Potong Rambut ~



Yes, I cut my hair short.

Hampir dua tahun bergelut untuk memutuskan apakah rambut ini akan tetap terurai panjang atau dipotong pendek saja. Dan hari ini, tiba-tiba saya yakin untuk memilih memotongnya menjadi pendek. Saya pikir, sebagian besar perempuan akan menghadapi pergumulan yang sama. Yap, memotong rambut selalu jadi perkara yang tidak mudah. Itu pula yang saya rasa, namun ketika sudah saya putuskan untuk memotongnya. Saya tak ingin mengingatnya lagi, apalagi menyesalinya. No, hair will grow!

Asyik memang, bersama rambut panjang kita bisa menatanya dengan berbagai macam tampilan. Berbagai macam cerita sudah saya lalui bersamanya. Basah kena hujan di jalan, menempel pada kancing tas ibu-ibu di transjakarta, hingga pernah tak keramas samapi 3 hari ketika sedang mendaki. Tapi bukankah satu per satu cerita dan kisah memang harusnya berakhir? Serupa dengan rambut yang mungkin sudah saatnya dipotong juga. 

Tak ada hubungannya dengan putus cinta, tidak pula sedang bersiaga untuk menyambut tahun baru dengan tampilan yang baru. Ini tak sekadar perkara rambut. Sebab bagi saya, keputusan ini saya ambil karena memang sadar bahwa ada banyak hal yang memang harus direlakan untuk hilang.

Saya bisa saja tetap membiarkannya panjang, tapi kondisinya yang bercabang membuatnya tak sehat, kering, kasar, hidup tapi tak tumbuh, terurai tapi tak bernyawa. Lalu haruskah saya tetap membiarkannya? padahal saya sendiri tahu jika ia sudah tak lagi bisa tumbuh dan hidup dengan baik. Maka, akan sangat berdosa sekali untuk tetap membiarkannya begitu. 

Kadang-kadang kita memang hanya butuh keberanian untuk memotong sesuatu yang memang harus dilepaskan. Mimpi, Pekerjaan, Teman, Pasangan, sampai ke perkara lain yang sering jadi jebakan untuk menyiksa diri sendiri lebih dalam. Melepasnya bukan berarti tak sayang, justru kita memberi kesempatan baru untuknya atau untuk kita bisa lebih berkembang. 

Setiap hari saya belajar banyak hal tentang merelakan. Mba-mba yang tiba-tiba menyerobot antrian, kursi di transjakarta untuk bapak-bapak yang lebih tua walau sebenarnya saya butuh juga, hingga memilih untuk mempersilahkan pemotor lain masuk ke depan melewati batas pemberhentian di lampu merah, karena ia memaki dan menyuruh-nyuruh saja maju lebih ke depan. 

Sekilas ini memang hanyalah perkara biasa, namun dalam hati saya selalu percaya bahwa untuk menemukan suatu perubahan, kita harus berani memulainya dengan satu tindakan nyata. Bawa semuanya dalam doa dan kelak kau kan melihat buah dari hasilnya. 


Jakarta, 15 Desember 2018






Komentar

Postingan Populer