan yang lebih dari sekedar teman dengan seseorang. Itu artinya saya sudah percaya pada dirinya.
Selanjutnya, saya tak akan memaksa dia untuk memberi laporan setiap pagi-siang-malam-hingga ke pagi lagi. Bahkan jika ia tak mengajak saya kencan di akhir pekan, rasanya sah-sah saja. Sebab saya tahu, dunianya bukan tentang saya seorang saja. Ia punya teman, keluarga, dan pekerjaan yang juga butuh ia kerjakan dan pikirkan.
Sebaliknya, ketika saya tak bisa untuk bersamanya. Saya selalu berharap agar ia juga melakukan hal serupa, sebagaimana saya memahami dirinya ketika ia pergi bersama teman-temannya. Saya bisa merasa biasa saja, walau sedari pagi sampai malam tak ada berita darinya. Pekerjaan barangkali memaksanya untuk lupa memegang ponsel miliknya. Begitu saya selalu memperkirakan situasinya.
Berkata “Ya” untuk sesuatu yang saya suka, dan “Tidak” untuk sesuatu yang mungkin tak saya suka. Saya tidak terlalu lihai dalam memberi kode-kode, apa yang saya rasakan selalu saya sampaikan dalam bentuk utuh. Dengan harapan ia langsung tahu apa yang sama mau. Lagipula ini lebih baik, tak perlu banyak drama. Langsung ada poin utamanya saja.
Tapi tak selalu begitu, kadang kala ada masa dimana saya merasa butuh untuk ditebak maunya. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, saya mungkin bisa tiba-tiba mengajaknya menonton film sepulang kerja. Atau menikmati antrian untuk membeli dua gelas kopi sembari bercerita tentang aktivitas hari ini. Sampai, pada ajakan bertemu hanya untuk memesan satu paket spesial D di Hokben.
Sayangnya, beberapa lelaki yang pernah dekat malah mengartikan permintaan mendadak semacam ini adalah bentuk keegoisan. Padahal, saya pikir ini adalah timbal balik yang cukup setimpal. Sudah tak bertemu berbulan-bulan, saya ajak ketemuan. Harusnya ia bisa berupaya, menyisihkan waktunya sehari saja, karena berbulan-bulan sebelumnya ia hanya sibuk pada dirinya saja. Kecuali jika ada hal lain yang memang tak bisa dielakkan. Kalau kalau mau pamer sibuk, saya pikir semua orang sibuk. In hanyalah masalah prioritas dan bukan prioritas.
Sepanjang pacaran dengan beberapa orang, saya tak pernah makan dengan traktiran yang pure dari sakunya saja. Walau kalau yang mengajak makan adalah teman laki-laki yang sudah akrab, saya selalu minta ditraktir. Bukan, bukan beliau-beliau itu tak menawarkan. Bukan pula meraka tak punya cukup uang. Tapi, saya selalu merasa, hubungan yang baik adalah ketika kita bisa memberi dan menerima. Tak selalu jadi penerima, tapi juga bukan berarti selalu jadi pemberi. Take and give!
Namun, dewi keberuntungan cinta, nampaknya masih belum pernah berpihak lama atas kisah asmara saya. Karena, saya selalu merasa. Laki-laki yang dekat dengan saya, terlalu merasa nyaman. Karena saya tak sibuk memintanya menelpon atau berkirim pesan, sehingga kadang-kadang lupa kalau dia punya pacar. Atau yang lebih parah, saya pernah di cap tak serius hanya karena jarang memberinya ucapan “selamat pagi” dan membalas sapaan “yang” darinya dengan menyebutkan namanya.
Tak merasa jadi perempuan yang merepotkan, saya malah dicap Aneh oleh orang-orang. Lantas bagaimana rasanya? Sejauh ini sih sudah biasa, bahkan saya tak pernah merasa sebutan itu jadi masalah. Bukankah penilaian itu subjektif, setiap kepala punya pendapat yang berbeda. Dua -tiga orang mungkin memberi label saya "Aneh" tapi lima-enam orang lainnya, justru menganggap saya terlalu kuat untuk ditemani.
Hemm, mereka tak tahu saja. Tadi sore saya baru ikutan mewek gara-gara nonton film India :( Kuatnya dimana coba? Xoxo, oh iya buat yang penasaran. Saya nonton Film India apa, judulnya "96" coba cari dan nonton deh, kabari saya kalau kamu menangis juga, tapi kalau belum menangis kabari juga tak apa. Saya akan memberi referensi judul yang lainnya.
Sudah jam 12, mungkin 2 jam lagi saya akan tertidur :)
setelah cerita remah-remah ini saya unggah, saya masih mau menonton Series Flash season 2 :)
Jakarta, 9 Des 2018
Hemm, mereka tak tahu saja. Tadi sore saya baru ikutan mewek gara-gara nonton film India :( Kuatnya dimana coba? Xoxo, oh iya buat yang penasaran. Saya nonton Film India apa, judulnya "96" coba cari dan nonton deh, kabari saya kalau kamu menangis juga, tapi kalau belum menangis kabari juga tak apa. Saya akan memberi referensi judul yang lainnya.
Sudah jam 12, mungkin 2 jam lagi saya akan tertidur :)
setelah cerita remah-remah ini saya unggah, saya masih mau menonton Series Flash season 2 :)
Jakarta, 9 Des 2018



Komentar
Posting Komentar